Now I see the secret of making the best person, its grow in the air and to eat and sleep with the earth -Soe Hok Gie-
Tampilkan postingan dengan label desa rantau malam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label desa rantau malam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 November 2016

Pendakian Bukit Raya via desa Rantau Malam, Kalimantan Barat.

Bukit Raya merupakan salah satu gunung yang terletak di pulau Kalimantan, tepatnya di perbatasan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Dengan ketinggian 2.278 Mdpl, gunung ini menjadi gunung tertinggi yang berdiri di pulau Kalimantan dan menjadi salah satu gunung yang masuk dalam list The Seven Summits of Indonesia.

Sebenarnya Bukit Raya bukanlah gunung tertinggi di pulau yang dijuluki pulau seribu sungai tersebut. Ada Gunung Kinabalu yang memiliki ketinggian 4.095 Mdpl yang secara administratif berada di wilayah Sabah, Malaysia.

Gunung Bukit Raya bukan merupakan gunung berapi, bukit raya adalah salah satu jajaran pegunungan Muller Schwaner dan termasuk kawasan hutan hujan tropis.

Untuk mencapai Bukit Raya ada dua jalur yang bisa ditempuh, yaitu melalui desa Tumbang Habangoi di Kalimantan Tengah dan desa Rantau Malam di Kalimantan Barat.

Jika ingin mempersingkat waktu pendakian, lebih baik menggunakan jalur Barat namun dengan resiko jenuh tingkat tinggi karena view sepanjang perjalanan hanya hutan dengan pohon-pohon yang menjuntai tinggi. Namun jika memiliki cukup banyak waktu, ada baiknya memilih melalui desa Tumbang Habangoi karena pemandangan yang ditawarkan cukup indah.

Bukit Raya bukan termasuk gunung yang banyak difavoritkan oleh pendaki, oleh sebab itu jangan heran jika sepanjang perjalanan menelusuri gunung ini para pendaki akan jarang atau bahkan tidak akan bertemu dengan rombongan pendaki lain.

----------

Sabtu, 10 September 2016

Pada tanggal 10 September lalu, saya beserta sebelas orang lainnya yang tergabung dalam pendakian "bau minyak" ini bertolak ke kota Pontianak, Kalimantan Barat untuk menyelesaikan misi pendakian bukit raya melalui desa Rantau Malam.

Berikut merupakan peserta pendakian yang tergabung dalam pendakian yang di rancang, atau bahasa kerennya di TS-in oleh Rahel Yosephine, Laki-laki jangan panggil Mba apalagi Tante ujarnya di beberapa threat.
  1. Rahel
  2. Dery 
  3. Pam
  4. Vega
  5. Fridh
  6. Yudha
  7. Guntur
  8. Okka
  9. Neva
  10. Cyntia
  11. Aci
  12. Jean
Dengan jumlah peserta yang mencapai dua belas orang, pendakian yang bukan kemping ceria ini terasa cukup ramai. Hal yang menjadi pertimbangan mengapa pada akhirnya sharecost yang pada awalnya direncanakan hanya diikuti oleh 6 - 8 orang peserta ini menjadi 12 orang peserta adalah untuk "menekan" biaya perjalanan yang tergolong cukup mahal bagi kalangan cungprets alias kacung kamprets seperti saya.

TIPS pertama,  jika ingin melakukan perjalanan ke Bukit raya melalui desa Rantau Malam dengan biaya murah lebih baik jangan ikut OPEN TRIP dan maksimalkan kapasitas speed boat.

Salah satu hal yang membuat pendakian bukit raya ini tergolong mahal adalah sulitnya akses transportasi menuju desa Rantau Malam karena letaknya sangat terpencil.


***

Sekitar pukul 12 siang, Rahel, Saya, Frid dan Cyntia yang berangkat menggunakan maskapai yang sama tiba di bandara Supadio Pontianak. Bandara Supadio merupakan meeting point pertama bagi sepuluh orang peserta, Dua peserta lainnya yaitu Guntur dan Bang Okka menyusul menggunakan penerbangan sore.

Dengan menumpang Moda angkutan umum Damri, kami bertolak ke Pontianak kota BERSINAR (Bersih, Sehat, Indah, Aman dan Ramah). Bus Damri yang kami tumpangi mengantarkan kami ke pool Damri tempat kami memesan tiket menuju Nanga Pinoh. Di Pool Damri tersebut, para penumpang boleh beristirahat di lantai 2 dan 3, tempatnya cukup luas, terdapat kamar mandi yang cukup bersih, musholla seadanya dan kasur untuk istirahat.

Tidak jauh dari pool Damri, terdapat pasar tradisional dan beberapa minimarket sehingga untuk logistik yang kurang bisa dilengkapi disini apabila masih memiliki waktu yang panjang untuk menunggu kedatangan bus Damri.

Hanya ada dua jadwal keberangkatan Damri dari Pontianak ke Sintang atau Nanga Pinoh, yaitu pada pukul 08.00 pagi dan 19.00 setiap harinya. Jadi pastikan jangan telat, karena jam keberangkatan damri on time.

Tarif dan Jadwal Bus Damri

TIPS kedua, Pesan tiket tujuan Sintang atau Nanga Pinoh dan sebaliknya melalui telepon, karena tidak banyak bus Damri yang beroperasi ke daerah tersebut. Jika berangkat dalam rombongan besar dan tidak mendapatkan tiket, pilihannya hanya ada dua yaitu menginap dan menumpang bus yang berangkat keesokan hari atau me-rental bus/elf dengan biaya yang lebih besar.

Karena waktu yang dibutuhkan menuju desa Rantau malam cukup panjang dan waktu pendakian yang juga panjang, maka setiap orang yang berminat melakukan ekspedisi bukit raya harus pintar-pintar mengatur waktu. Terlebih para Cungprets yang liburannya berdasarkan cuti yang di ACC, iya seperti saya lagi. -______________-

TIPS ketiga, Salah satu hal yang dapat dilakukan agar waktu tidak terbuang sia-sia adalah, mengurus Simaksi jauh-jauh hari sebelum jadwal kedatangan. Pengurusan simaksi sebenarnya sangat gampang, hanya saja butuh waktu sedikit lama jika harus mengurus secara on the spot. 

Saat itu saya yang bertugas mengurus simaksi,  mendaftarkan Simaksi secara semi online dua Minggu sebelum keberangkatan. Persyaratan yang diminta hanya fotocopy KTP dan mengisi form identitas masing-masing peserta serta itinerary pendakian. Persyaratan tersebut kemudian dikirim melalui e-mail ke pengelola TNBBBR dengan alamat bukitbakabukitraya@gmail.com. Setelah itu pihak taman nasional nantinya akan mengirimkan invoice pungutan PNBP yang ditransfer ke rekening taman  nasional. 

Setelah pembayaran selesai, pihak TNBBBR akan mengirimkan SIMAKSI dan Surat Pernyataan melalui e-mail yang harus ditanda-tangani oleh ketua tim pendakian dan dikirimkan kembali ke pihak taman nasional melalui JNE/POS. Setelah SIMAKSI tersebut diterima oleh pihak TNBBBR, nantinya akan di ACC oleh pimpinan di Sintang/ Nanga Pinoh tergantung keinginan peserta. Jika ingin mengambil Simaksi di Sintang, kirimkan form tersebut ke Pengelola TN di Sintang, namun jika tidak ingin buang waktu dan uang lebih baik request untuk mengambil Simaksi di Nanga Pinoh.

Karcis Masuk Taman Nasional


Pengelola Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), baik yang di Sintang maupun Nanga Pinoh memberikan pelayanan yang menurut saya sudah berkualitas baik dan transparan. Setiap E-mail dan SMS yang saya kirimkan menanyakan tentang kondisi terkini Bukit Raya, Transportasi dan Simaksi semuanya dilayani dengan sangat baik sehingga pendakian kami berjalan lancar.

***

Tepat pukul 19.00, bus Damri Royal Class yang kami tumpangi meluncur menuju Nanga Pinoh. Perjalanan darat yang ditempuh selama kurang lebih 9 (Sembilan) jam tersebut kami lalui dengan tertidur-kurang-pulas. meskipun bus Damri yang membawa kami saat itu benar-benar nyaman. Terdapat fasilitas selimut, charger HP dan free Wifi.

----------

Minggu, 11 September 2016

Ketika pulang, rumputnya udah ga ada karena airnya sudah pasang lagi

Sekitar pukul 04.00 pagi, kami tiba di terminal bus Nanga Pinoh dan mencarter angkot untuk mengantarkan kami ke pelabuhan. Walaupun angkot tersebut carteran, bayaran tetap dihitung per orang yaitu IDR 10.000,-.

Pelabuhan Nanga Pinoh


Di pelabuhan kami bertemu dengan pak Oji, pemilik kapal yang akan mengantarkan kami ke desa tujuan. Rencananya kami akan memulai perjalanan pada pukul 07.00 tepat agar kami tidak perlu menginap di Serawai. Namun saat itu jadwal kami melebar sekitar 30 menit karena menunggu pengelola taman nasional mengantarkan tiket masuk kawasan.

Biasanya para pengunjung yang berniat mendaki gunung bukit raya, harus menginap terlebih dahulu di Serawai sehingga waktu bertambah panjang. Saat itu kami beruntung karena tidak perlu membuang waktu dan uang untuk menginap di Serawai karena keesokan harinya adalah lebaran Qurban, sehingga tidak ada angkutan yang mau mengantarkan kami ke desa Rantau Malam.

TIPS keempat : Hubungi pemilik kapal minimal satu bulan sebelum keberangkatan untuk negosiasi tarif transportasi sungai dan jika memungkinkan request untuk mengantarkan langsung ke Rantau Malam tanpa menginap di Serawai terlebih dahulu.

Setelah sarapan, kami pun bersiap-siap naik ke kapal dan berangkat menuju desa yang menjadi tujuan kami.

Credit : Jm Rares

Kapasitas kapal speed Boat adalah 7 (tujuh) orang termasuk pengemudi dan barang-barang bawaan, barang bawaan akan diikatkan di depan kapal dan sebagian di susun di bawah kursi. Saat itu kami menggunakan 2 (Dua) kapal Speed Boat. Jadi, jika ingin menekan biaya perjalanan ke Bukit Raya, sudah tau kan berapa peserta yang sebaiknya diajak?.

***
Sungai Serawai (Kapuas)
Credit : JM Rares

Setelah kurang lebih 2 (dua) jam menelusuri sungai yang di GPS tertulis sungai Kapuas, kami tiba di Nanga Uwuk. Perjalanan tersebut melalui banyak sekali drama, ada yang kapal mati di tengah-tengah sungai, overload karena ada "penumpang gelap", kapal kemasukan air dan banyak lagi. Perut keroncongan kami diisi di warung terapung yang terletak di Nanga Uwuk, menunya lumayan lezat dan didominasi gulai ikan sungai, sambal ijonya bikin nagih. Hmm, saya rindu untuk sekedar makan di warung ini.

Puas beristirahat dan mengisi "bensin" kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Serawai. Setelah sekitar 3 jam perjalanan dari Nanga Uwuk, akhirnya kami tiba di Serawai dan beristirahat sejenak di bengkel yang disampingnya juga terdapat warung makan.

Tidak terlalu lama beristirahat, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju desa Jelundung. Perjalanan menuju desa Jelundung tidak terlalu mulus, beberapa kali speed boat mengalami masalah sehingga kami harus berhenti.

Di sepanjang perjalanan tidak banyak ditemukan kapal pengangkut kayu, hanya terdapat banyak aktifitas penambangan emas secara legal maupun ilegal. Aktifitas pertambangan ini membuat air sungai menjadi berwarna sangat cokelat.

Memasuki kawasan desa Jelundung, beberapa kali Speed Boat yang kami tumpangi mengalami masalah karena debit air yang rendah sehingga baling-baling kapal beberapa kali menghantam permukaan sungai. Hal ini membuat kami harus turun dari kapal dan melalui pemukiman warga untuk menyebrang ke tempat yang debit airnya lebih tinggi tempat speed boat tanpa beban badan kami menunggu.

Setelah berjalan sebentar kami kembali menaiki Speed Boat dengan tujuan desa Jelundung untuk berganti kapal kayu/klotok. 
Diatas Kapal Klotok
Perjalanan dari desa Jelundung menuju Rantau Malam dapat ditempuh selama kurang lebih 30 menit menggunakan kapal kayu milik warga. Jika air sedang sangat surut atau kering, biasanya para pendaki akan naik ojek atau berjalan kaki dari desa Jelundung ke desa Rantau Malam.

Sesampainya di desa Rantau Malam, kami langsung menuju resort TNBBBR yang disambut hangat oleh pengelola Resort Bang Pendi dan Guide dari TNBBBR bang Toni. Setelah berbincang sebentar kami memutuskan untuk melakukan ritual adat dayak Ot Danum "Ngukuih Hajat" malam itu juga setelah bersih-bersih.

Sebagai tambahan informasi, ritual ini dilakukan dua kali pertama ketika akan memulai pendakian dan kedua ketika pendakian telah selesai.

***

Setelah selesai bersih-bersih, kami melakukan rangkaian ritual "Ngukuih Hajat" oleh bapak dan ibu kepala adat suku Dayak Ot Danum, sebelumnya kak Jean dan Bang Pendi membeli ayam yang akan digunakan untuk ritual.

Awalnya saya mengira bahwa ayam yang digunakan adalah ayam kampung, namun ternyata bukan. Hanya ayam negeri biasa dengan berat sekitar 3,6 kg yang dibanderol Rp. 60.000,-/kg nya.

Bapak kepala adat melakukan ritual memutar ayam

Upacara adat dimulai, kami diharuskan duduk menghadap ke arah Timur, arah matahari terbit. Pada awalnya bapak kepala adat, memulai ritual dengan merapalkan doa-doa dalam bahasa daerah dayak Ot Danum sambil memutar-mutarkan ayam tersebut diatas kepala kami.
Darah ayam dan gelang manik untuk Ritual

    
Setelah itu ayam tersebut disembelih oleh salah satu peserta pria yang beragama Islam di luar ruangan. Darah ayam tersebut di tampung di sebuah piring dan digunakan sebagai salah satu sarana pelengkap ritual Ngukuih Hajat.
Ibu kepala Adat mengoleskan darah ayam di kaki

Darah ayam tersebut, oleh ibu kepala adat di oleskan ke punggung kaki, lutut, dada, tengkuk dan kening kami satu persatu sembari beliau, ibu kepada adat yang murah senyum merapalkan doa-doa dalam bahasa daerah. 

Setelah prosesi mengoleskan darah ayam tersebut selesai, beliau kemudian melanjutkan ritual meletakkan beras yang sudah tercampur sedikit darah ayam di ubun-ubun kami satu persatu sambil tetap meraplalkan doa-doa yang bertujuan agar kami senantiasa dilindungi.

Ritual gigit Mandau

Setelah itu kami masih melakukan ritual gigit mandau (parang tradisional suku Dayak Ot Danum). Secara bergantian kami menggigit mandau sebanyak tiga (3) kali. Setelah prosesi tersebut, Ibu kepala adat mengikatkan gelang manik yang terbuat dari akar dan satu buah manik ke pergelangan tangan kanan kami.

Gelang Manik
Full team bersama bapak ibu ketua adat

Ritual selesai, ayam yang digunakan untuk keperluan ritual tersebut kami olah menjadi ayam goreng untuk santapan di pagi hari dan makan siang di pos satu, Hulu Menyanoi.

Di desa Rantau Malam, tidak ada yang berjualan makanan siap santap layaknya warteg, disana hanya terdapat warung biasa yang menyediakan kebutuhan pokok. Oleh sebab itu, jika akan melakukan pendakian ke Bukit Raya melalui jalur barat ini, siapkan bahan makanan untuk diolah di resort. Para pendaki dapat menggunakan fasilitas yang terdapat di resort seperti kompor gas, peralatan memasak, peralatan makan dll. 
Jangan lupa untuk dibersihkan setelah digunakan ya :)

----------


Senin, 12 September 2016

Titik Awal Pendakian, Korong HaPe

Setelah selesai sarapan, kami me-repacking perlengkapan yang akan kami bawa dan bersiap-siap menunggu ojek yang akan menjemput kami. Kami berjumlah 15 (lima belas) orang saat itu, dua belas diantaranya adalah para peserta, guide dan dua orang porter yaitu pak Yuli yang penyabar dan pak Agok yang kocak.

Tidak ada Gojek disini, apalagi Grab Bike, jangankan itu ojek pangkalan pun tidak ada. Disini hanya warga saja yang menyambi menjadi tukang ojek, itupun tidak banyak sehingga para pendaki harus sabar menunggu kedatangan kang ojek yang sudah selesai mengantarkan peserta lain. 

Trek yang dilalui adalah jalan perbukitan naik turun berupa tanah merah khas pertambangan yang apabila sedang hujan, tidak dapat dilalui oleh motor, sehingga harus dilalui dengan jalan kaki. Jarak tempuh yang dibutuhkan adalah sekitar 20 - 30 menit jika naik ojek, dan sekitar 2 jam jika berjalan kaki.

***

Tepat pukul 09.40, saya bersama Cyntia alias kakak pertama menyusul rombongan pertama yang telah lebih dahulu diantar oleh ojek ke korong HP yang berada di ketinggian 147 Mdpl. Beberapa kali Cyntia harus turun dari ojek agar tidak terjatuh. Sementara saya, duduk dengan anteng di belakang ojek yang mengantarkan saya, ketika saya utarakan keinginan saya untuk berjalan, kang ojek menjawab "Percayakan pada saya". 

Pukul 10. 07 saya dan Cyntia tiba di Korong HP, bergabung bersama teman-teman yang lain. Dinamakan korong HP karena di tempat ini masih terdapat signal beberapa provider, salah satunya Tel*****l.

Untuk mempersingkat waktu, kami terlebih dahulu memulai pendakian setelah pak Yuli, Porter sampai di Korong HP. Hal ini sudah dirundingkan sebelumnya oleh Cyntia dengan team belakang yang terdiri dari Guntur, Rahel dan Bang Dery, para Sweeper cangcorang dengkul racing.  Kami akan bertemu dengan mereka di pos pertama, Hulu Menyanoi untuk makan siang bersama.
TIPS kelima : Jika berjalan dengan team yang cukup banyak, sediakan HT sebagai alat untuk berkomunikasi dan berkoordinasi.

***

Korong HP - Hulu Menyanoi

Tepat pukul 10.45 setelah selesai berdoa, kami bergegas memasuki hutan mengikuti pak Yuli yang menjadi penunjuk jalan.

Trek Awal Pendakian

Trek diawali dengan jalan mendatar, sejenak saya berfikir asyik bonusnya banyak dan jujur saja saya sedikit meremehkan gunung ini. Namun hey, walaupun mendatar menurun sedikit menanjak gunung ini cepat sekali membuat lelah karena hutannya yang rapat, jadi tidak ada angin sepoi-sepoi yang bisa menghilangkan sedikit penat dan mengeringkan keringat. Untuk mencapai pos pertama, Hulu Menyanoi dari titik awal Korong HP, kami membutuhkan waktu sekitar satu jam empat pulih lima menit  (1 : 45) dan saya sudah menghabiskan 1,5 Liter air. Warbiyasakkkkk.
Pacet level satu

Pos Satu, Sungai Menyanoi
Sekitar pukul 12.45 kami tiba di pos 1 Hulu Menyanoi dan segera melakukan cek body, disini pacet level satu sudah menyambut kami. Di pos ini terdapat satu bale-bale terbuat dari kayu yang bisa digunakan untuk beristirahat. Di sini juga terdapat sebuah sungai dengan air yang cukup jernih dengan debit air yang cukup besar, jika turun sedikit ke arah air terjun anda akan melihat pemandangan yang mevvah. Pos satu dapat menampung sekitar 2 tenda berukuran besar (kapasitas 6 orang), dan mampu menampung sekitar 5 tenda ukuran kecil (kapasitas 2 orang).

Sungai Menyanoi
Setelah team sweeper tiba di Hulu Menyanoi kami bersiap-siap untuk makan siang dengan menu mie tumis dan Ayam goreng yang pada malam harinya digunakan untuk upacara Ngukuih Hajat.
Gambar ini menunjukkan, betapa garangnya Cyntia jika sedang lapar


Hulu Menyanoi - Sungai Mangan

Melewati Sungai Menyanoi


Setelah makan dan beristirahat, pada pukul 14.15 kami kembali melanjutkan perjalanan menuju pos selanjutnya, Sungai Mangan. Dinamakan sungai Mangan, karena di pos ini terdapat sebuah sungai dengan air yang berwarna merah. Berdasarkan penuturan pak Yuli, dalam bahasa daerah setempat Mangan berarti merah.

Pos Dua berdiri di ketinggian 668 Mdpl, biasanya disebut dengan Sungai Mangan tidak berjarak jauh dari pos sebelumnya. Cukup berjalan sekitar 30 - 45 menit, maka akan tiba di pos ini. Treknya tidak terlalu berbeda dengan trek sebelumnya, namun banyak sekali vegetasi jamur yang berkoloni dari yang berukuran kecil hingga besar ditemukan di sepanjang jalur ini.

Lokasi ini cukup luas dan bisa menampung sekitar 3 tenda ukuran besar, namun sumber air tidak ada. Hanya sungai kecil dengan air berwarna merah, sehingga kami tidak merencanakan untuk membuka lahan camp di sini. *rasanya di awal pendakian, kami belum berani mencicipi air dengan warna merah ini :D


Cek Body di pos Sungai Mangan


Pada awalnya, porter dan guide menyarankan untuk membuka lahan camp di pos ini karena dari sungai mangan ke pos selanjutnya, Hulu Rabang memiliki jarak tempuh yang cukup jauh. Namun kami bersikeras untuk melanjutkan perjalanan.

Sungai Mangan - Hulu Rabang

Setelah beristirahat sebentar, kami melanjutkan perjalanan kembali menuju Hulu Rabang yang ternyata jauh dengan trek mendatar naik turun seperti ninja hatori. Keadaan hutan semakin rapat dan banyak ditemui pohon tumbang di sepanjang perjalanan. Disini juga terdapat tanjakan tertunda yang cukup curam (Read : Turunan).

Perjalanan panjang naik dan turun tersebut cukup menguras fisik kami. Jalur yang panjang, naik dan turun bukit, udara yang hanya sedikit membuat engap, tanaman perdu berduri yang seringkali menggores lengan serta vampir-vampir kecil haus darah yang harus kami singkirkan dari sepatu dan celana kami. Sangat menguras tenaga dan menguji kesabaran bukan?

Pacet



Pacet merupakan salah satu makhluk tuhan yang membuat kami ingin bergerak dengan cepat. Berjalan sedikit lambat, maka para vampir-vampir kecil haus darah ini akan mulai berjoget uged-uged lucu di sepatu mu hingga akhirnya menembus gaiter, kaos kaki kemudian legging dan menghisapmu darah hingga kenyang. Namun, ada juga satu titik dimana kamu mulai jenuh dengan pacet, hingga akhirnya pasrah dan membiarkan dia berpesta di kakimu.

Salah satu porter, yaitu pak Agok pernah berkata ; "selama hidup saya, belum pernah saya dengar kabar ada orang mati digigit pacet". Padahal dia juga sibuk bunuh-bunuh pacet :D

TIPS Keenam : Jangan gunakan GAITER karena akan menjadi tempat pacet bersarang. Jangan lupa oleskan minyak - minyakan di tubuhmu terutama kaki (Minyak kayu putih, minyak sereh, minyak zaitun dll), niscaya baumu akan seperti nenek-nenek masuk angin namun pacet tetap akan tertarik padamu. Namun setidaknya, biarkan mereka para vampire berjuang lebih dahulu untuk mencicipi beberapa cc darah kotor.
Berbagai cara sudah saya lakukan agar pacet tidak mengganggu perjalanan saya, seperti memasukkan tembakau di sepatu, mengoleskan autan di kulit, menyemprot air garam ke pacet dan sepatu serta menggunakan minyak-minyakan. Semluruh usaha tersebut, bukan membantu menghindari pacet tetapi sangat manjur  membuat pacet tidak menggigit dan menghisap darah.

Karena terlalu sibuk dengan pacet, saya lupa jika tangan dan wajah saya akan di jadikan sasaran oleh serangga lainnya. Ada serangga kecil, terbang kesana kemari dengan gigitan yang membuat gatal dan meninggalkan bekas yang banyak. Hingga hari ini, bekas gigitan nyamuk (sebut saja dia nyamuk) bukit raya tersebut masih membekas di kulit saya, karena hal ini saya dipanggil Koreng.
***

Setelah dihajar oleh berbagai rintangan tersebut, akhirnya pada pukul 19.05 kami tiba di tujuan yakni pos Hulu Rabang yang berdiri di ketinggian 704 Mdpl  dengan total perjalanan kurang lebih 3,5 jam. Gila, kami hanya naik setinggi 36 Mdpl setelah berjalan selama 3, 5 jam.
Setelah selesai istirahat, kami mendirikan tenda dan memasak. Pacet sudah lebih merajalela, bukan hanya memasuki celana namun juga sudah naik ke bagian tubuh lain, hmmm,,, dada dan leher misalnya.

Pos Hulu Rabang merupakan pos yang paling ideal digunakan sebagai lahan camp. Disini terdapat aliran sungai yang cukup besar, jernih, terdapat banyak ikan kecil, udang, serta kepiting. Bahkan menurut orang - orang yang sudah lebih dahulu kesini, di sungai ini terdapat banyak ikan lele. Pada siang hari sungai ini akan memancarkan pendar cahaya karena pasirnya yang mengandung emas, emas kodok kata pak Yuli saat itu.
Pos Hulu Rabang dapat menampung sedikitnya 4 tenda ukuran besar (kapaitas 6 orang), Selain itu di pos ini juga bisa membersihkan badan namun tetap jangan gunakan sabun dan bahan kimia lainnya di dalam aliran air  karena dapat merusak ekosistem.

Seperti ini tempat tidur para Guide dan Porter (foto di pos Linang)
Sebagai informasi tambahan, porter dan guide biasanya tidak tidur di tenda.  Mereka akan membangun tempat tidur sendiri menggunakan kayu dan karung, seperti tandu dan bergelantung seperti hammock.

TIPS Ketujuh. Gunung ini cukup panas, jadi tidak perlu menggunakan Sleeping Bag karena akan membuat gerah. Namun jangan lupa bawa kain atau sarung untuk menutupi tubuh.

----------
Selasa, 13 September 2016

sekitar pukul 09.00 pagi, setelah selesai beres-beres dan sarapan kami memulai perjalanan menuju pos selanjutnya, Hulu Jelundung. Target kami adalah membuka lahan camp di Sowa Tahotong.

Hulu Rabang - Hulu Jelundung

Trek awal menuju Hulu Jelundung

Perjalanan dimulai dengan melalui sebuah tanjakan, kemudian melalui trek datar dilanjutkan menuruni sebuah turunan. Keadaan hutan masih sangat rapat, dan pacet lebih aduhai.

TIPS Kedelapan : Gunakan pakaian lengan panjang atau manset tangan untuk menghindari pacet berpesta pora di tangan , dan juga untuk menghindari duri-duri tumbuhan. Pada saat pendakain saya mengenakan baju lengan pendek, alhasil tangan saya banyak dibaret duri.

Sekitar pukul 12.00 , yakni setelah 3 jam perjalanan kami tiba di pos Hulu Jelundung. Tidak jauh dari pos ini, terdapat satu sumber air yang merupakan salah satu hulu dari sungai Jelundung. Pos ini mampu menampung 2 (dua) tenda, namun lokasi nya kurang nyaman karena agak menurun.
Di pos ini kami hanya beristirahat dan makan siang sambil membunuh para vampire cilik yang sudah melewati batasannya, mulai merangkak masuk ke selangkangan Vega dan Guntur.

Pacet mulai kurang ajar


Hulu Jelundung - Linang

Perjalanan kami lanjutkan kembali setelah selesai makan siang dan berbenah, trek menuju pos Linang berupa jalan setapak kemudian disusul dengan tanjakan curam dan kembali melalui jalanan setapak.

Pacet

Menuju Linang, pacet lebih banyak dan mulai berkoloni. Keberingasan pacet-pacet cilik ini membuat saya dan Aci yang merasa lelah dengan pacet bergerak cepat, bahkan berlari hingga mendahului porter.

Kaki Aci si Ratu Pacet

Menuju pos Linang, terdapat bale-bale kayu yang dapat digunakan untuk beristirahat, disini kami beristirahat dan menunggu teman-teman lainnya sambil membersihkan Mail (Read : Pacet) *Mail adalah sebutan bagi para Ncet yang diberikan oleh Aci.

Bersih-bersih Pacet

Pacet lagi di antara gelang-gelang Aci

Setelah berjalan sekitar 3 (tiga) jam kami tiba di pos Linang. Menurut bang Pendi, Guide dari TNBBBR dinamakan pos linang karena treknya menanjak sangat curam sehingga membuat berlinangan air mata. HA...HA..HA..

Pos Linang, dapat menampung dua tenda berukuran besar (kapasitas 6 orang) dan satu tenda kecil (kapasitas 2-3 orang). Tidak jauh dari pos ini terdapat sumber air, sekitar 30 menit perjalanan.

Dua malam kami beristirahat di pos Linang, sebelum dan setelah summit.

----------

Rabu, 14 September 2016

Linang - Sowa Badak

Pada awalnya, kami berencana untuk membuka lahan camp di pos Sowa Badak namun karena pertimbangan fisik sudah mulai lelah, kami memilih untuk mendirikan tenda di Linang. Selain itu lahan camp di linang ini juga termasuk ideal untuk mendirikan tenda.
Pos Linang


Perjalanan kami mulai pukul 09.00, di pendakian ini kami konsisten memulai perjalanan pukul 09.00 sedikit mangkir dari rundown yang sudah kami susun sebelumnya.

Sekarang saya faham, kenapa dikatakan pos Linang, Karena memang benar perjalanan awal dimulai dengan melalui tanjakan curam yang membuat berlinang keringat, bukan air mata. Ncet dan koloninya, semakin beringas. Dimulai dari pacet kecil level satu, disusul pacet hitam panjang level dua dan akhirnya pacet terganas yang bisa membuat demam, pacet Loreng berada di level tertinggi, level tiga. Beruntungnya, menurut bang Pendi saat itu pacet tidak terlalu banyak.

Pacet (lagi)

Setelah melalui tanjakan curam tersebut, kita akan melalui jalanan setapak mendatar naik dan turun seperti sebelumnya. Trek yang begitu lagi begitu lagi tanpa pemandangan membuat pendakian ini terasa sangat jenuh dan menyebalkan.

Setelah berjalan sekitar satu jam,  kami tiba di pos Sowa Badak. Tempat ini sangat tidak cocok dijadikan lahan camp.

Sowa Badak - Sowa Tahotong

Perjalanan antar pos terpendek dipegang oleh Sowa Badak - Sowa Tahotong, hanya butuh perjalanan sekitar 3 - 5 menit saja.

Hutan sudah mulai terbuka di sekitar sini, sehingga kami tidak diganggu lagi oleh para Ncet kecuali kak Jean, dia membawa Ncet di Gaiternya hingga puncak.

Sowa Tahotong mampu menampung 2-3 tenda namun tidak terlalu datar sehingga memang lebih baik mendirikan tenda di Linang. Disini juga terdapat genangan air, jika kita berjalan sedikit melipir ke sebelah kiri. Tidak jauh dari genangan air tersebut, terdapat tugu perbatasan Kalimantan Barat - Kalimantan Tengah.

Disini drama yang mengharuskan kami meminum air kuning dimulai, Pak Agok membuang air yang dibawa untuk diminum diatas puncak Kakam.

Sowa Tahotong - Puncak Kakam


Perjalanan menuju puncak merupakan perjalanan yang tidak membosankan. Jalur pendakian akan terus menanjak naik, tanpa bonus. Pohon-pohon yang dihinggapi lumut dari tipis hingga tebal ada disini. Banyak lumut halus seperti karpet yang dilalui sehingga membuat perjalanan lebih menyenangkan.

Biksu Tong (kak Jean) beristirahat karena Siluman kuda sudah meninggalkannya

Kakak Pertama, di samping tebing yang banyak lumutnya

Setelah melipir melewati sisi tebing, trek kembali menanjak curam. Kita harus pintar memilih pegangan untuk memanjat, karena banyak sekali akar maupun batang kayu yang rapuh sehingga apabila salah mencari pegangan, blassss... jatuh.


Adik Wuching sedang memanjat

Kakak Pertama memanjat
Hutan lumut di sepanjang perjalanan menuju puncak sangat indah, seperti berada di suatu negeri antah berantah. Hutan lumutnya, mirip dengan hutan yang ada di film Lord Of The Rings, saya lupa edisi yang mana. Namun, jangan terlena oleh keindahan hutan lumut karena jalur ini menyesatkan. Pada saat team kami melakukan perjalanan kesana, ada pita-pita orange yang dililitkan di batang pohon, pita-pita ini adalah marker penunjuk arah menuju puncak. Selain itu, bapak porter kami juga membuat marker dengan menebas beberapa tumbuhan untuk memudahan kami mencari jalur yang benar.

Credit : Cintia

kakak kedua lelah memanjat
Bang Tony (Guide) dan Bang Dery (sepuh pegunungan)

Di sepanjang perjalanan menuju puncak, banyak sekali vegetasi unik yang akan kita temui. Tumbuhan lumut yang seperti karpet, Jamur, Bunga dan yang paling istimewa menurut saya adalah tumbuhan karnivora, kantong semar. Naphentes atau kantong semar, merupakan tanaman yang sudah mulai langka keberadaannya. Namun di Bukit Raya, tumbuhan ini masih banyak dari yang ukuran imut-imut hingga ukuran besar.

Lumut



Keberadaan tumbuhan ini di sepanjang jalur menuju puncak, merupakan surga tersendiri bagi saya yang gampang haus. Naphentes yang berisi air hadir bagaikan oase di padang pasir. Tidak perduli dengan jentik-jentik dan enzim penghancur serangga yang ada di dalamnya, saya tetap meminum air dengan rasa sedikit asam ini dengan nikmat. Naphentes yang memberi saya minum adalah jenis Naphentes Ephippiata.
Naphentes Ephippiata

TIPS Kesembilan : Bawa air cukup banyak ketika summit, jika tidak ingin meneguk air yang ada di dalam kantong semar. Karena sebenarnya air yang berada di dalam kantong semar, tidak layak di konsumsi.

Menurut beberapa catatan yang saya baca, penduduk lokal biasanya menjadikan tumbuhan ini sebagai media untuk menanak nasi saking besarnya.

***

Perjalanan dari Sowa Tahotong hingga puncak membutuhkan waktu sekitar 4 jam, perjalanan yang sangat melelahkan, namun untungnya tidak ada lagi serangan dari para pacet.

Full team -pak Yuli

Akhirnya setelah perjalanan yang panjang tersebut, kami tiba di puncak Kakam, yang berdiri di ketinggian 2.228 Mdpl rasa 3.800 Mdpl yang secara administratif berada di provinsi Kalimantan Tengah. Puncak kakam merupakan sebuah dataran yang tidak cukup luas, namun mampu menampung sekitar 2-3 tenda ukuran kecil. Disini terdapat beberapa tempat pemujaan yang dibuat oleh masyarakat.


Di puncak Kakam, terdapat genangan air berwarna kuning yang kami jadikan sebagai minuman dan bahan untuk memasak Sup Jagung oleh bang Dery. 
Air berwarna kuning tersebut sebelumnya di saring oleh Cyntia menggunakan Sawyer, sehingga sedikit lebih aman untuk dikonsumsi. 

Jangan bilang sudah ke Bukit Raya, kalo belum minum air kuning yak :D

TIPS Kesepuluh : Bawa Sawyer untuk menyaring air, Karena menurut Cintia beberapa adik tingkatnya yang melakukan pendakian ke Bukit Raya dan meminum secara langsung air genangan ini, terekena penyakit Typus.

Setelah puas mengabadikan beberapa momen melalui foto, kami bergegas turun karena kabut sudah mulai turun membawa rintik-rintik air hujan. 
Finally, yeayyyy

Kami kembali ke pos Linang untuk tidur dan beristirahat, dan berencana melakukan perjalanan turun keesokan paginya.

***
----------

Kamis, 15 September 2016

Ber-pose di Linang sebelum Turun, sayang tanjakan berlinangan air matanya tidak terlihat

Kami melanjutkan perjalanan menuju pos pertama, Hulu Menyanoi untuk berkemah satu malam lagi. Perjalanan pergi dan perjalanan pulang, sama-sama menguras banyak tenaga dan terasa masih sangat menyebalkan.

Perjalanan turun, dari Linang - Hulu Menyanoi membutuhkan waktu sekitar 10 (sepuluh) jam perjalanan dengan catatan pasrah dan membiarkan Mail bermain sepuasnya di sepatu.
----------

Jum'at, 16 September 2016
 
Kami kembali pulang menuju korong HP, untuk kembali ke peradaban. Wajah-wajah di frame foto ini menunjukkan betapa bahagianya kami akhirnya terbebas dari hutan, dan pacet of course.
 
Wajah-wajah bahagia kembali ke Korong HP


Cintia ingin jadi The Next porter di Bukit Raya
Malamnya, kami melakukan ritual Ngukuih Hajat kembali, sebagai ucapan syukur atas keberhasilan kami dan keadaan kami yang pulang dalam kondisi baik-baik saja. Ritual yang dilakukan sama dengan ritual yang sebelumnya kami lakukan sebelum memulai pendakian. 

----------

Sabtu, 17 September 2016

Menyusuri sungai Serawai

Pulang dan bertolak menuju desa Serawai menggunakan kapal Klotok milik bang Tony dan warga. Tiba di Desa Serawai, setelah makan kami melanjutkan perjalanan menuju Nanga Pinoh menggunakan Speed Boat.

***
End
















Search

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter