Now I see the secret of making the best person, its grow in the air and to eat and sleep with the earth -Soe Hok Gie-

Kamis, 21 Juli 2016

Posted by nevayana surbakti in , , | 03.11 16 comments

Pendakian Gunung Latimojong Sulawesi Selatan
Lautan awan di puncak Rante Mario
Gunung Latimojong merupakan gunung tertinggi di Pulau Sulawesi dan merupakan gunung kelima tertinggi di Indonesia. Gunung ini sebenarnya adalah deretan dari beberapa gunung dan beberapa puncak yang membentang dari Selatan ke Utara. Puncak tertinggi bernama Rante Mario yang berada di ketinggian 3.478 Mdpl dan disusul oleh puncak Nenemori di ketinggian 3.397 Mdpl dan masih ada beberapa puncak lagi.

Gunung Latimojong bukan merupakan gunung berapi dan berada cukup jauh dari jantung kota Makassar, namun walau begitu gunung ini merupakan salah satu gunung yang difavoritkan oleh para pendaki terlebih oleh mereka yang memiliki target merampungkan The seven summits of Indonesia. Yup, gunung Latimojong merupakan satu dari tujuh gunung yang masuk dalam list seven summits of Indonesia.

*The Seven summits of Indonesia merupakan gunung dengan puncak-puncak tertinggi yang berada di 7 kepulauan utama Indonesia.


***

Berawal dari kegalauan karena gagal berkunjung ke Bukit Raya di pedalaman Kalimantan sana, akhirnya saya dan beberapa teman yang juga gagal menginjakkan kaki di bumi sakti alam Kerinci memutuskan untuk bergabung dan belok ke bumi Massenrempulu, kabupaten Enrekang nun jauh di provinsi Sulawesi Selatan.

Peserta pendakian gunung Latimojong Sulawesi Selatan kali ini berjumlah tujuh orang, Enam diantaranya berangkat dari kota Jakarta dan salah seorang lagi berangkat dari Surabaya. Saya bersama Ridwan, Mba Tari, Siswantoro dan Guntur berangkat dari ibukota menggunakan maskapai yang sama, Singa merah yang saya selalu banggakan rekor Delay nya. Sementara Mba Erika menyusul menggunakan penerbangan burung biru tengah malamnya. Sementara TS kita kali ini berangkat dari kota Almond Cryspi, sebut saja namanya Rahel yang hampir seluruh isi blog saya tersemat namanya.


Sebagai informasi ini adalah pendakian kedua Rahel ke Latimojong, pada awalnya dia menolak untuk kembali namun karena alasan lain akhirnya dia bersedia kembali ke Rante Mario. Karena itulah, segala sesuatu mengenai pendakian ini kami percayakan padanya


***
Selasa, 03 May 2016

Sekitar pukul 04.00 Wita, tim kami sudah lengkap berkumpul tergeletak di bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar. Rahel alias Kikih Parel, yang merupakan TS di pendakian ini memberi komando untuk turun dan mencari taksi yang akan mengantarkan kami ke terminal daya. Rombongan kami menggunkan dua buah taksi yang masing-masing taksi dibandrol sebesar Rp. 100.000,-. Perjalanan dari bandara ke terminal daya hanya membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit. Sesampainya di terminal daya, kami diturunkan tepat dipinggir jalan tempat mobil panther tujuan desa Baraka ngetem.

Ongkos yang harus dikeluarkan dari terminal Daya menuju desa Baraka adalah Rp. 100.000,- per orang. 

Penghuni seat  belakang

Perjalanan dari Makassar menuju Baraka merupakan perjalanan yang cukup panjang, butuh waktu sekitar 7-8 jam untuk sampai ke desa ini. Matahari yang begitu terik membuat keadaan di dalam mobil yang kami tumpangi semakin membosankan. 
Perjalanan yang sedikit membosankan itu semakin membuat kesal saat panther yang kami tumpangi menurunkan kami di kabupaten Sidrap untuk berganti mobil lain karena sang supir sebenarnya tidak tahu akses menuju Baraka, Damn Shit!!!!!.

Pemandangan di perjalanan munuju Baraka

Setelah berganti mobil, kami kembali menelusuri jalan berkelok naik dan turun. Untunglah pemandangan disekitar jalan yang kami lalui terlihat sangat indah dan menyegarkan, sehingga perjalanan yang terasa melelahkan dan bau jigong itu dapat kami lalui dengan gembira.

----

Sekitar pukul 11.23 siang, kami tiba di desa Baraka dan langsung menuju sekretariat KPA Lembayung yang terletak di belakang lsebuah SD, untuk istirahat menghilangkan penat dan melapor. Sekret ini sebenarnya adalah rumah yang ditinggali oleh pak Dadang beserta keluarga, namun rumah panggung ini juga dijadikan sebagai tempat berkumpulnya para pendaki yang akan naik atau yang telah turun  dari gunung Latimojong. Pak Dadang adalah salah satu pendiri KPA.


God, Me and Nature || Pendakian Gunung Latimojong
Sekretarian KPA Lembayung
Credit Picture : Guntur. S
Di sekretariat ini para pengunjung dijamu layaknya keluarga oleh sang empunya rumah, di pagi hari disediakan kopi khas toraja dan teh yang sudah diseduh beserta kue-kue basah sebagai camilan. Tidak ada peraturan tertulis untuk "membayar" jasa pak Dadang dan keluarga besar KPA Lembayung disini, semuanya dikembalikan ke pengunjung. Jika ingin memberikan sumbangan sukarela untuk pembangunan dan "logistik", terdapat box tempat memasukkan sedikit rezeki di beranda rumah.

Prosedur yang dibutuhkan untuk mengunjungi gunung Latimojong selain melapor di KPA Lembayung juga harus melapor ke polsek Baraka, Namun pada saat itu rombongan kami tidak melapor karena terjadi sedikit miskomunikasi.

Setelah beristirahat seadanya, tim kami berkunjung ke pasar menuju warung coto makassar yang kata Rahel enak, namun menurut saya dan Ridwan itu adalah makanan dengan rasa aneh. Menurut Siswantoro dan Guntur, Coto Makassar disana rasanya juga sedikit aneh namun tetap saja, walau begitu mereka makan dengan lahap dan nambah berkali-kali.


***

Rabu, 4 May 2016

God, Me and Nature || Pendakian Gunung Latimojong
Cekrek sebelum berangkat di depan KPA Lembayung
Ridwan, Neva, Tari, Erika, Siswantoro

Setelah istirahat semalaman dan membereskan peralatan yang akan kami bawa beserta tetek bengeknya, kami bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke dusun Karangan menggunakan Jeep yang sudah dipesan Rahel sebelumnya. Pukul 08.05 WITA Jeep yang kami tumpangi melaju meninggalkan KPA. Sebelum berangkat menuju Karangan, kami berhenti dahulu tidak jauh dari warung untuk membeli nasi dan pastel. *Yang bersedia turun dari Jeep tentu saja seorang Rahel :P

Biaya yang dibutuhkan untuk menyewa Jeep PP Baraka - Karangan - Baraka adalah IDR. 1.800K. Biaya ini sebenarnya masih bisa ditekan dengan menumpang truk pasar tujuan dusun Karangan (Jangan naik tujuan Rantelemo karena harus berjalan sejauh 2 KM lagi ke dusun Karangan) yang terdapat di pasar, namun hanya tersedia di hari Senin dan Kamis.

God, Me and Nature || Pendakian Gunung Latimojong
Jeep yang kami tumpangi menuju dusun Karangan

Bapak Supir yang mengantarkan kami menuju Dusun Karangan

Menuju desa Karangan, kami ditemani oleh seorang porter warga asli Baraka bernama Acing. Fee untuk porter adalah Idr 250 per hari, Sebenarnya menggunakan jasa porter dan guide tidak wajib.

Jalur menuju Dusun Karangan
Credit Pict : Guntur. S

Perjalanan menuju Dusun Karangan dapat ditempuh sekitar 2,5 - 4 jam perjalanan tergantung kondisi cuaca dengan jarak kurang lebih 27 KM. Beruntung, pagi itu cuaca cukup cerah sehingga tidak ada drama sepanjang perjalanan.

Sekitar pukul 09.12 waktu setempat, kami tiba di Buntu Batu, Buntu Mondong untuk beristirahat sejenak. Pemandangan di sini sangat elok, sehingga beberapa dari kami termasuk saya apalagi Ridwan, lebih tertarik untuk berfoto-foto daripada sarapan. *Alasan Ridwan "mumpung lagi disini" begitu katanya.




God, Me and Nature || Pendakian Gunung Latimojong
View di Buntu Mondong
Credit pict : Guntur. S
Pada pukul 10.38 WITA, rombongan kami tiba di dusun Karangan yang saat itu panas dan berdebu. Rahel bersama Acing mengurus Simaksi ke pos yang berada di lapangan, biaya simaksi per orang adalah Rp. 10.000,-. Menurut Rahel, ketika dia pertama kali mengunjungi gunung kebanggaan masyarakat Sulawesi ini November 2015 lalu, belum ada pembayaran simaksi.

Setelah melapor ke rumah bapak kepala dusun Karangan dan beristirahat sebentar, kami melanjutkan perjalanan menuju rumah warga yang ditunjukkan Acing untuk makan siang.

Masyarakat dusun Karangan sangat ramah kepada para pengunjung. Saling sapa dan saling lempar senyum antara masyarakat dan pengunjung menjadi satu pemandangan yang bisa menyejukkan hati. Disini saya belajar, naik gunung bukan hanya tentang berjalan menanjak melalui berbagai aral, bukan hanya tentang pos dan puncak namun juga tentang bagaimana saya bisa menghargai kearifan lokal dan bagaimana saya bisa berbaur dengan mereka.

---

Basecamp - Pos 1 (Buntu Kaciling)

Sekitar pukul 12.30 kami melanjutkan perjalanan, tujuan kami adalah pos 2 (dua) dan berencana istirahat semalam disana. 

Pos satu merupakan tanah datar yang sempit dan ditandai oleh plang di sebuah pohon kayu. Pos ini berada di ketinggian 1774 Mdpl yang juga sering pos Buntu Kaciling

Trek diawali oleh jalan landai dengan aliran sungai di sisi kiri, cuaca yang saat itu panas seakan menggoda kami untuk langsung menceburkan diri ke dalam sungai yang terlihat bagai oase di padang pasir.

Setelah itu, kami memasuki perkebunan kopi warga dengan jalan yang mulai menanjak dan memutar, Ditambah lagi saat itu hujan gerimis mulai turun. Acing berjalan jauh dibelakang kami karena saat itu dia menerima panggilan alam untuk setoran. 

Perjalanan menuju pos 1 (satu) cukup membingungkan, pasalnya terdapat beberapa jalan bercabang. Saya, Ridwan dan Guntur sempat beristirahat cukup lama menunggu yang lainnya di dekat gubuk warga, menunggu Acing atau Rahel yang tahu jalan menuju pos satu. Setelah yang lainnya sampai dabn beristirahat, kami bertiga kembali jalan menuju pos satu yang masih membuat kami kebingungan.

Akhirnya, setelah terus berjalan tepat pukul, 13.14 saya dan Guntur sampai di Pos satu, kemudian disusul oleh Mba Erika kemudian Ridwan.

Perjalanan dari Basecamp ke pos satu membutuhkan waktu sekitar 50 - 90 menit, namun jarak tempuh ini juga bergantung pada cuaca dan kecepatan si pejalan.


Pos 1 - Pos 2 (Gua Sarung Pakpak)

Setelah menghabisi jalur ladang warga, sekitar 10 menit berjalan kita akan mulai masuk ke dalam hutan. Jalur yang dilalui cukup berbahaya karena terdapat jurang di salah satu sisinya, sehingga kita harus hati-hati dalam melangkah.

Melewati Jembatan Kayu
Credit Pict : Erika
Melewati jembatan kayu sambil berpegangan pada seutas tali, melewati tebing batu yang licin dibantu tali webbing yang tidak kita ketahui keamanannya dengan jurang lebar menganga, membuat lutut lemas namun terasa begitu menantang. Disini, kerjasama dalam team sangat dibutuhkan agar perjalanan lancar. 

Setelah melewati jembatan kayu, kita juga harus melewati batuan yang licin

Setelah melewati jembatan ini, kita hanya perlu berjalan sedikit menanjak kemudian full menurun karena pos dua berada di sebuah lembah. Menuju pos dua, kita harus menyebrangi sungai yang sangat deras namun begitu indah dan menyegarkan menggunakan batang pohon yang dipasang melintang sebagai jembatan.

God, Me and Nature || Pendakian Gunung Latimojong
Goa Terbuka di pos dua

God, Me and Nature || Pendakian Gunung Latimojong
Aliran Sungai di pos dua

Pos dua terletak di sebuah lembah disisi sungai yang cukup deras, berada di ketinggian 1898 Mdpl dan memiliki sebuah cerukan goa terbuka yang biasanya digunakan sebagai tempat beristirahat dan camping oleh para pendaki. Beruntung saat itu team kami yang pertama kali tiba di goa, sehingga kami hanya perlu menggelar flysheet dan matras tanpa tenda sebagai alas tidur.

God, Me and Nature || Pendakian Gunung Latimojong
Tidur dengan view dan Suara Sungai Deras

Perjalanan menuju pos dua membutuhkan waktu sekitar 45 - 60 menit, tergantung cuaca. Jika musim penghujan perjalanan akan semakin lama karena trek yang dilalui akan semakin licin dan berbahaya.

Tidur di bawah goa tanpa tenda sebenarnya cukup berbahaya, terlebih bagi mereka yang sering berjalan saat tidur. Berdiri dan berjalan sedikit saja kebagian depan, maka jurang dengan aliran sungai yang deras siap menelan.

Beruntung, Ridwan tidur disamping Rahel yang seringkali terbangun tanpa sadar dari tidurnya. Ketika sedikit saja Rahel bergerak, Ridwan langsung sigap memegang tangan atau menjepit kaki Rahel. Ahhhh, so sweet :)

***

Kamis, 5 May 2016

Setelah selesai beres-beres dan sarapan seadanya, kami bersiap-siap menuju pos selanjutnya. Tujuan kami adalah pos Lima (5) untuk makan siang dan pos Tujuh (7) untuk camping hari kedua.
Kenapa kami memilih pos 5 dan 7?, alasannya karena di kedua pos ini terdapat sumber mata air. 

Pos 2 - Pos 3 (Lantang Nase)

Pos tiga merupakan lahan datar dan cukup sempit yang dapat ditempuh dalam waktu 30 - 45 menit perjalanan.

Jalur yang dilalui menuju pos tiga merupakan jalur yang terbilang paling terjal, menurut saya ini merupakan trek paling terjal selama perjalanan menuju puncak Rante Mario. Trek dengan kemiringan mencapai 80 derajat ini cukup licin dan berbahaya, oleh karena itu harus sangat hati-hati melangkah dan memilih pijakan. Selain itu jangan berharap ada bonus.

Sejenak, saya teringat jalur gunung Cikuray via Bayongbong lutut ketemu kepala dalam versi lebih sadis. arghhh, jarak 600 Meter yang begitu melelahkah!!!!!.


Pos 3 - Pos 4 (Buntu Lebu)

Jalur yang dilalui untuk menuju pos Empat terbilang cukup landai dan tidak terjal. Namun kita tetap harus hati-hati dan pintar memilih jalur, banyak pohon tumbang yang bisa ditemukan disini. Vegetasi yang bisa ditemui di sepanjang jalur adalah berbagai macam jamur-jamuran, lumut dan pohon yang saya tidak tahu jenisnya. 

Salah satu jenis jamur di pos 3 menuju pos 4

Jalur Menuju pos 4

And a sweet little things was happened di jalur ini, yang cukup saya simpan sebagai rahasia, biar saya dia dan tuhan saja yang tahu. :D
*Mesem-mesem sambil flashback^-^

Pos tiga menuju pos empat, membutuhkan waktu sekitar 45 - 60 menit saja. Di pos empat ini kami bertemu dengan beberapa pendaki yang akan turun, satu diantaranya adalah seorang pendaki senior, seorang wanita asal Depok. Di usianya yang memasuki 65 tahun, dia masih kuat dan sangat bersemangat.

Pos 4 - Pos 5 (Soloh Tama)

Perjalanan dari pos empat menuju pos lima agak sedikit menoton, jalur yang dilalui hampir sama persis dengan jalur yang dilewati menuju pos sebelumnya, yaitu pos empat.  Perjalanan dari pos empat - pos lima cukup jauh, membutuhkan waktu sekitar 90 - 120 menit.

Banyak pendaki yang mencari buah Kalpataru di wilayah pegunungan Latimojong, Berdasarkan informasi dari Acing Kalpataru bisa ditemukan di dalam hutan diantara pos 3 hingga pos 5.

Beredar banyak cerita seputar Kalpataru di kalangan pendaki maupun masyarakat awam. Kalpataru dikenal sebagai pohon kahyangan yang diyakini sebagai rumah para dewa. Berdasarkan informasi, pohon kalpataru bisa ditemukan di jalur merah pegunungan Latimojong namun buahnya bisa ditemukan di tengah hutan dan berada disekitar pos 3 hingga pos 5, jarak yang cukup jauh.

Masih mengenai Buah Kalpataru, buah ini sangat sulit ditemukan. Menurut mitos, buah ini disebarkan oleh peri dan orang yang menemukan buah ini disebut-sebut memiliki rezeki yang baik.

---

Pos lima cukup luas dan bisa menampung banyak tenda, pos ini sering dijadikan tempat camp oleh para pendaki. Selain karena luas dan teduh, disini juga terdapat sumber mata air.
Di pos ini team kami beristirahat cukup lama. Guntur sudah lebih dulu sampai di pos ini dan mengemis minum pada pendaki lain.

Pendakian Gunung Latimojong Sulawesi Selatan
Menyiapkan makan siang

Sesuai dengan rencana awal di pos ini kami akan makan siang, nasi sudah ditanak di pos 2 sehingga kami tidak perlu menanak nasi lagi. Menu kami siang itu adalah abon, rendang sapi u*a gembul level 2 yang ternyata cukup pedas, membuat kami sakit perut.

Pos 5 - Pos 6

Puas beristirahat, bahkan Acing sempat tertidur (Acing adalah type tempel molor, hampir sama dengan Mba Erika :P) kami kembali berjalan menelusuri hutan. Perjalanan menuju pos 6 terasa begitu menyenangkan karena hutan lumutnya yang unik, jalannya yang menanjak namun banyak bonusnya. 

Pendakian Gunung Latimojong Sulawesi Selatan
Hutan Lumut
Credit Pict : Neva

Trek menanjak dari pos 5 menuju pos 6

Setelah berjalan sekitar 40 menit, kami tiba di pos 6. Pos Enam merupakan sebuah dataran sempit yang cukup terbuka. Disini kami cukup lama beristirahat dan bercengkrama bersama pendaki lain, yang sebelumnya kami temui di pos 5.

Pos 6 - Pos 7 (Kolong Buntu)

Setelah beristirahat, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju pos tujuh. Perjalanan menuju pos tujuh terasa sangat mengasyikkan meskipun raga lelah dibantai oleh tanjakan yang tidak ada habisnya. Hutan lumut yang dilalui di sepanjang jalan mampu membuat rasa lelah tidak mendominasi. Bukan hanya pohon saja yang diselimuti oleh lumut, namun tanah tempat berpijak pun banyak yang diselimuti lumut.

Pendakian Gunung Latimojong Sulawesi Selatan
Tanah yang ditumbuhi Lumut
Credit Pict : Neva
Vegetasi yang dilalui selama menuju pos 7 adalah pohon-pohon yang dibalut oleh lumut, uniknya lumut membalut tubuh inangnya ini dari bawah hingga keatas. Berbeda dengan hutan lumut yang pernah saya temui di beberapa gunung yang hanya membalut inangnya hingga bagian tengah saja.

Semakin tinggi berjalan, Dataran semakin terbuka dan vegetasi berubah menjadi pohon Cantigi dan trek didominasi sejenis batuan kapur. Dari sini deretan pegunungan Latimojong yang malu-malu berhijab kabut mulai terlihat.



Setelah berjalan sekitar 40 - 60 menit akhirnya kami tiba di pos tujuh. Pos tujuh merupakan sebuah dataran yang tidak begitu luas dan cukup beresiko jika badai menyerang. Karena raga yang lelah dan gerimis mulai turun, kami sepakat mendirikan tenda disini.  Tidak jauh dari plang pos tujuh, terdapat sebuah batu nisan.


***


Jumat, 6 May 2016


Pos 7 - Pos 8 (Lapangan) - Puncak Rante Mario

Camping Ground di Pos 7
Credit Pict : Guntur. S

Alarm berdering pukul 03.30 waktu setempat, kami bersiap-siap bangun kemudian goler sana goler sini selama beberapa menit. Setelah nyawa terkumpul 70% kami bangun, berganti pakaian, mempersiapkan headlamp, minuman dan makanan untuk dibawa ke puncak.

Pukul 04.19 Setelah sarapan seadanya, kami bertujuh keluar dari tenda dan langsung dihajar udara pagi Latimojong yang dingin. Kami berdoa menurut kepercayaan masing-masing, memakai headlamp kemudian berjalan menuju pos delapan.

Trek awal yang kami lalui cukup mampu membuat mata yang masih ngantuk-ngantuk ayam, terbuka 100%. Trek yang kami lalui full menanjak dan terjal, dengan jalur yang cukup membuat bingung pada awalnya.

Setelah Berjalan sekitar 15 - 20 menit kita akan bertemu dengan jalur bercabang yang ditandai dengan menara telekomunikasi. Dari sini, kita dapat menyaksikan sang mentari pagi yang merangkak naik untuk memberikan cahaya bagi bumi yang gelap.

Pendakian Gunung Latimojong Sulawesi Selatan
Plang di pertigaan menuju Puncak Nenemori

Untuk menuju puncak tertinggi pegunungan Latimojong, Puncak Rante Mario kita harus memilih jalur ke kiri dan berjalan menurun. Jika kita mengambil jalur kanan dan melipir, jalur tersebut akan menuntun kita ke Puncak tertinggi kedua, Puncak Nenemori.

Pendakian Gunung Latimojong Sulawesi Selatan
Sunrise

Tidak lama menikmati sang fajar yang pelan-pelan merangkak naik, kami kembali melanjutkan perjalanan. Tidak jauh dari menara telekomunikasi, terdapat tempat asik untuk menikmati matahari pagi yang dikelilingi oleh lautan awan. Tim kami minus Guntur, betah berlama-lama di tempat ini.

Puas mengambil beberapa foto, saya dan Mba Erika disusul Rahel bergegas berjalan naik menuju puncak. Dari kejauhan terdengar suara hingar bingar para pendaki yang telah berada di puncak Rante Mario.

Pendakian Gunung Latimojong Sulawesi Selatan
Pemandangan dari Puncak Rante Mario
Credit Pict : Guntur. S

Pendakian Gunung Latimojong Sulawesi Selatan
Pemandangan dari Puncak Rante Mario
Credit Pict : Guntur. S

Lelah letih sepanjang perjalanan terbayar tuntas oleh hamparan pemandangan yang disajikan oleh sang pemilik alam semesta, semua keluh kesah digantikan dengan canda tawa dan senyum sumringah serta rasa bahagia yang membuncah naik dari dalam dada.
Akhirnya, setelah 15 menit berjalan melalui trek yang cukup landai, pada pukul 05.39 saya dan Mba Erika sampai di puncak tertinggi pegunungan Latimojong, Puncak Rante Mario yang berdiri gagah di ketinggian 3.478 Mdpl menyusul Guntur dan Rahel yang sudah terlebih dahulu sampai. Kami berdua disertai senyum sumringah segera bersalam-salaman dan berpelukan saling mengucapkan selamat.

Pendakian Gunung Latimojong Sulawesi Selatan
Family Portrait
Siswantoro - Neva- Erika - Tari - Ridwan - Rahel - Guntur
Bersama pendaki Putera asli Sulawesi dan pendaki dari negeri Jiran Malaysia

Kawasan puncak ditandai dengan berdirinya sebuah tugu triangulasi setinggi 1,5 M. Dari puncak pemandangan dan lautan awan terlihat sangat menawan. Kami cukup beruntung saat itu karena cuaca sangat cerah.

Pendakian Gunung Latimojong Sulawesi Selatan
Abaikan saja modelnya

Setelah team lengkap dan puas mengabadikan euforia momen saat itu, kami kembali turun menuju camp dan bersiap-siap untuk kembali ke Dusun Karangan.

***
The three musketeers

Bagi saya pribadi, pendakian gunung Latimojong ini memberikan banyak pengalaman, pelajaran dan kenangan. Saya mendapat pengalaman dan pelajaran baru mengenai "Mendaki dihari pertama datang bulan" (untuk wanita). Perut yang kram jika terus dibawa berjalan rasa sakitnya akan hilang, namun jika dibawa diam rasa sakitnya akan menjadi-jadi, Yang harus selalu dijaga adalah kebersihan, kebersihan dan kebersihan serta jangan lupa bawa turun "sampah" mu.

Saya juga belajar, bahwa mendaki itu bukan hanya tentang kebanggan, siapa paling cepat dan siapa paling lambat. Tetapi mendaki gunung adalah bagaimana kita bisa berempati, bagaimana cara kita menghargai partner perjalanan, bagaimana cara kita menghargai kearifan lokal, bagaimana kita bersikap kepada sesama dan kepada alam, bagaimana kita bisa saling menjaga dan menyemangati sebagai sebuah team, bagaimana cara kita menikmati setiap detik hidup kita dan bagaimana cara kita mensyukuri nikmat yang diberikan Allah pada kita.

Terima kasih teman-teman untuk perjalanan panjang kali ini, semoga dilain waktu kita masih bisa bersama-sama lagi mengunjungi ketinggian lainnya.

Salam satu cangkir :) 


Rangkuman Perjalanan

Selasa, 2 May 2016
  •  Perjalanan dari Jakarta - Makassar

Rabu, 3 May 2016
  • 04.00 - 04.15 Bandara - Terminal Daya (15 Menit)
  • 04.30 - 11. 23 Tiba di Baraka ( 7 - 8 jam)
  • Melengkapi Logistik + Perizinan +Istirahat
Kamis, 4 May 2016
  • 08.05 Menuju dusun Karangan
  • 09.12 Istirahat di Buntu Mondong
  • 10.38 Tiba di dusun Karangan
  • Istirahat dan Ishoma
  • 12.30 - 13.14 tiba di pos 1
  • 14.00 menuju pos 2 (kurang lebih satu jam perjalanan)
  • Istirahat
Jum'at, 5 May 2016 (Catatan waktu saya hilang)
  • Pos 2 - Pos 3 ( 45 - 60 Menit)
  • Pos 3 - Pos 4 (45 - 60 Menit)
  • Pos 4 - Pos 5 ( 90 - 120 Menit)
  • Pos 5 - Pos 6 ( 40 - 60 Menit)
  • Pos 6 - Pos 7 ( 40 - 60 Menit)
  • Pos 7 - Pos 8 - Rante Mario ( 150 - 180 Menit)
  • 07.10 Turun menuju camp (pos 7)  kemudian rest
  • 08.16 - 09.00 Packing + Masak + Sarapan
  • 10.00 Memulai Perjalanan turun
  • 10.00 - 10.55 Tiba di pos 5 istirahat
  • 11.30 - 12.47  Tiba di pos 2
  • 15. 25 tiba di Dusun Karangan


--------------------------------------------------------------
*Seluruh perincian harga update per Mei 2016.
*Jika ada kesalahan mohon koreksinya, karena saya menulis dalam ingatan yang sedikit demi sedikit mulai samar.

16 komentar:

  1. Info yang sangat bermanfaat gan. Klo boleh tahu berapa total budget dari jakarta ke sna? Thank anyway

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo..
      dari jakarta kemarin saya habis sekitar 2,8jt(include logistik) udah termasuk carter mobil ke Toraja dan Bulukumba berikut makan dan akomodasi lainnya (pantai bira + apparalang + bara)

      Kalo tujuannya cuma latimojong 2,1jt include tiket pesawat cukup sih, apalagi kalo naik truk pasar bisa lebih murah dari itu..

      Hapus
  2. HALLO... saya lagi cari porter ke latimojong nech... bisa memberikan info? makasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. halo mba sari :)
      untuk porter buat k latimojong gampang kok, ntar anggota KPA lembayung bisa jadi porter, warga di karangan juga bs..
      ntar tinggal ngomong aja sama kepala dusunnya.

      Hapus
  3. Thx info nya....
    Kalo boleh tau ada cp org sana gak ya?
    Atau cp org KPA Lembayung nya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. halo, terima kasih sudah mampir.
      maaf baru respon, ini kontak pak dadang 0813 5497 6976 atau Syaban 0823 4812 1934

      :)

      Hapus
  4. Keren tur pasti ngejar 7 summit indo ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehhe...
      iya tur, kam jg mau 7summitan ya ?

      Hapus
  5. KEREN PENDAKIN GUNUNG LATI MOJONYA

    BalasHapus
  6. catper nya kerenn... menambah informasi bagi kami. 2,1jt sudah PP dan transportasi dr Bandara ke basecamp ?

    Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo,
      semua udah all in mas 2,1 kalo cuma buat Latimojong(ga termasuk ke bulukumba dan toraja), cuma itu tahun lalu tapi harusnya gak jauh beda sih sama skrg.

      Kmaren malah ada temen saya bisa lebih murah dari itu mas, mereka dapat jeep nya lebih murah.

      Kalo mas nya mau, saya bisa minta info kontak jeep nya..

      Hapus
    2. Halo kak boleh minta kontak jeepnya yg lebih murah itu kah? Makasih

      Hapus
  7. mohon dapatkan guide dan nomor hp yg bisa saya kontak utk saya dann rakanx dr Malaysia mendaki ke Lantimojong tahun depan....bisa di WA ke saya +60193857107

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo,

      pak dadang +6281354976976 (You can stay in his house called KPA lEMBAYUNG, He will give all information you need about transportation etc.

      Syaban +6282348121934 (Recomended guide, He's very kind, patient and helpful)

      If you still can't in touch with them, let me know and I will try to search another contack.

      thanks :)

      Hapus

  8. Amazing blog! Do you have any recommendations for aspiring writers? I'm hoping to start my own website soon but I'm a little lost on everything. Would you recommend starting with a free platform like Wordpress or go for a paid option? There are so many options out there that I'm completely overwhelmed .. Any ideas? Kudos! gmail log in

    BalasHapus

Search

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter