Now I see the secret of making the best person, its grow in the air and to eat and sleep with the earth -Soe Hok Gie-

Rabu, 06 April 2016

Posted by nevayana surbakti in , , | 00.44 3 comments
Foto Keluarga di Puncak Merapi
Gunung Dempo merupakan gunung tertinggi yang terletak di perbatasan Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Bengkulu tepatnya di kota Pagar Alam yang dikenal memiliki pemandangan indah dan juga kopi Robusta nya yang nikmat. 

Gunung berapi yang masih aktif dengan type Stratovolcano ini memiliki dua puncak, yaitu puncak Dempo yang berada di ketinggian 3159 Mdpl dan Puncak Merapi yang ketinggiannya belum dapat dipastikan, Namun yang dapat dipastikan adalah puncak Merapi merupakan puncak tertinggi yang dimiliki oleh gunung Dempo.

Perjalanan menuju kota "Besemah" Pagar Alam dapat ditempuh sekitar 7 - 8 jam dari kota Palembang dengan menggunakan kendaraan Pribadi atau travel, dan 8 - 10 jam jika menggunakan transportasi umum seperti bus.

Jika menggunakan kendaraan Pribadi, para pengunjung yang ingin melakukan kegiatan pendakian dapat menitipkan mobil di desa tertinggi, yaitu kampung Empat yang juga merupakan basecamp pendakian.

Apabila perjalanan dilakukan menggunakan bus umum, para pengunjung dapat turun di terminal pagar alam dan mencarter angkot untuk menuju pabrik teh PTPN VII, Perjalanan dari terminal kota pagar alam ke kampung empat membutuhkan waktu sekitar 30 menit. 
Namun terkadang, apabila sudah terlalu malam bus akan mengantar para pengunjung langsung menuju tujuan masing-masing termasuk ke kampung Empat tanpa ada tambahan biaya.

Ada dua jalur umum yang biasa dilalui pendaki jika ingin mengunjungi Dempo, yaitu Rimau dan Kampung Empat.

-------------------------------------------------------------

Kamis, 24 Maret 2016 
"Ya allah, Semoga pesawatnya Delay"

Pada tanggal 24 Maret 2016 lalu, saya beserta kedua Travelmate saya berkesempatan mengunjungi gunung dengan trek sadis ini. Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk merencanakan kunjungan ke gunung berapi dengan kawah elok ini, Dua minggu sebelum keberangkatan salah satu teman berceloteh ingin menginjakkan kaki di tanah tertinggi Besemah yang disambut baik oleh dua dari kami. ( Pada akhirnya saya diberitahu, bahwa saat itu Ridwan, yang memiliki ide menginjakkan kaki di Dempo hanya bercanda namun terlanjur tidak enak karena saya dan Rahel langsung menyetujui idenya).

Sebelum berangkat, saya menghubungi beberapa "Adik" saya di sebuah organisasi Kemapalaan yang juga merupakan tempat saya berorganisasi ketika masih mengenyam bangku kuliah dahulu, Masopala Universitas Sriwijaya,
Gayung bersambut, ketua umum Masopala yang lebih dikenal dengan panggilan "Ndong" alias "Gerandong" menyanggupi permintaan Ayunda nya yang ingin mengadakan "reuni" kecil dengan gunung suci warga besemah.
Kami juga mendapat 3 personil lain yaitu Ika, yang merupakan mahasiswi tingkat awal di Fakultas Ekonomi Unsri, Erik yang merupakan sahabat saya sejak kecil dan Leo sepupu Erik yang sudah saya kenal juga sebelumnya.

Saya, Rahel dan Ridwan memilih menggunakan penerbangan singa merah dari ibukota yang dijadwalkan terbang pada pukul 18.40 WIB.

Kali ini banyak sekali pengalaman tidak mengenakkan menuju bandara, Kemacetan panjang di perjalanan menuju bandara karena longweekend. Perjalanan yang biasa saya tempuh selama kurang lebih satu jam, membutuhkan waktu sekitar 3 jam untuk sampai. 
Saya terlambat, pukul 18.40 saya masih diperjalanan menuju bandara, saya sudah pasrah dan tak hentinya berdoa agar pesawat yang akan kami tumpangi Delay.

Beruntung, Ridwan sampai terlebih dahulu dan melakukan check-in atas nama saya dan Rahel, dan lebih beruntung lagi karena doa saya ternyata didengarkan Allah. *Sujud Syukur :D
Selain karena murah, untuk satu alasan inilah, kenapa saya tidak pernah memblacklist L**n Air, walaupun sering delay tapi saya tidak pernah kapok.

***

Sekitar pukul 21.30 kami tiba di bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang. Di Bandara kami dijemput oleh Ndong dengan mobil rentalan yang akan kami gunakan menuju kota Pagar Alam.

Sambil mencari warung pempek yang masih buka, kami menjemput Erik dan Leo di daerah pasar Kuto. *Mereka preman pasar eniwei..

Pelajaran no 1. Spare waktu yang agak panjang dari rumah - bandara jika akan bepergian menggunakan pesawat apabila sedang musim liburan alias long weekend. Ga mau kan bayar ojek 100.000 hanya untuk perjalanan 5 menit????

-------------------------------------------------------------

Jum'at, 25 Maret 2016

Sekitar pukul 06.00 pagi kami sampai di kota Pagar Alam dan langsung menuju kampung Empat, Sepanjang perjalanan terasa hawa dinginnya bumi besemah yang menusuk hingga ke tulang.
Pemandangan hamparan kebun teh nan luas, pendar mentari pagi, jalan berkelok dan berbatu, penduduk yang ramah menyapa menjadi sajian sarapan nikmat kami pagi itu.

Sekitar pukul 07.00 kami tiba di kampung empat dan beristirahat di warung yang sering dijadikan tempat istirahat, mandi dan makan oleh para pendaki dan pejalan seperti kami.

Setelah puas beristirahat dan menyelesaikan segala perizinan, pukul 09.36 kami memulai perjalanan menuju pintu rimba.

*FYI. Simaksi hanya Rp. 2000,- per orang

Nevayana surbakti
Eksis di titik awal pendakian

Best Travelmate Ever


Setelah berjalan sekitar 15 Menit, kami bertujuh sampai di titik awal pendakian gunung Dempo via kampung Empat yang berada di ketinggian 1575 Mdpl. Disini kami berdoa untuk kelancaran perjalanan kali ini.
Setelah ini kami akan menelusuri trek lembab disepanjang kebun teh, agak sedikit mirip dengan pendakian di titik awal gunung Cikuray via Pemancar.

Tidak butuh waktu lama untuk  mencapai pintu Rimba, sekitar 20 menit berjalan kami sampai di pintu rimba dan beristirahat sejenak menunggu team kami yang belum sampai.
Erik di depan pintu Rimba


Dari pintu rimba menuju Shelter 1 dan Shelter 2 hingga puncak jangan harap ada bonus jalanan datar walau hanya 3 Meter, perjalanan full menanjak, licin dan curam, disinilah salah satu letak pesona gunung Dempo.

***

Pintu Rimba - Shelter 1

Perjalanan dari pintu rimba ke Shelter satu membutuhkan waktu 2 - 3 jam perjalanan, kami berjalan agak santai karena waktu kami cukup panjang.

Vegetasi yang terdapat di perjalanan menuju Shelter satu sangat beragam, salah satu yang paling dominan adalah perdu buah arbei hutan (Rubus Reflexus Ker) yang masih merupakan keluarga Raspberri, Perdu ini biasanya tumbuh di ketinggian antara 1000 - 2600 Mdpl. Buah yang biasa dikonsumsi siamang dan burung ini, bisa dikonsumsi oleh manusia juga loh, rasanya sedikit asam dan kecut tapi akan berubah manis jika makan buah ini sambil lihatin saya. *Kidding :D

Nevayana surbakti
Ridwan di Trek menuju Shelter Pertama


Setelah berjalan menanjak sekitar 2 jam lebih Rahel, Ridwan dan saya tiba di Shelter 1 dan beristirahat cukup lama menunggu anggota team kami lainnya sampai.
Cukup lama beristirahat, sekitar 1 jam lebih yang kami isi dengan mengambil air, makan snack, tidur dan bercanda.

Shelter satu merupakan dataran kecil yang mampu menampung sekitar 3 Tenda kapasitas kecil, namun tidak disarankan untuk mendirikan tenda disini karena tanahnya sedikit miring dan banyak terdapat pohon tinggi.

Sedikit informasi, disarankan untuk mendirikan tenda di tempat yang agak jauh dari pohon tertinggi, karena jika hujan dan petir menyambar pohon tertinggi adalah sasaran utamanya. *Informasi dari kak Jaja, Senior Masopala ketika materi Survival gunung hutan.


Shelter 1 - Shelter 2

Setelah puas beristirahat, perjalanan kami lanjutkan kembali. Jalur pendakian dari shelter 1 menuju shelter 2 sangat bervariasi, namun didominasi oleh lagi-lagi tanjakan terjal tanpa bonus semeter pun. Perjalanan menuju shelter 2 adalah perjalanan yang saya nanti-nantikan karena sudah lama saya rindu dengan trek "Dinding Lemari" nya Dempo, 

Nevayana surbakti
Rahel melintasi Trek Menuju Dinding Lemari ( kak, beli kerupuk nya donk :p)

Nevayana surbakti
Ridwan melintasi Trek Dinding Lemari

Vegetasi menuju shelter 2 sudah tidak lagi sama dengan vegetasi sebelumnya, pemandangan sekitar di dominasi oleh pohon-pohon besar dengan tipe hutan Montana, seperti hutan di gunung Gede Pangrango.

Shelter 2 cukup luas dan bisa menampung sekitar 4 Tenda, disini juga sering dijadikan sebagai tempat camp oleh para pendaki yang sudah tidak sanggup menuju pelataran.

Setelah berjalan sekitar 2,5 jam lagi-lagi kami bertiga, Ridwan, Rahel dan saya sampai di Shelter 2 terlebih dahulu. Kami beristirahat dan menunggu yang lainnya cukup lama. Cukup lama akhirnya Erik menyusul kami dan menginformasikan bahwa ada kemungkinan Ndong turun bersama Ika karena Ika sudah tidak sanggup melanjutkan perjalanan.

Kami tetap menunggu kemungkinan Ndong dan Ika serta Leo di Shelter 2, Hujan turun dengan begitu lebatnya memaksa kami mendirikan flysheet untuk tempat berteduh sementara.

Dingin dan lapar merajai momen saat itu, hingga kerupuk yang tergantung di tas Carriel Rahel terlihat begitu menggemaskan, seakan merayu kami dan mengatakan "Makan aku donk kaka". Iman kami tidak kuat, kerupuk Jangek yang rencananya akan kami lahap di pelataran ketika camping nantinya, kami lahap di shelter 2 bersama para pendaki kelaparan lain yang berteduh di Flysheet kami.

Satu hal yang saya aminkan kenapa Ndong bisa menjadi ketua umum Masopala, karena memang dia memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat. Ika yang sudah give up bisa dia kembalikan semangat nya hingga akhirnya melanjutkan perjalanan, menyusul kami ke Shelter 2. Yess, team kami lengkap.


Shelter 2 - Cadas - Makam - Top Dempo

Perjalanan terasa semakin melelahkan, sangat melelahkan dan engap karena kami terpaksa menggunakan Raincoat plastik untuk melindungi tubuh dari hujan.

Trek yang dilewati dari Shelter 2 menuju Cadas sudah sangat terbuka, disini tanjakan yang dilalui lebih tinggi dari tanjakan-tanjakan terjal sebelumnya sehingga diperlukan kekuatan lebih besar daripada melalui trek sebelumnya. Dibutuhkan waktu sekitar 1,5 - 2,5 jam dari Shelter 2 menuju Puncak Dempo.

Perjalanan menuju trek batu yang biasanya disebut Cadas sangat menguras banyak tenaga, terlebih kami berjalan ketika sang mentari sudah mulai lelah menerangi perjalanan kami.

Saya masih bersemangat memanjat menuju Cadas ditemani cahaya senter dari Powerbank Ridwan, Ndong ada didepan saya menerangi jalan saya dengan headlampnya ketika melalui tanjakan yang sangat tinggi dan terjal.
Sementara Ika, dia ada di depan bersama team lain yang diminta Ndong untuk membantunya berjalan.

Saya sempat kewalahan, letih dan kembali menyebalkan, perut saya lapar yang berakibat saya menjadi lebih garang daripada singa. Saya ingin teriak " Woii, saya cewek loh cewek jangan lupain kalo saya ini cewek".
*Sekuat apapun fisik dan semangat saya yang kalian lihat, tetap saja saya lemah dan tidak sekuat apa yang terlihat, Saya hanya mencoba berusaha dan mencoba tidak membatasi kemampuan saya.

Pelajaran No. 2, Isi tenaga sebelum Nanjak. Laper ditambah capek itu bisa bikin kamu kacau dan menyebalkan. Iya seperti saya -______-

Setelah memaksa diri berjalan, bersama partner all in saya Erik dan Leo kami tiba di TOP Dempo. Beruntung beberapa kali saya minta untuk berjalan di depan saya mereka bersikukuh tidak mau meninggalkan saya dan tetap berjalan di belakang saya :)
Lega sih ditungguin, tapi tetap nggak enak hati karena mereka lambat karena saya.


Top Dempo - Hutan Lumut - Pelataran

Setelah beristirahat sejenak di Puncak Dempo, kami mulai menuruni hutan lumut. Seperti namanya vegetasi disini didominasi oleh lumut, pohon-pohon dan batu dijadikan sebagai inang oleh lumut untuk berkembang.

Trek hutan lumut terbilang cukup terjal dan juga licin, sehingga harus sangat berhati-hati melangkah dan pintar-pintarlah mencari jalur.
Nevayana surbakti
Hotel Bintang seribu di Pelataran

Sekitar 10 Menit berjalan menuruni hutan lumut, kami tiba di pelataran. Pelataran merupakan sebuah savana yang cukup luas dan bisa menampung puluhan tenda. Pelataran diapit oleh dua puncak yaitu puncak Dempo dan Merapi.
Sekilas pelataran terlihat mirip seperti Alun - Alun Surya Kencana (Surken) Gunung Gede di Provinsi Jawa Barat, Namun Surken jauh lebih luas.

Di pelataran terdapat satu sumber air yang biasa disebut telaga putri, airnya sangat dingin dan jernih. Untuk menuruni telaga putri, butuh sedikit perjuangan karena licin dan harus menggunakan tali webbing.
Sayangnya masih banyak pendaki yang mencuci piring dan membuang sisa makanan di telaga ini sehingga di beberapa sudut air terlihat kotor oleh butiran nasi dan mie.
*Banyaknya batu dan cekungan membuat sampah tidak mengalir namun mengendap ke bagian cerukan.

Di pelataran dua tenda kami berdiri gagah melindungi kami dari dingin yang semakin menusuk.
Nevayana surbakti
Menjalin persahabatan dalam hangatnya tenda
Neva - Ridwan - Erik - Rahel - Leo
-------------------------------------------------------------

Sabtu, 26 Maret 2016

Pelataran - Puncak Merapi

Setelah mencuci piring membersihkan sisa makanan kami semalam, kami melanjutkan summit menuju puncak Merapi / Puncak api Gunung Dempo.

Perjalanan dari Pelataran menuju puncak merapi membutuhkan waktu sekitar 20 - 30 menit dengan jalanan yang full menanjak namun tidak terlalu sulit. Vegetasi didominasi kayu api yang merupakan tumbuhan khas gunung Dempo, Trek yang dilalui berupa batuan dan kerikil dengan kemiringan sekitar 40 derajat.

Rahel, disusul Ridwan kemudian saya sampai di puncak Merapi terlebih dahulu. Saya melihat Rahel diam menikmati Bentangan kawah yang saat itu berwarna abu-abu terhampar di depannya dari balik bebatuan.* Sepertinya dia meringkuk kedinginan

Saya juga melihat Ridwan yang petakilan tidak bisa diam sedang menyusun blok-blok huruf Keyboard membentuk namanya, Keyboard malang yang dia rusak dari kantornya. 

Dan saya duduk sejenak beristirahat sambil menikmati pemandangan indah di depan saya sambil mensyukuri banyak hal dalam hidup saya.
Mensyukuri nasib saya bahwa saya memiliki Travelmate baik seperti Rahel yang selalu menyemangati saya dalam diamnya. 
Mensyukuri bahwa saya punya sahabat seperti Ridwan Barqoi yang petakilan dan suka usil, yang selalu membuat pendakian tidak membosankan.
Mensyukuri bahwa saya memiliki sahabat terbaik seperti Erik yang know me so well, tempat saya cerita masalah kehidupan, minta jajan, minta cokelat dan semacamnya.
Mensyukuri bahwa keputusan saya untuk menjadi seorang indian muda di Masopala 8 tahun lalu, menghadirkan adik-adik yang begitu baik dan menghormati saya.

Nevayana surbakti
Puncak Kawah Merapi 

Setelah puas bersyukur, hal selanjutnya yang saya lakukan adalah  take some selfie of course.

***

Nevayana surbakti
Partner all in

Tidak lama, Erik dan Leo sampai yang disusul juga oleh Ika dan Ndong. Kami bertujuh, sampai di puncak utama gunung Dempo dengan keadaan bahagia dan of Course cemong.

***

Piknik ceria ala kita

Setelah puas menikmati keindahan puncak utama, kami kembali turun menuju pelataran. Rahel sudah turun terlebih dahulu, memasak nasi untuk memberi makan cacing di perut kami yang sudah  mulai konser karena kelaparan.

Saya dan Ridwan menyusul kemudian, dan membantu memasak lauk karena nasi sudah ditanak oleh ahlinya. *Meskipun disini Ridwan sebenarnya tidak membantu, hanya bercerita bercerita dan bercerita padahal ditugaskan mengambil air, yah seperti mengulur-ulur waktu hingga ada salah satu anggota team yang turun.

Nevayana surbakti
Gerombolan kelaperan

Setelah semua angota team kami lengkap, kami makan bersama diatas kertas nasi basah dengan menu ala hotel bintang seribu. Persaudaraan itu tidak sederhana, kamu harus naik turun gunung jatuh bangun dahulu kemudian bisa menciptakan persaudaraan tanpa ikatan darah yang kuat seperti kami.

***

Nevayana surbakti
Foto Keluarga di puncak Dempo minus Ika
Ibrakh "Ndong" - Leo - Neva - Erik - Rahel - Ridwan
Trio ketinggalan Pesawat

Sekitar pukul 12.24 kami kembali menelusuri jalan menanjak menuju puncak Dempo,  untuk kembali pulang melintasi jalur belum resmi yang dibuka oleh Mapala Alfedia Palembang.

Cukup lama kami beristirahat mengumpulkan tenaga di puncak Dempo, hingga pada akhirnya kami melanjutkan perjalanan turun pada pukul 14.25  yang diawali trek landai hutan yang sempat terbakar.

*Untuk naik dan turun melalui jalur barat yang dibuka oleh mapala Alfed ini, harus atas seizin pengurus mapala alfed terlebih dahulu.
Jalur Turun menggunakan Webbing


Waktu yang dibutuhkan untuk turun sekitar 3 - 4 jam dari puncak Dempo, namun jalur ini terbilang lebih aman dibandingkan turun melalui jalur umum.

***
Banyak cerita yang terjadi diperjalanan pulang, jatuh bangun menelusuri trek yang licin sudah menjadi hal biasa. Kaki terluka dan lecet juga sudah tidak terasa lagi perihnya.

Pengalaman Rahel yang sudah Pro terjatuh ala smackdown pun malah membuat Ridwan menahan tawa, bukan bergegas membantu.

Dan saya juga punya pengalaman memalukan diperjalanan kali ini, bayangkan saja di tengah hujan deras, hawa dingin dan kabut yang menutupi semesta saya nyasar turun ke jurang dan SENDIRIAN.
Saya menangis memanggil nama Rahel, Ridwan dan Mba Astri (Teman baru ketika turun) namun tidak ada yang mendengar, tidak ada orang yang lewat karena jalur tersebut memang sepi tidak dilewati.

Saya menangis, benar - benar menangis ketakutan hal negatif menyeruak masuk ke dalam fikiran saya seperti jika saya harus bertahan disini berapa lama saya akan bertahan di tempat dingin dengan pakaian basah kuyup?, jika saya diserang hypotermia bagaimana?, jika saya harus survive hingga ada yang melakukan evakuasi saya kan bertahna berapa lama sementara saya tidak punya makanan?, bagaimana jika ada harimau dan ular?.

Terlintas di benak saya, nasehat mamak yang sering melarang naik gunung. Disitu saya merasa sangat menyesal tidak mendengarkan omongan beliau,

Terlintas juga di benak saya, ini pasti karena saya nakal dan tambeng, mendaki dan melanggar peraturan. Di gunung ini, dahulu terdapat peraturan tertulis bahwa wanita yang sedang datang bulan tidak boleh mendaki dan saat pendakian ini saya sedang kedatangan tamu bulanan.

Dengan sisa kekuatan dan berdoa sungguh-sungguh, saya kembali memanjat menuju titik awal saya menemukan jalan buntu. Saya pasrahkan hidup saya jika memang harus berakhir mengenaskan. Allah kembali menyelamatkan saya melalui tiga bocah kecil yang mendengar suara jeritan saya ketika minta tolong.

Lega bercampur takut saya rasakan saat itu, yakin dan tidak yakin bahwa 3 anak kecil yang datang membantu saya manusia atau bukan :D
Hahahhahahhaaaa

Akhirnya saya sampai di basecamp dengan muka yang saya yakin masih menunjukkan sisa-sisa tangisan saya sebelumnya.


"Setiap perjalanan selalu menyisakan cerita dan kenangan yang berbeda meskipun berkali-kali kamu sudah menginjakkan kakimu disana"


Pelajaran No. 3  jangan pernah paksa teman kamu, untuk meninggalkan kamu dijalur terlebih dalam cuaca buruk dan gelap.

***
Rangkuman Perjalanan

Day 1
Kamis, 24 Maret 2016 

[ 20.00 - 21.00 ] Flight Jakarta - Palembang
[ 23.00 - 07.00 ] Menuju pagar alam

Day 2
Jum'at, 25 Maret 2016

[ 06.00 - 07.00 ] Tiba di kampung VI
[ 07.00 - 09.30 ] Istirahat
[ 09.36 - 09.57 ] Sampai di titik awal pendakian
[ 10.18 - 10.38 ] Sampai di pintu rimba
[ 11.00 - 13.00 ] Sampai di Shelter 1dan istirahat panjang
[ 14.00 - 16.13 ] Sampai di Shelter 2 istirahat
[ 17.30 - 19.00 ] Sampai di Top Dempo
[ 19.15 - ------  ] Sampai di Pelataran, mendirikan tenda, makan dan istirahat

Day 3
Sabtu, 26 Maret 2016

[ 08.20 ] Menuju Puncak Merapi
[ 08.45 ] Sampai di puncak merapi , enjoy puncak
[ 10.00 ] Kembali ke pelataran
[ 12.42 ] Nanjak Hutan Lumut menuju Top
[ 13.10 ] Sampai di puncak
[ 14.25 ] Kembali turun
[ 18.30 ] Tiba di basecamp
[ 00.00 ] Menuju Palembang


***
Sekian










3 komentar:

  1. besok ad yang 17san di gunung dempo ga yah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biasanya sih ada kak kalo gunungmya lagi ga ditutup :)

      Hapus
  2. Halo kak, salam kenal.
    Boleh tau gak dimana bisa dapet info lengkap gunung dempo dibuka/ditutup dimana ? Ada plan kesana akhir tahun ini.
    Terus kalo gak keberatan boleh gak kak, minta estimasi biaya perjalanan, termasuk kontak yg bisa dihubungi disana, atau kakak punya tips dan saran utk di share jg boleh, makasih :D

    BalasHapus

Search

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter