Now I see the secret of making the best person, its grow in the air and to eat and sleep with the earth -Soe Hok Gie-

Senin, 18 April 2016

Posted by nevayana surbakti 03.20 No comments
Gunung Merbabu merupakan salah satu gunung berapi dengan jenis Strato yang terletak di wilayah Magelang, Boyolali, Salatiga dan Semarang.

Gunung Merbabu merupakan salah satu gunung paling populer dikalangan para penikmat wisata gunung, bentangan alamnya yang indah merupakan daya tarik utama gunung ini.

Ada beberapa jalur yang dapat dilalui apabila ingin mengunjungi gunung ini, setiap jalur memiliki keindahan dan kesulitannya masing-masing. 
Beberapa jalur yang paling umum dilewati adalah
  • Jalur Wekas (Magelang)
  • Jalur Selo (Boyolali)
  • Jalur Thakelan (Salatiga)
  • Jalur Kopeng / Chuntel (Salatiga)
  • Jalur Swanting (Magelang)
Februari lalu saya berkesempatan mengunjungi gunung dengan pemandangan indah ini melalui Jalur Wekas, yang merupakan jalur terpendek dan memiliki banyak air.

---------------------------------------------------------

Jum'at, 12 Februari 2016

Saya berangkat menggunakan kereta api jurusan Semarang (Tawang) sekitar pukul sebelas malam, perjalanan di kereta api ekonomi yang saya lalui tersebut sangat membosankan karena saya lupa membawa headset untuk mendengarkan musik ditambah lagi orang yang duduk di samping saya sangat berisik.
My god, ingin rasanya memasukkan kepala orang tersebut ke dalam karung kemudian melemparnya kedalam kawah.

Sabtu, 13 Februari 2016

Pukul 06.30 pagi, kereta Kertajaya tambahan yang saya tumpangi sampai di stasiun Tawang, saya langsung bergegas menuju bagian depan stasiun untuk mencari bus tujuan pasar sapi. 
Ini adalah kali pertama saya pergi ke Semarang jadi saya harus memasang muka teramah dan terpintar saya agar tidak ditipu orang, beruntung penduduk Kota Semarang banyak yang baik dan berbondong membantu saya tanpa menawarkan jasa macam-macam seperti yang sering kita dapati di terminal atau stasiun di Jakarta.

Setelah menunggu sekitar 15 menit, akhirnya bus yang saya tunggu tiba. Orang-orang berebut masuk dan beruntung saya tidak harus berdiri dengan tas keril yang makan tempat. 

Perjalanan dari Semarang menuju pasar sapi ternyata cukup panjang dan melelahkan, butuh waktu sekitar 1.5 - 2 jam. Dengan bantuan seorang Ibu penjual gado-gado dan bapak Supir yang baik hati, saya akhirnya sampai di pasar sapi dan diantarkan ke bus lainnya untuk mengantarkan saya ke tujuan selanjutnya yaitu pasar Ngalam. Ongkos dari stasiun ke pasar sapi sekitar Rp. 10.000 - 15.000,-.

Setelah sampai di pasar sapi saya langsung naik bus kecil sejenis elf tujuan pasar Ngablak, perjalanan yang membutuhkan waktu sekitar 40 menit - 1 jam ini hanya dibandrol sebesar Rp. 8000,-.

Sampai di pasar Ngablak, kesendirian saya akan segera berakhir karena dari titik ini saya bergabung dengan salah satu teman saya yang baru turun dari Gunung Argopuro, Ungaran dan Andong, Sebut saja namanya Rahel.
Bukan, Bukan... dia pria, bukan wanita jangan panggil mba apalagi tante curhatnya di beberapa threat BPI. :D

Sambil menunggu Rahel yang sedang menuruni gunung Andong bersama temannya yang saya lupa namanya siapa, saya makan pecel ayam yang enakkkk, murah dan gede banget. Cacing saya diperut sudah minta jatah karena sebelum berangkat saya lupa makan, malah minum milo dinosaurus di kopi O*y.

Tidak menunggu terlalu lama, tapi cukup sampai membuat makanan saya habis Rahel pun datang dengan wujud yang terlihat sedikit, sedikitttt menggenaskan. *kelamaan main di hutan sih.

---------------------------------------------------------------

Saya kurang memperhatikan pukul berapa saat itu, kami menuju basecamp bang Gopal di Wekas. Kami menggunakan ojek jemputan dari basecamp Wekas dengan biaya Rp. 25.000,- /orang. Harga yang cukup murah mengingat pasar Ngablak - Wekas terbilang lumayan jauh dengan jalan yang ajib menanjak.

Di sepanjang perjalanan, saya merasa dimanjakan oleh alam yang masih asri, sejuk dan tenang yang tidak akan pernah di dapatkan di tengah padat dan hiruk pikuknya ibukota. Setelah memasuki gapura desa, hutan pinus sudah siap menyambut kami dengan wangi khas dan dingin sejuk udaranya.

Tiba di Basecamp, Rahel segera mengurus simaksi di pos yang sudah ditentukan, besarnya biaya simaksi adalah Rp. 5000,-/orang. *Update 13 Februari 2016

Nevayana Surbakti
BaseCamp Bang Gopal


Sebagai bahan informasi, di Wekas terdapat banyak sekali basecamp yang bisa dijadikan tempat beristirahat dan mandi secara cuma-cuma, umumnya basecamp adalah rumah penduduk sekitar. Penduduk hanya mengharapkan pendaki membeli makanan yang mereka sediakan, menggunakan jasa transportasi atau membeli beberapa keperluan mendaki di warung mereka. *Tidak perlu khawatir masalah harga, karena mereka tetap menjual produk dengan harga normal.

Sekitar pukul 11.30 saya dan Rahel memulai perjalanan menuju pos 1 (satu) gunung Merbabu via jalur Wekas. Berdasarkan informasi dari pemilik Basecamp, hujan turun setiap hari dengan intensitas yang cukup tinggi, namun kami cukup beruntung karena saat itu cuaca sangat cerah padahal sebelumnya hujan turun cukup deras.

Base Camp - Pos I Telaga Arum

Trek awal pendakian adalah jalan desa yang menanjak full, pemandangan sekitar adalah rumah dan ladang warga. Masyarakat desa ini sangat ramah, sehingga setiap melewati rumah atau berpapasan senyum manis selalu tersungging untuk kami.

Salah satu hal yang paling saya suka dari sebuah perjalanna adalah disaat kita bisa bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Melihat senyum hangat mereka menyambut kehadiran kita, hal ini memberikan makna hidup yang berbeda di setiap perjalanan. Ada saja pelajaran berharga yang bisa dipetik dari asyiknya sebuah perjalanan.

Nevayana Surbakti
Pos 1 Wekas

Dari Basecamp ke Pos satu membutuhkan waktu sekitar 1 - 1,5 jam, akan ada 3 pos PHP yang bisa kita temukan ketika melewati jalur Wekas.
Pos I yang sudah tidak digunakan lagi berupa sebatang pohon yang melintang miring diatas jalan, tidak pantas disebut pos, lebih pantas disebut jalur.

Nevayana Surbakti
Pos Bayangan 1


Berjalan beberapa menit kita akan menemukan sebuah plank pos 1 bayangan. Saat tiba di pos ini saya dan beberapa orang yang berasal dari grup lain merasa tertipu, iyah tertipu.
Masa udah lewatin pos 1 kembali lagi ke pos bayangan 1???

Nevayana Surbakti
Pos 1 Telaga Arum

Berjalan sekitar 15 menit, kami akhirnya sampai ke pos 1. Ya pos satu lagi, bingung kan?, Baiklah ternyata pos 1 bayangan dan pos 1 Telaga Arum merupakan pos 1 milik jalur lain, tapi saya lupa jalur apa.
Pos 1 via Wekas merupakan kayu melintang yang pertama kali kami lewati, dan sudah tidak digunakan lagi.

Pos I Telaga Arum - Pos II

Perjalanan dari pos satu menuju pos dua tidak terlalu lama, hanya membutuhkan waktu sekitar 1 - 1.5 jam. Saya berjalan agak lambat, sehingga kami membutuhkan waktu satu jam lebih sedikit untuk sampai di pos 2.

Pos II merupakan dataran terbuka dan cukup menampung puluhan tenda, disini juga terdapat sumber mata air.
Nevayana Surbakti
Selamat Datang di pos II


Tepat pukul 14.13 saya sampai di pos 2, Rahel sudah berjalan duluan didepan saya mencari lapak untuk mendirikan hotel portable. Sementara dia mencari sana - sini, saya beristirahat dan mengabadikan pemandangan indah di hadapan saya melalui kamera ponsel seadanya.
Nevayana Surbakti
Lukisan di Pos II


Saya yang memang sudah tidak sabar melihat lautan awan langsung menuju spot terdekat untuk melihat awan yang menutupi gunung kakak beradik, Sindoro Sumbing. Bingung kakaknya yang mana?, bagi saya kakaknya adalah Sumbing karena lebih tinggi sedikit dibandingkan Sindoro. *Suka-suka saya ajalah ya
Nevayana Surbakti
Gunung Sindoro - Sumbing yang Tertutup Awan

Setelah itu saya kembali ke area hotel portable, membantu Rahel mendirikan tenda dan Flysheet, *Yah meskipun saya malah kebanyakan selfie disini. :D
Ketika Rahel merapikan Flysheet dengan kayu-kayu yang jika ditiup angin akan rubuh, saya ditugaskan mengemban tanggung jawab yang begitu berat "Membuat roti" karena perut Senior Raja sudah keroncongan. *Ga berat sih, oles sana sini doang.

Setelah selesai memasang tenda dan mengisi perut, kami segera menuju spot terbaik di pos II, we take some pictures of course, Mengabadikan indahnya salah satu ciptaan tuhan melalui gambar yang saya bersumpah lebih indah jika dilihat langsung dengan mata.

Nevayana Surbakti
Abaikan modelnya, Lihat view belakangnya

Puas mengabadikan beberapa gambar, kami kembali ke tenda dan bercengkrama bersama para tetangga yang sedang mendirikan tenda.

Malam itu kami makan dengan menu telur dadar dan saya lupa apalagi-_-

------------------------------------------------------------------

Sabtu, 14 Februari 2016
Sekitar pukul 04.00 pagi saya dan Rahel dibangunkan oleh alarm yang sudah kami setel sebelumnya, niatnya sih summit pukul 03.00 tapi molor satu jam.
Setelah usai sarapan dan bersiap-siap kami berdoa dalam diam kemudian melangkahkan kaki menuju puncak Merbabu.
Pada awalnya, jalur terasa sangat horor karena hanya kami berdua saja yang melintas. Banyak pendaki yang berangkat summit jauh sebelum kami  dan ada juga yang memilih summit ketika sang fajar sudah menyingsing.
Untungnya saya tidak membayangkan hal-hal aneh akan terjadi, meski menyeramkan tapi saya merasa aman karena jarak pandang saya masih bisa menangkap bayangan Rahel di depan saya. Saat dia mulai jauh, saya berusaha berjalan lebih cepat dan ketika dia tanya "mau minum?", jika dia cukup jauh saya bilang "iya" karena ini kesempatan saya menyamai langkahnya dengan santai padahal saya ga haus-haus amat. *Bibir saya terlalu "Terpelajar" untuk ngaku "Capek" di awal pendakian, padahal mah capek banget.

Tidak lama jalan menanjak, terdengar suara orang bercengkrama di depan kami. Yess, saat yang paling saya tunggu tiba, saat sudah menyamai langkah rombongan lain yang berarti jika saya tertinggal jauh di belakang masih banyak orang dibelakang saya. Tapi beruntung, kali ini saya tidak ditinggal meskipun gelap sudah berganti terang.

Setelah sampai di persimpangan jalur Kopeng di sekitar pos Watu Tulis, jalur mulai terbuka dan sudah dekat dengan pos Helipad.
Pemandangan dari atas pos Helipad terlihat begitu indah, terlihat satu gunung dengan puncak berwarna putih membentang, sayang saya tidak bertanya gunung apa yang saya lihat tersebut sehingga masih menyisakan tanya hingga saat ini.

View pagi pukul 05.35
Tepat pukul 06.27 kami tiba dipersimpangan, persimpangan menuju puncak Syarif (Pregodalem) di sebelah kiri dan puncak Kentheng Songo di sebelah kanan.

Cukup lama kami beristirahat disini bersama pendaki lain, sampai akhirnya Rahel memutuskan akan mendaki Pregodalem terlebih dahulu. Awalnya ego saya malas ikut menanjak ke Pregodalem, namun hati saja bilang "udah sana, berani sendirian disini angin kenceng?". Berbekal sedikit racun dari Rahel yang bilang "muncak Syarif dari sini paling cuma 15 menit doang", akhirnya saya mengekor di belakangnya.

Benar, hanya sekitar 15 menit kami sudah sampai di puncak Pregodalem dengan ketinggian 3119 Mdpl disambut oleh cuaca dan pemandangan yang sangat cerah dan indah ditambah ada semburat pelangi menyembul di balik awan namun sangat dingin. *Iya, Stocking hitam yang biasa saya gunakan sebagai lapisan dalam celana emessh lupa dibawa.
Ada Pelangi yang mengintip malu

Puncak Syarif dengan view nya yang luar biasa

 Puas berfoto dan menikmati keindahan dari puncak Syarif, kami turun dan menuju puncak Kentheng Songo.

Perjalanan dari persimpangan menuju puncak Kentheng Songo membutuhkan waktu sekitar 30 - 40  Menit, diawali jalan berkelok dengan jurang memanjang di sisi sebelah kiri. Terdapat tanjakan yang ingin membuat saya menangis saking lelahnya, namun Rahel selalu dalam diamnya memberikan saya semangat. *Mungkin saja karena saya takut  dia ngedumel dalam hati karena saya lelet ga bisa ngejer langkahnya, padahal menurut saya, saya sudah cepet jalannya. :(

Tanjakan menuju puncak Kentheng Songo

Akhirnya, kami sampai di trek yang sebelumnya membuat saya penasaran setengah mati " Jembatan Setan", ternyata asyik sekali menelusuri jembatan ini sampai saya dibuat kengerian namun sangat antusias. Jika ada yang bertanya, apa saja yang kamu rindukan dari gunung Merbabu?, saya akan jawab jembatan setan yang paling utama.
Candid muka takut tapi antusias di Jembatan Setan
Setelah melewati Trek sadis dan ngangenin ini, sekitar 15 menit kami tiba di puncak Kentheng Songo. Pemandangan dari puncak Kentheng Songo tidak kalah indahnya dengan pemandangan dari puncak Syarif. Gunung Merapi yang gagah berdiri terlihat begitu sangar namun memanggil-manggil untuk dikunjungi.
Saya sangat bersyukur pendakian di musim hujan kali ini, tidak membuat pakaian saya basah karena hujan, cuaca sangat cerah dan sangat bersahabat.
Tuh Merapi dilihat dari Puncak Kentheng Songo


Dari puncak Kentheng Songo, gunung Merapi terlihat begitu jelas dan terlihat begitu dekat. Memandang ke arah barat akan terlihat gunung Sindoro dan Sumbing yang sering disebut gunung fantasi anak SD, Tampak juga gunung Telomoyo dan Ungaran, di sebelah Timur terlihat gunung Lawu.
Merapi dan Savana Merbabu via Selo


Setelah puas menikmati keindahan dari ketinggian 3142 Mdpl, pukul 08.21 kami turun karena gerimis mulai turun.

Jalur Menurun dari Puncak Ketheng Songo menuju Jembatan Setan



Dari puncak Kentheng Songo kembali ke pos 2 membutuhkan waktu sekitar 1 - 1,5 jam perjalanan yang lumayan bisa membuat kuku jempol kaki copot.

Setelah beristirahat, makan dan membereskan tenda kami turun kembali melalui jalur Wekas untuk melanjutkan perjalanan ke Basecamp bang Gopal dan kemudian menuju Basecamp Sawit, Basecamp pendakian gunung Andong.

Sekitar pukul 13.37 kami tiba di Basecamp, beristirahat, mandi dan repacking barang-barang yang kami tinggalkan di basecamp sebelumnya.

Untuk menuju basecamp Sawit, kami menggunakan jasa ojek motor bang Gopal dengan tarif Rp. 35.000,-/orang.

--------------------------------------------------------------

Setelah melengkapi logistik, kami menuju basecamp Sawit untuk beristirahat (lagi),  makan enak kemudian mengurus perizinan. *saya lupa berapa simaksi nya, kalau tidak salah sekitar Rp. 5000 - Rp. 10.000,-/orang.

Menurut Wikipedia, Gunung Andong adalah sebuah gunung bertipe perisai di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Gunung ini belum pernah mempunyai aktivitas meletus. Gunung Andong terletak di antara Ngablak dan Tlogorjo, Grabag dan berketinggian sekitar 1726 Mdpl. Gunung Andong merupakan salah satu dari beberapa gunung yang melingkari Magelang. Berdampingan dengan gunung Telomoyo, gunung ini berada di perbatasan wilayah Salatiga, Semarang, dan Magelang.

Gunung Andong merupakan salah satu gunung kekinian yang banyak dikunjungi oleh para pendaki maupun pejalan. Sepanjang mata saya melihat gunung ini lebih banyak dikunjungi anak-anak Abegeh yang sedang kasmaran. Saya jadi merasa "tua" karena beberapa kali berpapasan dengan cabe-cabeab dan terong-terongan di sepanjang perjalanan naik dan turun.

Wajar saja gunung ini diminati oleh banyak kalangan, selain karena jarak tempuhnya yang cukup pendek pemandangan yang ditawarkan juga sangat indah, bibir ini tidak ada hentinya mengucap pujian dan syukur kepada pemilik semesta disini.

Perjalanan dari basecamp menuju puncak Jiwa gunung Andong membutuhkan waktu sekitar 1,5 - 2 jam saja. Jarak tempuh yang singkat tersebut, ternyata mampu membuat saya ingin pulang saja dan kembali ke basecamp karena sudah kelelahan di pendakian Merbabu sebelumnya.
Namun, manusia di depan saya tidak kenal kata lelah-_-
Ketika dia berhenti menunggu saya, saya tetap meminta dia untuk melanjutkan perjalanan karena di gunung andong ada pos Watu Pocong yang membuat saya sedikit takut. *banyak sih

Setibanya di Puncak Jiwa, angin kencang dan dingin yang amat sangat menyambut kami dengan sangarnya. Keinginan untuk melihat hamparan bintang pun sirna digantikan dengan ingin segera masuk ke dalam sleeping bag, tidak perlu makan hanya ingin meringkuk dalam sleeping bag.

Setelah sedikit membantu Rahel memasang tenda dan flysheet, saya langsung masuk tenda dan tepar. *Saya yakin disini Rahel kesal luar biasa tapi saya bodo amat, bayangan Hypothermia menghantui saya kala itu.


Senin, 15 Februari 2016


Sunrise dari Puncak Jiwa Andong

Pukul 05.00 pagi, saya mendengar ribut-ribut dari luar tenda, saya yakin para pemburu Sunrise sedang beraksi. Saya kemudian membangunkan Rahel, tapi dia masih belum ingin keluar dari kantong kepompongnya.
Akhirnya saya sendiri keluar dari dalam tenda, dan wusssss dingin yang menusuk hingga ketulang segera menyerang saya. Ingin kembali meringkuk ke dalam tenda, namun keinginan untuk berburu sunrise mengalahkan keinginan itu.

Dari cafe full Ac, yang tidak berada jauh dari tenda kami saya duduk mencoret-coret puisi di diary saya sambil memandang semburat jingga sang fajar yang lama kelamaan berubah bentuk membulat. Demi melihat indahnya sang fajar yang mulai menyingsing, Serta merta saya kembali ke dalam tenda, megambil Handphone dan memaksa Rahel untuk keluar dari Sleeping bag. Setelah dia bangun dan mengumpulkan nyawa, saya keluar dari tenda dan mengabadikan momen pagi itu.

Setelah Rahel keluar dari tenda, kami menuju puncak Gunung Andong menyaksikan view yang Masyaallah indahnya luar biasa, membuat saya malu pada diri saya sendiri karena kesal saat menuju puncak Jiwanya. Dari puncak Jiwa menuju puncak Andong, hanya membutuhkan waktu 10 menit saja. Pemandangan di puncak Andong, rasa-rasanya mampu membuat saya untuk bertahan semalam lagi disana.

Andong Peak
Pemandangan Hutan dan Desa dari Puncak Andong

Puas menikmati pemandangan kami kembali ke tenda untuk masak, menikmati makanan yang kami olah di hadapan gunung Merapi dan Merbabu yang berdiri tegak di depan kami.

Perjalanan turun hanya membutuhkan waktu sekitar 45 menit - 1 jam saja, namun tetap harus hati-hati karena cukup licin dan terjal.

----------------------------------------------------------------

Biaya yang dibutuhkan Start Jakarta,

* Kereta Api Kartajaya tambahan  Rp. 110.000,-
* Stasiun Tawang - Pasar Sapi Rp. 10.000,-
* Pasar Sapi - Pasar Ngablak Rp. 8.000,- 
* Pasar Ngablak - Basecamp Wekas Rp. 25.000,-
* Simaksi Merbabu Rp. 5.000,-
* Basecamp wekas - Basecamp Sawit Rp. 35.000,-
* Simaksi Andong Rp. 10.000,-
* Pasar Ngablak - Pasar Sapi Rp. 8.000,-
* Pasar Sapi - Terminal Rp. 3.000,-
* Bus Executive tujuan Jakarta (lupa nama busnya) Rp. 180.000,-
 
Total Rp. 394.000,- Exclude Logistik dan jajan











0 komentar:

Posting Komentar

Search

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter