Now I see the secret of making the best person, its grow in the air and to eat and sleep with the earth -Soe Hok Gie-

Senin, 18 April 2016

Posted by nevayana surbakti 03.20 No comments
Gunung Merbabu merupakan salah satu gunung berapi dengan jenis Strato yang terletak di wilayah Magelang, Boyolali, Salatiga dan Semarang.

Gunung Merbabu merupakan salah satu gunung paling populer dikalangan para penikmat wisata gunung, bentangan alamnya yang indah merupakan daya tarik utama gunung ini.

Ada beberapa jalur yang dapat dilalui apabila ingin mengunjungi gunung ini, setiap jalur memiliki keindahan dan kesulitannya masing-masing. 
Beberapa jalur yang paling umum dilewati adalah
  • Jalur Wekas (Magelang)
  • Jalur Selo (Boyolali)
  • Jalur Thakelan (Salatiga)
  • Jalur Kopeng / Chuntel (Salatiga)
  • Jalur Swanting (Magelang)
Februari lalu saya berkesempatan mengunjungi gunung dengan pemandangan indah ini melalui Jalur Wekas, yang merupakan jalur terpendek dan memiliki banyak air.

---------------------------------------------------------

Jum'at, 12 Februari 2016

Saya berangkat menggunakan kereta api jurusan Semarang (Tawang) sekitar pukul sebelas malam, perjalanan di kereta api ekonomi yang saya lalui tersebut sangat membosankan karena saya lupa membawa headset untuk mendengarkan musik ditambah lagi orang yang duduk di samping saya sangat berisik.
My god, ingin rasanya memasukkan kepala orang tersebut ke dalam karung kemudian melemparnya kedalam kawah.

Sabtu, 13 Februari 2016

Pukul 06.30 pagi, kereta Kertajaya tambahan yang saya tumpangi sampai di stasiun Tawang, saya langsung bergegas menuju bagian depan stasiun untuk mencari bus tujuan pasar sapi. 
Ini adalah kali pertama saya pergi ke Semarang jadi saya harus memasang muka teramah dan terpintar saya agar tidak ditipu orang, beruntung penduduk Kota Semarang banyak yang baik dan berbondong membantu saya tanpa menawarkan jasa macam-macam seperti yang sering kita dapati di terminal atau stasiun di Jakarta.

Setelah menunggu sekitar 15 menit, akhirnya bus yang saya tunggu tiba. Orang-orang berebut masuk dan beruntung saya tidak harus berdiri dengan tas keril yang makan tempat. 

Perjalanan dari Semarang menuju pasar sapi ternyata cukup panjang dan melelahkan, butuh waktu sekitar 1.5 - 2 jam. Dengan bantuan seorang Ibu penjual gado-gado dan bapak Supir yang baik hati, saya akhirnya sampai di pasar sapi dan diantarkan ke bus lainnya untuk mengantarkan saya ke tujuan selanjutnya yaitu pasar Ngalam. Ongkos dari stasiun ke pasar sapi sekitar Rp. 10.000 - 15.000,-.

Setelah sampai di pasar sapi saya langsung naik bus kecil sejenis elf tujuan pasar Ngablak, perjalanan yang membutuhkan waktu sekitar 40 menit - 1 jam ini hanya dibandrol sebesar Rp. 8000,-.

Sampai di pasar Ngablak, kesendirian saya akan segera berakhir karena dari titik ini saya bergabung dengan salah satu teman saya yang baru turun dari Gunung Argopuro, Ungaran dan Andong, Sebut saja namanya Rahel.
Bukan, Bukan... dia pria, bukan wanita jangan panggil mba apalagi tante curhatnya di beberapa threat BPI. :D

Sambil menunggu Rahel yang sedang menuruni gunung Andong bersama temannya yang saya lupa namanya siapa, saya makan pecel ayam yang enakkkk, murah dan gede banget. Cacing saya diperut sudah minta jatah karena sebelum berangkat saya lupa makan, malah minum milo dinosaurus di kopi O*y.

Tidak menunggu terlalu lama, tapi cukup sampai membuat makanan saya habis Rahel pun datang dengan wujud yang terlihat sedikit, sedikitttt menggenaskan. *kelamaan main di hutan sih.

---------------------------------------------------------------

Saya kurang memperhatikan pukul berapa saat itu, kami menuju basecamp bang Gopal di Wekas. Kami menggunakan ojek jemputan dari basecamp Wekas dengan biaya Rp. 25.000,- /orang. Harga yang cukup murah mengingat pasar Ngablak - Wekas terbilang lumayan jauh dengan jalan yang ajib menanjak.

Di sepanjang perjalanan, saya merasa dimanjakan oleh alam yang masih asri, sejuk dan tenang yang tidak akan pernah di dapatkan di tengah padat dan hiruk pikuknya ibukota. Setelah memasuki gapura desa, hutan pinus sudah siap menyambut kami dengan wangi khas dan dingin sejuk udaranya.

Tiba di Basecamp, Rahel segera mengurus simaksi di pos yang sudah ditentukan, besarnya biaya simaksi adalah Rp. 5000,-/orang. *Update 13 Februari 2016

Nevayana Surbakti
BaseCamp Bang Gopal


Sebagai bahan informasi, di Wekas terdapat banyak sekali basecamp yang bisa dijadikan tempat beristirahat dan mandi secara cuma-cuma, umumnya basecamp adalah rumah penduduk sekitar. Penduduk hanya mengharapkan pendaki membeli makanan yang mereka sediakan, menggunakan jasa transportasi atau membeli beberapa keperluan mendaki di warung mereka. *Tidak perlu khawatir masalah harga, karena mereka tetap menjual produk dengan harga normal.

Sekitar pukul 11.30 saya dan Rahel memulai perjalanan menuju pos 1 (satu) gunung Merbabu via jalur Wekas. Berdasarkan informasi dari pemilik Basecamp, hujan turun setiap hari dengan intensitas yang cukup tinggi, namun kami cukup beruntung karena saat itu cuaca sangat cerah padahal sebelumnya hujan turun cukup deras.

Base Camp - Pos I Telaga Arum

Trek awal pendakian adalah jalan desa yang menanjak full, pemandangan sekitar adalah rumah dan ladang warga. Masyarakat desa ini sangat ramah, sehingga setiap melewati rumah atau berpapasan senyum manis selalu tersungging untuk kami.

Salah satu hal yang paling saya suka dari sebuah perjalanna adalah disaat kita bisa bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Melihat senyum hangat mereka menyambut kehadiran kita, hal ini memberikan makna hidup yang berbeda di setiap perjalanan. Ada saja pelajaran berharga yang bisa dipetik dari asyiknya sebuah perjalanan.

Nevayana Surbakti
Pos 1 Wekas

Dari Basecamp ke Pos satu membutuhkan waktu sekitar 1 - 1,5 jam, akan ada 3 pos PHP yang bisa kita temukan ketika melewati jalur Wekas.
Pos I yang sudah tidak digunakan lagi berupa sebatang pohon yang melintang miring diatas jalan, tidak pantas disebut pos, lebih pantas disebut jalur.

Nevayana Surbakti
Pos Bayangan 1


Berjalan beberapa menit kita akan menemukan sebuah plank pos 1 bayangan. Saat tiba di pos ini saya dan beberapa orang yang berasal dari grup lain merasa tertipu, iyah tertipu.
Masa udah lewatin pos 1 kembali lagi ke pos bayangan 1???

Nevayana Surbakti
Pos 1 Telaga Arum

Berjalan sekitar 15 menit, kami akhirnya sampai ke pos 1. Ya pos satu lagi, bingung kan?, Baiklah ternyata pos 1 bayangan dan pos 1 Telaga Arum merupakan pos 1 milik jalur lain, tapi saya lupa jalur apa.
Pos 1 via Wekas merupakan kayu melintang yang pertama kali kami lewati, dan sudah tidak digunakan lagi.

Pos I Telaga Arum - Pos II

Perjalanan dari pos satu menuju pos dua tidak terlalu lama, hanya membutuhkan waktu sekitar 1 - 1.5 jam. Saya berjalan agak lambat, sehingga kami membutuhkan waktu satu jam lebih sedikit untuk sampai di pos 2.

Pos II merupakan dataran terbuka dan cukup menampung puluhan tenda, disini juga terdapat sumber mata air.
Nevayana Surbakti
Selamat Datang di pos II


Tepat pukul 14.13 saya sampai di pos 2, Rahel sudah berjalan duluan didepan saya mencari lapak untuk mendirikan hotel portable. Sementara dia mencari sana - sini, saya beristirahat dan mengabadikan pemandangan indah di hadapan saya melalui kamera ponsel seadanya.
Nevayana Surbakti
Lukisan di Pos II


Saya yang memang sudah tidak sabar melihat lautan awan langsung menuju spot terdekat untuk melihat awan yang menutupi gunung kakak beradik, Sindoro Sumbing. Bingung kakaknya yang mana?, bagi saya kakaknya adalah Sumbing karena lebih tinggi sedikit dibandingkan Sindoro. *Suka-suka saya ajalah ya
Nevayana Surbakti
Gunung Sindoro - Sumbing yang Tertutup Awan

Setelah itu saya kembali ke area hotel portable, membantu Rahel mendirikan tenda dan Flysheet, *Yah meskipun saya malah kebanyakan selfie disini. :D
Ketika Rahel merapikan Flysheet dengan kayu-kayu yang jika ditiup angin akan rubuh, saya ditugaskan mengemban tanggung jawab yang begitu berat "Membuat roti" karena perut Senior Raja sudah keroncongan. *Ga berat sih, oles sana sini doang.

Setelah selesai memasang tenda dan mengisi perut, kami segera menuju spot terbaik di pos II, we take some pictures of course, Mengabadikan indahnya salah satu ciptaan tuhan melalui gambar yang saya bersumpah lebih indah jika dilihat langsung dengan mata.

Nevayana Surbakti
Abaikan modelnya, Lihat view belakangnya

Puas mengabadikan beberapa gambar, kami kembali ke tenda dan bercengkrama bersama para tetangga yang sedang mendirikan tenda.

Malam itu kami makan dengan menu telur dadar dan saya lupa apalagi-_-

------------------------------------------------------------------

Sabtu, 14 Februari 2016
Sekitar pukul 04.00 pagi saya dan Rahel dibangunkan oleh alarm yang sudah kami setel sebelumnya, niatnya sih summit pukul 03.00 tapi molor satu jam.
Setelah usai sarapan dan bersiap-siap kami berdoa dalam diam kemudian melangkahkan kaki menuju puncak Merbabu.
Pada awalnya, jalur terasa sangat horor karena hanya kami berdua saja yang melintas. Banyak pendaki yang berangkat summit jauh sebelum kami  dan ada juga yang memilih summit ketika sang fajar sudah menyingsing.
Untungnya saya tidak membayangkan hal-hal aneh akan terjadi, meski menyeramkan tapi saya merasa aman karena jarak pandang saya masih bisa menangkap bayangan Rahel di depan saya. Saat dia mulai jauh, saya berusaha berjalan lebih cepat dan ketika dia tanya "mau minum?", jika dia cukup jauh saya bilang "iya" karena ini kesempatan saya menyamai langkahnya dengan santai padahal saya ga haus-haus amat. *Bibir saya terlalu "Terpelajar" untuk ngaku "Capek" di awal pendakian, padahal mah capek banget.

Tidak lama jalan menanjak, terdengar suara orang bercengkrama di depan kami. Yess, saat yang paling saya tunggu tiba, saat sudah menyamai langkah rombongan lain yang berarti jika saya tertinggal jauh di belakang masih banyak orang dibelakang saya. Tapi beruntung, kali ini saya tidak ditinggal meskipun gelap sudah berganti terang.

Setelah sampai di persimpangan jalur Kopeng di sekitar pos Watu Tulis, jalur mulai terbuka dan sudah dekat dengan pos Helipad.
Pemandangan dari atas pos Helipad terlihat begitu indah, terlihat satu gunung dengan puncak berwarna putih membentang, sayang saya tidak bertanya gunung apa yang saya lihat tersebut sehingga masih menyisakan tanya hingga saat ini.

View pagi pukul 05.35
Tepat pukul 06.27 kami tiba dipersimpangan, persimpangan menuju puncak Syarif (Pregodalem) di sebelah kiri dan puncak Kentheng Songo di sebelah kanan.

Cukup lama kami beristirahat disini bersama pendaki lain, sampai akhirnya Rahel memutuskan akan mendaki Pregodalem terlebih dahulu. Awalnya ego saya malas ikut menanjak ke Pregodalem, namun hati saja bilang "udah sana, berani sendirian disini angin kenceng?". Berbekal sedikit racun dari Rahel yang bilang "muncak Syarif dari sini paling cuma 15 menit doang", akhirnya saya mengekor di belakangnya.

Benar, hanya sekitar 15 menit kami sudah sampai di puncak Pregodalem dengan ketinggian 3119 Mdpl disambut oleh cuaca dan pemandangan yang sangat cerah dan indah ditambah ada semburat pelangi menyembul di balik awan namun sangat dingin. *Iya, Stocking hitam yang biasa saya gunakan sebagai lapisan dalam celana emessh lupa dibawa.
Ada Pelangi yang mengintip malu

Puncak Syarif dengan view nya yang luar biasa

 Puas berfoto dan menikmati keindahan dari puncak Syarif, kami turun dan menuju puncak Kentheng Songo.

Perjalanan dari persimpangan menuju puncak Kentheng Songo membutuhkan waktu sekitar 30 - 40  Menit, diawali jalan berkelok dengan jurang memanjang di sisi sebelah kiri. Terdapat tanjakan yang ingin membuat saya menangis saking lelahnya, namun Rahel selalu dalam diamnya memberikan saya semangat. *Mungkin saja karena saya takut  dia ngedumel dalam hati karena saya lelet ga bisa ngejer langkahnya, padahal menurut saya, saya sudah cepet jalannya. :(

Tanjakan menuju puncak Kentheng Songo

Akhirnya, kami sampai di trek yang sebelumnya membuat saya penasaran setengah mati " Jembatan Setan", ternyata asyik sekali menelusuri jembatan ini sampai saya dibuat kengerian namun sangat antusias. Jika ada yang bertanya, apa saja yang kamu rindukan dari gunung Merbabu?, saya akan jawab jembatan setan yang paling utama.
Candid muka takut tapi antusias di Jembatan Setan
Setelah melewati Trek sadis dan ngangenin ini, sekitar 15 menit kami tiba di puncak Kentheng Songo. Pemandangan dari puncak Kentheng Songo tidak kalah indahnya dengan pemandangan dari puncak Syarif. Gunung Merapi yang gagah berdiri terlihat begitu sangar namun memanggil-manggil untuk dikunjungi.
Saya sangat bersyukur pendakian di musim hujan kali ini, tidak membuat pakaian saya basah karena hujan, cuaca sangat cerah dan sangat bersahabat.
Tuh Merapi dilihat dari Puncak Kentheng Songo


Dari puncak Kentheng Songo, gunung Merapi terlihat begitu jelas dan terlihat begitu dekat. Memandang ke arah barat akan terlihat gunung Sindoro dan Sumbing yang sering disebut gunung fantasi anak SD, Tampak juga gunung Telomoyo dan Ungaran, di sebelah Timur terlihat gunung Lawu.
Merapi dan Savana Merbabu via Selo


Setelah puas menikmati keindahan dari ketinggian 3142 Mdpl, pukul 08.21 kami turun karena gerimis mulai turun.

Jalur Menurun dari Puncak Ketheng Songo menuju Jembatan Setan



Dari puncak Kentheng Songo kembali ke pos 2 membutuhkan waktu sekitar 1 - 1,5 jam perjalanan yang lumayan bisa membuat kuku jempol kaki copot.

Setelah beristirahat, makan dan membereskan tenda kami turun kembali melalui jalur Wekas untuk melanjutkan perjalanan ke Basecamp bang Gopal dan kemudian menuju Basecamp Sawit, Basecamp pendakian gunung Andong.

Sekitar pukul 13.37 kami tiba di Basecamp, beristirahat, mandi dan repacking barang-barang yang kami tinggalkan di basecamp sebelumnya.

Untuk menuju basecamp Sawit, kami menggunakan jasa ojek motor bang Gopal dengan tarif Rp. 35.000,-/orang.

--------------------------------------------------------------

Setelah melengkapi logistik, kami menuju basecamp Sawit untuk beristirahat (lagi),  makan enak kemudian mengurus perizinan. *saya lupa berapa simaksi nya, kalau tidak salah sekitar Rp. 5000 - Rp. 10.000,-/orang.

Menurut Wikipedia, Gunung Andong adalah sebuah gunung bertipe perisai di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Gunung ini belum pernah mempunyai aktivitas meletus. Gunung Andong terletak di antara Ngablak dan Tlogorjo, Grabag dan berketinggian sekitar 1726 Mdpl. Gunung Andong merupakan salah satu dari beberapa gunung yang melingkari Magelang. Berdampingan dengan gunung Telomoyo, gunung ini berada di perbatasan wilayah Salatiga, Semarang, dan Magelang.

Gunung Andong merupakan salah satu gunung kekinian yang banyak dikunjungi oleh para pendaki maupun pejalan. Sepanjang mata saya melihat gunung ini lebih banyak dikunjungi anak-anak Abegeh yang sedang kasmaran. Saya jadi merasa "tua" karena beberapa kali berpapasan dengan cabe-cabeab dan terong-terongan di sepanjang perjalanan naik dan turun.

Wajar saja gunung ini diminati oleh banyak kalangan, selain karena jarak tempuhnya yang cukup pendek pemandangan yang ditawarkan juga sangat indah, bibir ini tidak ada hentinya mengucap pujian dan syukur kepada pemilik semesta disini.

Perjalanan dari basecamp menuju puncak Jiwa gunung Andong membutuhkan waktu sekitar 1,5 - 2 jam saja. Jarak tempuh yang singkat tersebut, ternyata mampu membuat saya ingin pulang saja dan kembali ke basecamp karena sudah kelelahan di pendakian Merbabu sebelumnya.
Namun, manusia di depan saya tidak kenal kata lelah-_-
Ketika dia berhenti menunggu saya, saya tetap meminta dia untuk melanjutkan perjalanan karena di gunung andong ada pos Watu Pocong yang membuat saya sedikit takut. *banyak sih

Setibanya di Puncak Jiwa, angin kencang dan dingin yang amat sangat menyambut kami dengan sangarnya. Keinginan untuk melihat hamparan bintang pun sirna digantikan dengan ingin segera masuk ke dalam sleeping bag, tidak perlu makan hanya ingin meringkuk dalam sleeping bag.

Setelah sedikit membantu Rahel memasang tenda dan flysheet, saya langsung masuk tenda dan tepar. *Saya yakin disini Rahel kesal luar biasa tapi saya bodo amat, bayangan Hypothermia menghantui saya kala itu.


Senin, 15 Februari 2016


Sunrise dari Puncak Jiwa Andong

Pukul 05.00 pagi, saya mendengar ribut-ribut dari luar tenda, saya yakin para pemburu Sunrise sedang beraksi. Saya kemudian membangunkan Rahel, tapi dia masih belum ingin keluar dari kantong kepompongnya.
Akhirnya saya sendiri keluar dari dalam tenda, dan wusssss dingin yang menusuk hingga ketulang segera menyerang saya. Ingin kembali meringkuk ke dalam tenda, namun keinginan untuk berburu sunrise mengalahkan keinginan itu.

Dari cafe full Ac, yang tidak berada jauh dari tenda kami saya duduk mencoret-coret puisi di diary saya sambil memandang semburat jingga sang fajar yang lama kelamaan berubah bentuk membulat. Demi melihat indahnya sang fajar yang mulai menyingsing, Serta merta saya kembali ke dalam tenda, megambil Handphone dan memaksa Rahel untuk keluar dari Sleeping bag. Setelah dia bangun dan mengumpulkan nyawa, saya keluar dari tenda dan mengabadikan momen pagi itu.

Setelah Rahel keluar dari tenda, kami menuju puncak Gunung Andong menyaksikan view yang Masyaallah indahnya luar biasa, membuat saya malu pada diri saya sendiri karena kesal saat menuju puncak Jiwanya. Dari puncak Jiwa menuju puncak Andong, hanya membutuhkan waktu 10 menit saja. Pemandangan di puncak Andong, rasa-rasanya mampu membuat saya untuk bertahan semalam lagi disana.

Andong Peak
Pemandangan Hutan dan Desa dari Puncak Andong

Puas menikmati pemandangan kami kembali ke tenda untuk masak, menikmati makanan yang kami olah di hadapan gunung Merapi dan Merbabu yang berdiri tegak di depan kami.

Perjalanan turun hanya membutuhkan waktu sekitar 45 menit - 1 jam saja, namun tetap harus hati-hati karena cukup licin dan terjal.

----------------------------------------------------------------

Biaya yang dibutuhkan Start Jakarta,

* Kereta Api Kartajaya tambahan  Rp. 110.000,-
* Stasiun Tawang - Pasar Sapi Rp. 10.000,-
* Pasar Sapi - Pasar Ngablak Rp. 8.000,- 
* Pasar Ngablak - Basecamp Wekas Rp. 25.000,-
* Simaksi Merbabu Rp. 5.000,-
* Basecamp wekas - Basecamp Sawit Rp. 35.000,-
* Simaksi Andong Rp. 10.000,-
* Pasar Ngablak - Pasar Sapi Rp. 8.000,-
* Pasar Sapi - Terminal Rp. 3.000,-
* Bus Executive tujuan Jakarta (lupa nama busnya) Rp. 180.000,-
 
Total Rp. 394.000,- Exclude Logistik dan jajan











Rabu, 06 April 2016

Posted by nevayana surbakti in , , | 00.44 3 comments
Foto Keluarga di Puncak Merapi
Gunung Dempo merupakan gunung tertinggi yang terletak di perbatasan Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Bengkulu tepatnya di kota Pagar Alam yang dikenal memiliki pemandangan indah dan juga kopi Robusta nya yang nikmat. 

Gunung berapi yang masih aktif dengan type Stratovolcano ini memiliki dua puncak, yaitu puncak Dempo yang berada di ketinggian 3159 Mdpl dan Puncak Merapi yang ketinggiannya belum dapat dipastikan, Namun yang dapat dipastikan adalah puncak Merapi merupakan puncak tertinggi yang dimiliki oleh gunung Dempo.

Perjalanan menuju kota "Besemah" Pagar Alam dapat ditempuh sekitar 7 - 8 jam dari kota Palembang dengan menggunakan kendaraan Pribadi atau travel, dan 8 - 10 jam jika menggunakan transportasi umum seperti bus.

Jika menggunakan kendaraan Pribadi, para pengunjung yang ingin melakukan kegiatan pendakian dapat menitipkan mobil di desa tertinggi, yaitu kampung Empat yang juga merupakan basecamp pendakian.

Apabila perjalanan dilakukan menggunakan bus umum, para pengunjung dapat turun di terminal pagar alam dan mencarter angkot untuk menuju pabrik teh PTPN VII, Perjalanan dari terminal kota pagar alam ke kampung empat membutuhkan waktu sekitar 30 menit. 
Namun terkadang, apabila sudah terlalu malam bus akan mengantar para pengunjung langsung menuju tujuan masing-masing termasuk ke kampung Empat tanpa ada tambahan biaya.

Ada dua jalur umum yang biasa dilalui pendaki jika ingin mengunjungi Dempo, yaitu Rimau dan Kampung Empat.

-------------------------------------------------------------

Kamis, 24 Maret 2016 
"Ya allah, Semoga pesawatnya Delay"

Pada tanggal 24 Maret 2016 lalu, saya beserta kedua Travelmate saya berkesempatan mengunjungi gunung dengan trek sadis ini. Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk merencanakan kunjungan ke gunung berapi dengan kawah elok ini, Dua minggu sebelum keberangkatan salah satu teman berceloteh ingin menginjakkan kaki di tanah tertinggi Besemah yang disambut baik oleh dua dari kami. ( Pada akhirnya saya diberitahu, bahwa saat itu Ridwan, yang memiliki ide menginjakkan kaki di Dempo hanya bercanda namun terlanjur tidak enak karena saya dan Rahel langsung menyetujui idenya).

Sebelum berangkat, saya menghubungi beberapa "Adik" saya di sebuah organisasi Kemapalaan yang juga merupakan tempat saya berorganisasi ketika masih mengenyam bangku kuliah dahulu, Masopala Universitas Sriwijaya,
Gayung bersambut, ketua umum Masopala yang lebih dikenal dengan panggilan "Ndong" alias "Gerandong" menyanggupi permintaan Ayunda nya yang ingin mengadakan "reuni" kecil dengan gunung suci warga besemah.
Kami juga mendapat 3 personil lain yaitu Ika, yang merupakan mahasiswi tingkat awal di Fakultas Ekonomi Unsri, Erik yang merupakan sahabat saya sejak kecil dan Leo sepupu Erik yang sudah saya kenal juga sebelumnya.

Saya, Rahel dan Ridwan memilih menggunakan penerbangan singa merah dari ibukota yang dijadwalkan terbang pada pukul 18.40 WIB.

Kali ini banyak sekali pengalaman tidak mengenakkan menuju bandara, Kemacetan panjang di perjalanan menuju bandara karena longweekend. Perjalanan yang biasa saya tempuh selama kurang lebih satu jam, membutuhkan waktu sekitar 3 jam untuk sampai. 
Saya terlambat, pukul 18.40 saya masih diperjalanan menuju bandara, saya sudah pasrah dan tak hentinya berdoa agar pesawat yang akan kami tumpangi Delay.

Beruntung, Ridwan sampai terlebih dahulu dan melakukan check-in atas nama saya dan Rahel, dan lebih beruntung lagi karena doa saya ternyata didengarkan Allah. *Sujud Syukur :D
Selain karena murah, untuk satu alasan inilah, kenapa saya tidak pernah memblacklist L**n Air, walaupun sering delay tapi saya tidak pernah kapok.

***

Sekitar pukul 21.30 kami tiba di bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang. Di Bandara kami dijemput oleh Ndong dengan mobil rentalan yang akan kami gunakan menuju kota Pagar Alam.

Sambil mencari warung pempek yang masih buka, kami menjemput Erik dan Leo di daerah pasar Kuto. *Mereka preman pasar eniwei..

Pelajaran no 1. Spare waktu yang agak panjang dari rumah - bandara jika akan bepergian menggunakan pesawat apabila sedang musim liburan alias long weekend. Ga mau kan bayar ojek 100.000 hanya untuk perjalanan 5 menit????

-------------------------------------------------------------

Jum'at, 25 Maret 2016

Sekitar pukul 06.00 pagi kami sampai di kota Pagar Alam dan langsung menuju kampung Empat, Sepanjang perjalanan terasa hawa dinginnya bumi besemah yang menusuk hingga ke tulang.
Pemandangan hamparan kebun teh nan luas, pendar mentari pagi, jalan berkelok dan berbatu, penduduk yang ramah menyapa menjadi sajian sarapan nikmat kami pagi itu.

Sekitar pukul 07.00 kami tiba di kampung empat dan beristirahat di warung yang sering dijadikan tempat istirahat, mandi dan makan oleh para pendaki dan pejalan seperti kami.

Setelah puas beristirahat dan menyelesaikan segala perizinan, pukul 09.36 kami memulai perjalanan menuju pintu rimba.

*FYI. Simaksi hanya Rp. 2000,- per orang

Nevayana surbakti
Eksis di titik awal pendakian

Best Travelmate Ever


Setelah berjalan sekitar 15 Menit, kami bertujuh sampai di titik awal pendakian gunung Dempo via kampung Empat yang berada di ketinggian 1575 Mdpl. Disini kami berdoa untuk kelancaran perjalanan kali ini.
Setelah ini kami akan menelusuri trek lembab disepanjang kebun teh, agak sedikit mirip dengan pendakian di titik awal gunung Cikuray via Pemancar.

Tidak butuh waktu lama untuk  mencapai pintu Rimba, sekitar 20 menit berjalan kami sampai di pintu rimba dan beristirahat sejenak menunggu team kami yang belum sampai.
Erik di depan pintu Rimba


Dari pintu rimba menuju Shelter 1 dan Shelter 2 hingga puncak jangan harap ada bonus jalanan datar walau hanya 3 Meter, perjalanan full menanjak, licin dan curam, disinilah salah satu letak pesona gunung Dempo.

***

Pintu Rimba - Shelter 1

Perjalanan dari pintu rimba ke Shelter satu membutuhkan waktu 2 - 3 jam perjalanan, kami berjalan agak santai karena waktu kami cukup panjang.

Vegetasi yang terdapat di perjalanan menuju Shelter satu sangat beragam, salah satu yang paling dominan adalah perdu buah arbei hutan (Rubus Reflexus Ker) yang masih merupakan keluarga Raspberri, Perdu ini biasanya tumbuh di ketinggian antara 1000 - 2600 Mdpl. Buah yang biasa dikonsumsi siamang dan burung ini, bisa dikonsumsi oleh manusia juga loh, rasanya sedikit asam dan kecut tapi akan berubah manis jika makan buah ini sambil lihatin saya. *Kidding :D

Nevayana surbakti
Ridwan di Trek menuju Shelter Pertama


Setelah berjalan menanjak sekitar 2 jam lebih Rahel, Ridwan dan saya tiba di Shelter 1 dan beristirahat cukup lama menunggu anggota team kami lainnya sampai.
Cukup lama beristirahat, sekitar 1 jam lebih yang kami isi dengan mengambil air, makan snack, tidur dan bercanda.

Shelter satu merupakan dataran kecil yang mampu menampung sekitar 3 Tenda kapasitas kecil, namun tidak disarankan untuk mendirikan tenda disini karena tanahnya sedikit miring dan banyak terdapat pohon tinggi.

Sedikit informasi, disarankan untuk mendirikan tenda di tempat yang agak jauh dari pohon tertinggi, karena jika hujan dan petir menyambar pohon tertinggi adalah sasaran utamanya. *Informasi dari kak Jaja, Senior Masopala ketika materi Survival gunung hutan.


Shelter 1 - Shelter 2

Setelah puas beristirahat, perjalanan kami lanjutkan kembali. Jalur pendakian dari shelter 1 menuju shelter 2 sangat bervariasi, namun didominasi oleh lagi-lagi tanjakan terjal tanpa bonus semeter pun. Perjalanan menuju shelter 2 adalah perjalanan yang saya nanti-nantikan karena sudah lama saya rindu dengan trek "Dinding Lemari" nya Dempo, 

Nevayana surbakti
Rahel melintasi Trek Menuju Dinding Lemari ( kak, beli kerupuk nya donk :p)

Nevayana surbakti
Ridwan melintasi Trek Dinding Lemari

Vegetasi menuju shelter 2 sudah tidak lagi sama dengan vegetasi sebelumnya, pemandangan sekitar di dominasi oleh pohon-pohon besar dengan tipe hutan Montana, seperti hutan di gunung Gede Pangrango.

Shelter 2 cukup luas dan bisa menampung sekitar 4 Tenda, disini juga sering dijadikan sebagai tempat camp oleh para pendaki yang sudah tidak sanggup menuju pelataran.

Setelah berjalan sekitar 2,5 jam lagi-lagi kami bertiga, Ridwan, Rahel dan saya sampai di Shelter 2 terlebih dahulu. Kami beristirahat dan menunggu yang lainnya cukup lama. Cukup lama akhirnya Erik menyusul kami dan menginformasikan bahwa ada kemungkinan Ndong turun bersama Ika karena Ika sudah tidak sanggup melanjutkan perjalanan.

Kami tetap menunggu kemungkinan Ndong dan Ika serta Leo di Shelter 2, Hujan turun dengan begitu lebatnya memaksa kami mendirikan flysheet untuk tempat berteduh sementara.

Dingin dan lapar merajai momen saat itu, hingga kerupuk yang tergantung di tas Carriel Rahel terlihat begitu menggemaskan, seakan merayu kami dan mengatakan "Makan aku donk kaka". Iman kami tidak kuat, kerupuk Jangek yang rencananya akan kami lahap di pelataran ketika camping nantinya, kami lahap di shelter 2 bersama para pendaki kelaparan lain yang berteduh di Flysheet kami.

Satu hal yang saya aminkan kenapa Ndong bisa menjadi ketua umum Masopala, karena memang dia memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat. Ika yang sudah give up bisa dia kembalikan semangat nya hingga akhirnya melanjutkan perjalanan, menyusul kami ke Shelter 2. Yess, team kami lengkap.


Shelter 2 - Cadas - Makam - Top Dempo

Perjalanan terasa semakin melelahkan, sangat melelahkan dan engap karena kami terpaksa menggunakan Raincoat plastik untuk melindungi tubuh dari hujan.

Trek yang dilewati dari Shelter 2 menuju Cadas sudah sangat terbuka, disini tanjakan yang dilalui lebih tinggi dari tanjakan-tanjakan terjal sebelumnya sehingga diperlukan kekuatan lebih besar daripada melalui trek sebelumnya. Dibutuhkan waktu sekitar 1,5 - 2,5 jam dari Shelter 2 menuju Puncak Dempo.

Perjalanan menuju trek batu yang biasanya disebut Cadas sangat menguras banyak tenaga, terlebih kami berjalan ketika sang mentari sudah mulai lelah menerangi perjalanan kami.

Saya masih bersemangat memanjat menuju Cadas ditemani cahaya senter dari Powerbank Ridwan, Ndong ada didepan saya menerangi jalan saya dengan headlampnya ketika melalui tanjakan yang sangat tinggi dan terjal.
Sementara Ika, dia ada di depan bersama team lain yang diminta Ndong untuk membantunya berjalan.

Saya sempat kewalahan, letih dan kembali menyebalkan, perut saya lapar yang berakibat saya menjadi lebih garang daripada singa. Saya ingin teriak " Woii, saya cewek loh cewek jangan lupain kalo saya ini cewek".
*Sekuat apapun fisik dan semangat saya yang kalian lihat, tetap saja saya lemah dan tidak sekuat apa yang terlihat, Saya hanya mencoba berusaha dan mencoba tidak membatasi kemampuan saya.

Pelajaran No. 2, Isi tenaga sebelum Nanjak. Laper ditambah capek itu bisa bikin kamu kacau dan menyebalkan. Iya seperti saya -______-

Setelah memaksa diri berjalan, bersama partner all in saya Erik dan Leo kami tiba di TOP Dempo. Beruntung beberapa kali saya minta untuk berjalan di depan saya mereka bersikukuh tidak mau meninggalkan saya dan tetap berjalan di belakang saya :)
Lega sih ditungguin, tapi tetap nggak enak hati karena mereka lambat karena saya.


Top Dempo - Hutan Lumut - Pelataran

Setelah beristirahat sejenak di Puncak Dempo, kami mulai menuruni hutan lumut. Seperti namanya vegetasi disini didominasi oleh lumut, pohon-pohon dan batu dijadikan sebagai inang oleh lumut untuk berkembang.

Trek hutan lumut terbilang cukup terjal dan juga licin, sehingga harus sangat berhati-hati melangkah dan pintar-pintarlah mencari jalur.
Nevayana surbakti
Hotel Bintang seribu di Pelataran

Sekitar 10 Menit berjalan menuruni hutan lumut, kami tiba di pelataran. Pelataran merupakan sebuah savana yang cukup luas dan bisa menampung puluhan tenda. Pelataran diapit oleh dua puncak yaitu puncak Dempo dan Merapi.
Sekilas pelataran terlihat mirip seperti Alun - Alun Surya Kencana (Surken) Gunung Gede di Provinsi Jawa Barat, Namun Surken jauh lebih luas.

Di pelataran terdapat satu sumber air yang biasa disebut telaga putri, airnya sangat dingin dan jernih. Untuk menuruni telaga putri, butuh sedikit perjuangan karena licin dan harus menggunakan tali webbing.
Sayangnya masih banyak pendaki yang mencuci piring dan membuang sisa makanan di telaga ini sehingga di beberapa sudut air terlihat kotor oleh butiran nasi dan mie.
*Banyaknya batu dan cekungan membuat sampah tidak mengalir namun mengendap ke bagian cerukan.

Di pelataran dua tenda kami berdiri gagah melindungi kami dari dingin yang semakin menusuk.
Nevayana surbakti
Menjalin persahabatan dalam hangatnya tenda
Neva - Ridwan - Erik - Rahel - Leo
-------------------------------------------------------------

Sabtu, 26 Maret 2016

Pelataran - Puncak Merapi

Setelah mencuci piring membersihkan sisa makanan kami semalam, kami melanjutkan summit menuju puncak Merapi / Puncak api Gunung Dempo.

Perjalanan dari Pelataran menuju puncak merapi membutuhkan waktu sekitar 20 - 30 menit dengan jalanan yang full menanjak namun tidak terlalu sulit. Vegetasi didominasi kayu api yang merupakan tumbuhan khas gunung Dempo, Trek yang dilalui berupa batuan dan kerikil dengan kemiringan sekitar 40 derajat.

Rahel, disusul Ridwan kemudian saya sampai di puncak Merapi terlebih dahulu. Saya melihat Rahel diam menikmati Bentangan kawah yang saat itu berwarna abu-abu terhampar di depannya dari balik bebatuan.* Sepertinya dia meringkuk kedinginan

Saya juga melihat Ridwan yang petakilan tidak bisa diam sedang menyusun blok-blok huruf Keyboard membentuk namanya, Keyboard malang yang dia rusak dari kantornya. 

Dan saya duduk sejenak beristirahat sambil menikmati pemandangan indah di depan saya sambil mensyukuri banyak hal dalam hidup saya.
Mensyukuri nasib saya bahwa saya memiliki Travelmate baik seperti Rahel yang selalu menyemangati saya dalam diamnya. 
Mensyukuri bahwa saya punya sahabat seperti Ridwan Barqoi yang petakilan dan suka usil, yang selalu membuat pendakian tidak membosankan.
Mensyukuri bahwa saya memiliki sahabat terbaik seperti Erik yang know me so well, tempat saya cerita masalah kehidupan, minta jajan, minta cokelat dan semacamnya.
Mensyukuri bahwa keputusan saya untuk menjadi seorang indian muda di Masopala 8 tahun lalu, menghadirkan adik-adik yang begitu baik dan menghormati saya.

Nevayana surbakti
Puncak Kawah Merapi 

Setelah puas bersyukur, hal selanjutnya yang saya lakukan adalah  take some selfie of course.

***

Nevayana surbakti
Partner all in

Tidak lama, Erik dan Leo sampai yang disusul juga oleh Ika dan Ndong. Kami bertujuh, sampai di puncak utama gunung Dempo dengan keadaan bahagia dan of Course cemong.

***

Piknik ceria ala kita

Setelah puas menikmati keindahan puncak utama, kami kembali turun menuju pelataran. Rahel sudah turun terlebih dahulu, memasak nasi untuk memberi makan cacing di perut kami yang sudah  mulai konser karena kelaparan.

Saya dan Ridwan menyusul kemudian, dan membantu memasak lauk karena nasi sudah ditanak oleh ahlinya. *Meskipun disini Ridwan sebenarnya tidak membantu, hanya bercerita bercerita dan bercerita padahal ditugaskan mengambil air, yah seperti mengulur-ulur waktu hingga ada salah satu anggota team yang turun.

Nevayana surbakti
Gerombolan kelaperan

Setelah semua angota team kami lengkap, kami makan bersama diatas kertas nasi basah dengan menu ala hotel bintang seribu. Persaudaraan itu tidak sederhana, kamu harus naik turun gunung jatuh bangun dahulu kemudian bisa menciptakan persaudaraan tanpa ikatan darah yang kuat seperti kami.

***

Nevayana surbakti
Foto Keluarga di puncak Dempo minus Ika
Ibrakh "Ndong" - Leo - Neva - Erik - Rahel - Ridwan
Trio ketinggalan Pesawat

Sekitar pukul 12.24 kami kembali menelusuri jalan menanjak menuju puncak Dempo,  untuk kembali pulang melintasi jalur belum resmi yang dibuka oleh Mapala Alfedia Palembang.

Cukup lama kami beristirahat mengumpulkan tenaga di puncak Dempo, hingga pada akhirnya kami melanjutkan perjalanan turun pada pukul 14.25  yang diawali trek landai hutan yang sempat terbakar.

*Untuk naik dan turun melalui jalur barat yang dibuka oleh mapala Alfed ini, harus atas seizin pengurus mapala alfed terlebih dahulu.
Jalur Turun menggunakan Webbing


Waktu yang dibutuhkan untuk turun sekitar 3 - 4 jam dari puncak Dempo, namun jalur ini terbilang lebih aman dibandingkan turun melalui jalur umum.

***
Banyak cerita yang terjadi diperjalanan pulang, jatuh bangun menelusuri trek yang licin sudah menjadi hal biasa. Kaki terluka dan lecet juga sudah tidak terasa lagi perihnya.

Pengalaman Rahel yang sudah Pro terjatuh ala smackdown pun malah membuat Ridwan menahan tawa, bukan bergegas membantu.

Dan saya juga punya pengalaman memalukan diperjalanan kali ini, bayangkan saja di tengah hujan deras, hawa dingin dan kabut yang menutupi semesta saya nyasar turun ke jurang dan SENDIRIAN.
Saya menangis memanggil nama Rahel, Ridwan dan Mba Astri (Teman baru ketika turun) namun tidak ada yang mendengar, tidak ada orang yang lewat karena jalur tersebut memang sepi tidak dilewati.

Saya menangis, benar - benar menangis ketakutan hal negatif menyeruak masuk ke dalam fikiran saya seperti jika saya harus bertahan disini berapa lama saya akan bertahan di tempat dingin dengan pakaian basah kuyup?, jika saya diserang hypotermia bagaimana?, jika saya harus survive hingga ada yang melakukan evakuasi saya kan bertahna berapa lama sementara saya tidak punya makanan?, bagaimana jika ada harimau dan ular?.

Terlintas di benak saya, nasehat mamak yang sering melarang naik gunung. Disitu saya merasa sangat menyesal tidak mendengarkan omongan beliau,

Terlintas juga di benak saya, ini pasti karena saya nakal dan tambeng, mendaki dan melanggar peraturan. Di gunung ini, dahulu terdapat peraturan tertulis bahwa wanita yang sedang datang bulan tidak boleh mendaki dan saat pendakian ini saya sedang kedatangan tamu bulanan.

Dengan sisa kekuatan dan berdoa sungguh-sungguh, saya kembali memanjat menuju titik awal saya menemukan jalan buntu. Saya pasrahkan hidup saya jika memang harus berakhir mengenaskan. Allah kembali menyelamatkan saya melalui tiga bocah kecil yang mendengar suara jeritan saya ketika minta tolong.

Lega bercampur takut saya rasakan saat itu, yakin dan tidak yakin bahwa 3 anak kecil yang datang membantu saya manusia atau bukan :D
Hahahhahahhaaaa

Akhirnya saya sampai di basecamp dengan muka yang saya yakin masih menunjukkan sisa-sisa tangisan saya sebelumnya.


"Setiap perjalanan selalu menyisakan cerita dan kenangan yang berbeda meskipun berkali-kali kamu sudah menginjakkan kakimu disana"


Pelajaran No. 3  jangan pernah paksa teman kamu, untuk meninggalkan kamu dijalur terlebih dalam cuaca buruk dan gelap.

***
Rangkuman Perjalanan

Day 1
Kamis, 24 Maret 2016 

[ 20.00 - 21.00 ] Flight Jakarta - Palembang
[ 23.00 - 07.00 ] Menuju pagar alam

Day 2
Jum'at, 25 Maret 2016

[ 06.00 - 07.00 ] Tiba di kampung VI
[ 07.00 - 09.30 ] Istirahat
[ 09.36 - 09.57 ] Sampai di titik awal pendakian
[ 10.18 - 10.38 ] Sampai di pintu rimba
[ 11.00 - 13.00 ] Sampai di Shelter 1dan istirahat panjang
[ 14.00 - 16.13 ] Sampai di Shelter 2 istirahat
[ 17.30 - 19.00 ] Sampai di Top Dempo
[ 19.15 - ------  ] Sampai di Pelataran, mendirikan tenda, makan dan istirahat

Day 3
Sabtu, 26 Maret 2016

[ 08.20 ] Menuju Puncak Merapi
[ 08.45 ] Sampai di puncak merapi , enjoy puncak
[ 10.00 ] Kembali ke pelataran
[ 12.42 ] Nanjak Hutan Lumut menuju Top
[ 13.10 ] Sampai di puncak
[ 14.25 ] Kembali turun
[ 18.30 ] Tiba di basecamp
[ 00.00 ] Menuju Palembang


***
Sekian










Selasa, 05 April 2016

Posted by nevayana surbakti in | 19.13 No comments



Kenapa sih para pendaki itu suka banget naik gunung?, Bukannya naik gunung itu capek, dingin, ga bisa tidur di kasur empuk dan ga bisa makan enak?

Saya sendiri yang bukan pendaki tapi suka mendaki sering bertanya-tanya tentang hal itu. Terkadang di jalur pendakian saya sering berfikir "ini terakhir kali aku mendaki, capek! Mending istrahat di kamar, nonton, makan atau ngemall".

Hingga akhirnya setelah bertapa 7 hari 7 malam *ini bohong, saya sampai pada beberapa alasan kenapa naik gunung bikin kecanduan.

1. Naik Gunung Bukan Hanya Melepas Penat Setelah Berhari-hari Digembleng Rutinitas

Awalnya saya hanya mencari-cari alasan untuk kembali mendaki, Alasan untuk menghilangkan kepenatan karena padatnya pekerjaan atau terkadang karena problematika hati.

Namun, saat ini saya sadari bahwa saya mendaki bukan hanya untuk melepas penat atau menghindar dari problematika hidup. Alasan utama nya adalah saya rindu, hanya rindu itu saja. Setiap saya berhasil memberdayakan kaki menuju ketinggian, selalu ada kepuasan tersendiri dalam hati. Mungkin juga saya sudah kecanduan hingga saya selalu merindukan hutan dan gunung dengan daypack/carriel tinggi bersandar di gendongan saya.

2. Mendaki Bukan Selalu Tentang Puncak, Tapi Kamu Kalah Jika Tidak Sampai Puncak

Ada ungkapan yang menyatakan bahwa mendaki itu adalah perjalanan hati, fisik yang lelah akan bertahan karena niat yang kuat.
Memang benar yang terpenting dari mendaki bukanlah puncak, namun dapat kembali ke rumah dengan selamat tanpa kurang suatu apapun. Tetapi, coba bayangkan perjuanganmu dari rumah, perjalanan dari pos 1 ke pos lainnya, uang yang sudah kamu keluarkan dan hanya karena ego mu bilang capek kamu nyerah gitu aja?.
*Lain cerita kalo sakit, jangan maksain diri deh (lagian tubuh ga fit pergi ke gunung, kamu yang tahu kondisi badan kamu jadi kalo memang ga bisa ga usah maksa pergi juga kali).

Pernah satu kali, saya pergi mendaki dan ga sampe puncak karena males bangun pagi buat summit, saya cari-cari alasan membenarkan apa yang saya lakuin misalnya capek, dingin dan banyak temen ga mau muncak. Dan hasilnya sampe sekarang saya NYESEL!!!

Mendaki tapi ga muncak, mending ga usah mendaki lebih baikmeni pedi aja di salon!!!!

3. Mendakilah, Maka Kamu Akan Tahu Nikmatnya Makanan Sederhana

Ada yang bilang, makan apa aja kalo digunung itu enak dan itu emang bener. Mie instan yang digadoin aja itu udah enyakkkkkk banget deh.
Makanan sederhana seperti mie instan, sup ala-ala, sosis oseng-oseng, telur dadar itu udah juara banget dah.

Jika biasanya di rumah kita bisa pilah-pilih makanan, ga suka masakan si emak beli aja makanan warung atau order makanan dr resto favorit. Di gunung, kamu ga bisa lah order Yoshi**ya.


4. Dengan Mendaki Kamu Belajar Mengenal Tuhanmu

Untuk mengenal tuhan, kamu bukan hanya bisa lakukan dengan beribadah di rumah-rumah ibadah, majlis taklim atau perkumpulan agama lainnya.

Dengan berbaur dengan alam kamu juga bisa mengenal siapa tuhanmu dari apa yang telah ia ciptakan, dari caranya menyelamatkanmu dari berbagai halangan selama di alam. Bukan hanya itu, selama di perjalanan bibirmu tak kan ada rasa letihnya mengucap pujian, syukur dan doa.


Ntar di sambung deh kalo lagi mood...
bye









Search

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter