Now I see the secret of making the best person, its grow in the air and to eat and sleep with the earth -Soe Hok Gie-

Senin, 19 Oktober 2015

Posted by nevayana surbakti in | 22.35 No comments
Sepertinya sudah terlalu lama saya tidak cuap-cuap lagi tentang naik gunung. *yess sudah beberapa bulan saya meninggalkan carrier dan peralatan mendaki saya lainnya.

Namun ada beberapa kegiatan yang paling saya sukai ini dan belum saya tuliskan, kali ini saya hanya kan menulis pengalaman yang mungkin sudah "basi". Biarlah kenangan-kenangan ini menjadi cerita yang kan selalu saya kenang nanti. *lebay

Gunung Slamet, merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah dengan kawah indah bernama Segoro Wedi. Seringkali disebut atap Jawa Tengah. Berdiri kokoh dengan ketinggian 3.428 Mdpl dan terletak diantara lima kabupaten yaitu Brebes, Banyumas, Purbalingga, Tegal dan Pemalang. 

Puncak gunung ini disebut "Puncak Surono" karena terdapat tugu Surono untuk mengabadikan nama bapak Surono yang meninggal di puncak Slamet, Berdasarkan informasi dari seorang relawan yang juga supir yang mengantarkan kami ke basecamp mengatakan jasad bapak Surono hilang tak tau dimana rimbanya.

Meskipun tergolong gunung dengan trek yang sulit, namun gunung ini cukup banyak penggemarnya. Apalagi gunung ini sudah lama sekali ditutup, membuat para pendaki rindu merasakan sejuk dan dingin hutannya.

Untuk menuju gunung Slamet ada beberapa jalur yang bisa ditempuh. Jalur yang paling banyak dilalui adalah jalur Bambangan yang yang terletak di desa Karangreja, Purbalingga. 
Berikut ini merupakan beberapa jalur untuk menuju puncak gunung Slamet. 
  1. Baturaden ( Purwokerto) merupakan jalur resmi
  2. Bambangan (Purbalingga) merupakan jalur resmi
  3. Kaliwadas ( Brebes) merupakan jalur resmi
  4. Dukuhliwung ( Tegal) merupakan jalur tidak resmi
  5. Guci (Tegal) merupakan jalur tidak resmi
  6. Kaligua ( Bumiayu) merupakan jalur tidak resmi
Di gunung dengan Trek yang menurut saya sadis apalagi di musim kemarau ini, terdapat sebuah mitos yang berkembang di masyarakat. Mitos tersebut terkait dengan ramalan ki Jayabaya yang mengatakan suatu saat pulau Jawa akan terbelah dua, hal ini dikaitkan apabila gunung Slamet meletus hebat.

Berbicara mengenai gunung Slamet, mengingatkan saya akan kejadian tragis yang dialami oleh mahasiswa dan mahasiswi UGM pada tahun 2001 silam. 
Tidak perlu saya ceritakan mengenai cerita memilukan yang disebabkan alam yang saat itu tidak bersahabat. Disini seleksi alam terjadi, dua dari tujuh orang pendaki dapat turun dengan selamat. Ya, takdir memang kadang begitu..

Di puncak gunung Slamet sebelum mencapai puncak Surono terdapat sebuah prasasti yang berisi nama korban meninggal pada saat itu.
Jangan lupa untuk mendoakan mereka ya jika kamu punya kesempatan menyambangi gunung gagah dengan trek aduhai ini.

***
Perjalanan saya bercengkrama dengan gunung yang kental akan aroma mistis ini dimulai dari jalur Bambangan. 

gunung slamet via bambangan
Trek awal Pendakian setelah melewati ladang warga

Trek awal yang dilalui untuk menuju pos pertama adalah ladang warga. Musim kemarau panjang membuat jalanan ini sangat sesak untuk dilalui karena debu yang tebal dan mengebul.

Perjalanan dari base camp menuju pos 1 kami lalui dalam waktu sekitar 1.5 jam, Di pos satu ini terdapat sebuah pondok yang dapat digunakan untuk beristirahat. Selain itu ada penjual minuman juga buah segar seperti semangka dan nanas.

Tidak terlalu lama kami beristirahat di pos ini karena perjalanan kami masih panjang, Target  yang harus kami capai adalah membuat camp minimal di pos lima.

Pos demi pos kami lalui dengan rasa letih yang amat sangat, dingin dan lapar melanda kami. Berbekal nasi bungkus yang sudah dingin (kami beli pada awal pendakian di basecamp) kami pun makan dan istirahat di pos tiga sambil melaksanakan ibadah sholat maghrib.

Tidak lama beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos selanjutnya. Letih sekali rasanya namun kami tidak ada yang berniat untuk membuat camp di pos empat. Bukan karena fisik kami masih kuat tetapi karena pos ini dikenal dengan pos yang cukup seram, seseram namanya "pos Samaranthu", belum lagi banyak cerita mistis yang dialami pendaki maupun para rangers di pos ini.

Perjalanan dari pos empat ke pos lima cukup panjang, kami berjalan cukup ngebut dengan istirahat seminimal mungkin ketika melewati pos empat ini. Setelah berjalan sekitar 1,5 jam perjalanan sampailah kami di pos lima yang saat itu sudah sangat ramai, tidak ada tempat bagi kami untuk membangun tenda lagi.

kami pun berjalan lebih naik keatas lagi, sekitar 20 menit berjalan kami menemukan tempat dengan keadaan miring yang sebenarnya kurang bagus untuk dijadikan basecamp. Namun tidak ada tempat lagi selain disitu, Sehingga kami harus tidur dengan badan yang seringkali merosot ke bawah.

Pukul empat pagi (sebenarnya sudah terlalu siang), kami mulai summit menuju puncak Slamet yang berdiri gagah dengan debu dan batu-batunya itu.
Berdasarkan peta rute dan estimasi waktu yang kami dapatkan ketika di basecamp, jarak tempuh dari pos lima ke puncak adalah kurang lebih sekitar Enam jam. 

Dari pos lima kami berjalan bersama-sama menuju pos selanjutnya. Pos enam tidak terlalu jauh dari pos lima, begitu juga pos tujuh tidak terlalu jauh dari pos enam.

Dimulai dari pos tujuh hingga puncak aku berjalan sendirian, teman-teman meninggalkanku sendirian dibawah. Hanya bermodal cahaya lampu senter ukuran mini yang cahaya mulai redup. Untungnya saat itu meskipun masih malu-malu, cahaya matahari tetap membantuku. aku berjalan dengan malas-malasan sambil hati bersedih "kenapa tidak ada teman yang menganggapku teman saat ini?".
Hingga akhirnya kaki ku terperosok masuk ke dalam lubang yang untungnya tidak terlalu dalam, aku berteriak memanggil nama mereka namun mereka sudah terlalu jauh.

Sedihnya lagi, tidak satupun ada pendaki yang lewat saat itu sehingga aku memang harus mengandalkan diriku sendiri. Berbekal minyak kayu putih, aku pun menggosok kaki ku yang terperosok. Kaki ku tidak terlalu sakit saat itu, hatiku saja yang terlalu sakit karena aku sudah kehilangan teman baikku, ah ntah dimana salahku.

Aku terus memberdayakan kekuatan yang kupunya hingga akhirnya aku sampai di Plawangan, batas vegetasi. Dari pos Delapan aku sudah melihat trek berbatu dan pasir tanpa ada pohon maupun akar untuk pegangan menuju ke puncak. Semakin santai aku berjalan mengumpulkan kekuatan, menikmati matahari pagi yang terbit serta menikmati empuknya awan dimata melupakan kesedihanku.

Setelah itu aku bertemu dengan beberapa teman yang sedang berfoto dan kami pun bergantian saling mengabadikan cerita.

Dijalur pendakian yang kering, berbatu, berpasir, berdebu dan sangat mengebul itu aku berjalan dengan santai sambil mengabadikan momen pagi itu.

gunung slamet via bambangan

gunung slamet via bambangan
Trek yang harus dilalui untuk menuju puncak
Terseok, berjalan membungkuk untuk menyeimbangkan tubuh dan berhati-hati mencari pijakan batu. Sesekali berbicara dengan pendaki lain yang sedang turun, sambil mengulum lollipop kesukaanku.

Aku terus berjalan, sesekali melihat teman yang aku tinggalkan dibelakangku. Mereka baik-baik saja dan berada di jarak tidak terlalu jauh satu sama lain.

Terkadang aku heran dengan diriku sendiri, di trek yang berbahaya dan membuat kesal seperti ini rasa lelahku hilang hingga aku bisa terus melangkah.
Mungkin rasa lelah yang kualami kalah oleh rasa ingin selamat yang kumiliki, sehingga aku tidak fokus pada rasa letih namun fokus pada keselamatanku.

gunung slamet via bambangan
View Kawah Segoro Wedi dilihat dari puncak Surono


Sekitar pukul setengah tujuh pagi, akhirnya aku sampai di puncak gunung Slamet. Perjalanan yang kulalui dari pos lima hingga puncak membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam dengan banyak beristirahat di pos-pos lain.

Di puncak sudah ada satu teman yang menunggu kami, setelah menunggu beberapa saat akhirnya satu per satu teman jalan kali ini sampai di puncak.


gunung slamet via bambangan
Tanah tertinggi Jawa Tengah with mba Tarie

gunung slamet via bambangan
Bunga kesukaan yang bikin hati miris karena tidak ada air

Setelah puas mengabadikan momen, kami turun kembali melewati jalan yang semakin berdebu. Perjalanan turun terlihat lebih berbahaya daripada perjalanan naik hingga harus lebih hati-hati dan waspada.

Diperjalanan turun kuperhatikan perdu-perdu edelweiss yang terbakar sinar matahari, hanya sedikit air yang kupunya saat itu. Seperti bocah kecil, kuberikan air itu pada salah satu perdu edelweiss yang sudah hampir mati berharap dia indah lagi dengan air itu. Tidak perduli keringnya kerongkongan saat itu, yang kutau hanya hal sia-sia itu saja yang bisa kulakukan.

***

Cukup sampai disini cerita menggapai atap Jawa Tengah kali ini. Aku rindu gunung dan gegunungan :'(


***

Perjalanan kami dimulai dari kota Jakarta menggunakan Bus

Kurang lebih begini Rundownnya,

Jumat,

20.00     Berkumpul di titik yang sudah ditentukan yaitu di Terminal Pulo Gadung
22.00     Perjalanan menuju Purwokerto (Bus ekonomi ETA 10 - 12 Jam)

Sabtu,

10.30    Prepare, bersih-bersih, beli sarapan
11.00    Perjalanan menuju basecamp Bambangan/ melengkapi logistik (carter mobil)
12.30    Sampai di basecamp, Ishoma dan prepare
13.30    Mulai pendakian
15.00    Tiba di pos 1, Pondok Gembirung
16.00    Tiba di pos 2, Pondok Walang
17.30    Tiba di pos 3, Pondok Cemara (makan dan sholat)
18.20    Melanjutkan pendakian
19.40    Tiba di pos 4, Samaranthu
21.30    Tiba  di pos 5, Samyang Rangkah
23.00    Istirahat

Minggu,

04.10    Summit
04.25    Tiba di pos 6, Samyang Jampang
04.45    Tiba di pos 7, Samyang Kendil (Menikmati Sunrise)
05.30    Tiba di pos 8, batas vegetasi
05.40    Tiba di Plawangan (Istirahat, foto dan ngopi g**d day yang bikin mood good lagi)
05.55     Perjalananan menuju puncak
06.35    Tiba di puncak
08.00    Turun menuju camp
09.30    Sampai di camp istirahat dan beres-beres
12.30    Makan kemudian turun
16.00    Sampai di basecamp awal
15.00    Perjalanan menuju terminal Purwokerto dan pulang ke Jakarta

****
Budget
  • Bus pulo gadung - purwokerto @90.000 (Ekonomi)
  • Travel purwokerto - Basecamp bambangan @40.000 
  • Travel bambangan - Terminal PWT @80.000
  • Bus Purwokerto - pulo gadung @70.000 (Ekonomi)
  • logistik kurleb @30.000  ( 5 orang ) tidak termasuk air, makan dijalan dan jajan pribadi
*Ongkos travel menyesuaikan dengan jumlah penumpang, 1 mobil @400.000/jumlah penumpang


God, Me and Nature | Gunung Slamet Via Jalur Bambangan








Search

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter