Now I see the secret of making the best person, its grow in the air and to eat and sleep with the earth -Soe Hok Gie-

Minggu, 26 April 2015

Posted by nevayana surbakti in | 21.57 No comments
Aku terlalu asik dengan duniaku hingga aku seringkali lupa jika rambut ayah ibu ku mulai banyak memutihnya..

Tepat hari ini tanggal 27 April,  49 tahun silam ayahku yang aku panggil Bapak berulang tahun, Selamat ulang tahun bapak segala doa aku panjatkan untuk kebaikanmu hari ini pun hari-hari lainnya.

Maaf bapak, untuk kesekian kalinya putri sulungmu selalu saja tidak pernah lagi ada bersamamu sekedar untuk mengecup pipi mu dan menerima suapan sup ayam kampung favoritmu yang selalu dimasakkan ibu ketika hari ulang tahunmu.

Ya ayah, waktu terasa cepat sekali berlalu
kini putri sulungmu bukan lagi putri kecil yang apabila kau ulang tahun selalu ada disampingmu merengek meminta kado.
Putri sulungmu yang kata mu mandiri ini telah tumbuh terlalu mandiri hingga seringkali membuat bapak dan mamak kuatir mengenai masa depanku.
jangan dengarkan kata-kata orang pak, aku mandiri namun aku sadari aku masih membutuhkan sosok lain disampingku untuk aku dampingi nantinya.
Tenang saja bapak, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Saat ini sulungmu yang keras kepala sedang berusaha keras dan fokus untuk membahagiakan dan membuat bangga kalian.
Tidak semenitpun dalam hidupku aku melupakan keinginan untuk membuat wajah kalian tersenyum bangga lagi seperti kemarin saat aku menuai prestasi.
Bukan aku tidak fokus pada kebahagiaanku ayah, tapi kebahagiannku itu kalian...

Ayah, ternyata dunia ketika aku sudah beranjak dewasa tidak seindah saat aku kecil dulu. Saat dimana pergi sekolah kau antarkan aku menggunakan Kuda Cokelat kesayanganmu dengan pelana nya yang aku corat-coret menggunakan balpoin pilot berwarna biru,

Ayah, pernah aku begitu kesal pada temanku, dia mengejekku karena kau antarkan aku dengan menunggang kuda kita yang gagah sekali itu, yang setiap hari rabu dan minggu menghasilkan banyak sekali pundi-pundi  yang membuat aku bisa merengek makan ayam bakar favoritku di pasar kaget, warung teman rika, si Sona SiniSuka.

Bapak, Ketika aku sudah beranjak dewasa kenapa jadi ada jarak diantara kita, aku sudah tidak bisa lagi bermanja-manja denganmu. Semua yang ingin kau sampaikan semua melalui perantara mamak, ahhh, jika kutau menjadi dewasa akan seperti ini aku memilih untuk tetap menjadi anak SD saja, aku iri melihat bapak dengan Ani yang begitu akrab, dulu aku begitu...

Semalam aku terbangun, aku ingat akan hari kelahiran bapak. Aku segera memanjatkan doa untuk kebaikan mu, aku menghubungi bapak namun malah bapak berfikir aku tidak istirahat sehingga membuatmu khawatir lagi.

Bapak selamat ulang tahun, ingin sekali putri sulungmu ini menyisir rambutmu yang sudah banyak rambut putihnya.
Ingin sekali....

Selamat ulang tahun bapakku sayang, semoga panjang umur, sehat selalu, murah rezeky dan allah berkenan menjadikan kami kebahagiaan untuk bapak.

cawir kena metua nande ras bapa sikukelengi rasa lalap..

Terima kasih bapak sudah menjadi bapak yang sangat baik untukku...
selamanya aku akan mencintaimu,
Dari ketinggian 3,726 MDPL Happy Birthday Cinta Pertama




Senin, 13 April 2015

Posted by nevayana surbakti in | 02.47 4 comments
TIGA RIBU TUJUH RATUS DUA PULUH ENAM Meter Diatas Permukaan Laut

Perjalanan panjang bersama para sahabat terkasih akan selalu menyisakan kepingan - kepingan cerita indah,beberapa untuk dibagikan kepada yang lain dan beberapa potongan lagi cukup disimpan di dalam hati saja.

Tidak mengapa aku kehilangan beberapa hal penting dalam hidup, bukan karena egoisku namun karena aku ingin menjalani takdirku, panggilan jiwaku.
Aku hanya ingin menikmati hasil karya Tuhan menggunakan jiwa, raga dan hati secara langsung. Ingin mengenalnya dari karya-karya terbaik yang Ia ciptakan, agar aku dapat mencintainya dengan benar.
itu saja...

Perjalanan kali ini merupakan perjalanan jauh pertama yang aku dan sahabat-sahabat jalani,  akan ada banyak perjalanan panjang lagi setelah ini. Setelah hati ini lega karena tidak lagi harus menutupi kemana kaki ini akan melangkah.

NUSA TENGGARA BARAT, Sebuah provinsi yang berada di bagian tengah Indonesia, mengunjungi pulau itulah tujuan utama kami kali ini.

Lombok, surga kecil nan indah nyaman dan menenangkan. Bukan hanya keindahan gugusan pantai pasir putih yang dapat kita temukan disini, kita juga dapat menemukan hijaunya padi di sawah, tradisi unik masyarakat yang masih menjunjung tinggi adat istiadat kebudayaan setempat serta tujuan utama kami yang membentang indah "GUNUNG RINJANI" yang merupakan gunung berapi tertinggi kedua setelah "GUNUNG KERINCI" di provinsi Jambi.

Jakarta, 31 Maret 2015

Kami memilih penerbangan malam menggunakan salah satu maskapai termurah yang ada di negeri tercinta ini,  maskapai yang hingga saat ini masih menyisakan beberapa masalah.
mungkin taring singa merah sedang copot saat itu sehingga keberangkatan kami harus melenceng dari rundown yang sudah aku persiapakan jauh hari sebelum keberangkatan.

Penerbangan kami di cancel tanpa adanya informasi sebelumnya, sementara penumpang lain sudah sejak jauh hari diinformasikan melalui e-mail (hal ini aku ketahui dari Ayunda Sartika, yang saat itu memiliki plan yang sama namun grup yang berbeda). Dan akhirnya kami pun beramai-ramai tidur di bandara.

Namun ternyata Tuhan selalu punya cara untuk membantu dan membenarkan jadwal yang telah aku susun sedemikian rupa tersebut, Tangannya ikut andil dalam memudahkan kami.
Kami bersyukur, dengan digantinya jadwal keberangkatan tersebut.
Pertama, kami mendapat reimbursment dari pihak maskapai terkait pembatalan sepihak yang tentu saja menambah pundi-pundi budget perjalanan kami.
Kedua, yang paling kami syukuri ternyata dengan perubahan jadwal tersebut perjalanan kami menjadi lebih efektif dan menyenangkan.

Tidak ada hal yang tidak menyenangkan apabila kamu menjalaninya bersama sahabat, karena semua kesedihan dan kekecewaan semua akan menjadi tawa...


Rabu, 1 Maret 2015

Tepat pukul 05.00 WIB pagi singa merah yang kami tumpangi lepas landas menuju bandara Internasional Praya Lombok.

Sekitar pukul 08.30 WITA (terdapat perbedaan waktu 1jam) kami sampai ke bandara int' Praya Lombok, setelah bersiap mengambil bagasi kami menuju mobil yang sudah dipersiapkan untuk mengantarkan kami ke Desa Sembalun, titik awal pendakian Gunung Rinjani.

Retribusi memasuki Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) per-3 hari adalah Rp. 15.000,- / orang dan diberikan Trash bag (kantong sampah) untuk tempat sampah selama kita berada di gunung. Kami hanya meminta beberapa saja karena kami juga membawa trash bag. Kami adalah pendaki-pendaki yang lebih baik memakan sampah daripada harus meninggalkan sampah. Kami bukan jenis pendaki "kekinian" yang naik gunung hanya karena saat ini aktivitas mendaki termasuk salah satu aktivitas "kekinian".
Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang paling kecil :)

Perjalanan dari bandara menuju Desa Sembalun membutuhkan waktu sekitar 3 jam, jalanan yang berkelok dan bukit barisan yang memanjang menjadi pemandangan indah di siang yang panas itu.
Sekitar pukul 12.30 WITA kami sampai ke kaki gunung, tempat kami akan memulai perjalanan panjang yang sangat melelahkan itu.

Kami memulai pendakian dari daerah yang bernama "bawak nao" yang ditandai oleh pohon enau.

Team kami terdiri dari enam orang yang terdiri dari Aku, Rahel, Barqoi, Albert, Brader Hantoro dan Om Dedit. Kami begitu beruntung, karena kami mendapat dua team tambahan penduduk asli Lombok kuncennya gunung Rinjani (tentang kuncen ini becanda, tapi memang mereka biasa open trip pendakian ke gunung indah ini) sebut saja mereka abang Tape' (pake e' bukan E) dan abang Awan.

Buat temen-temen yang butuh informasi atau guide mengunjungi gunung indah ini bisa hubungi mereka yak...
(bisa PM saya untuk kontaknya)

Setelah makan siang di kaki bawak nao dengan menu khas lombok "saur" seperti serundeng yang ternyata pedas sekali, kami memulai perjalanan menapaki keindahan Rinjani.

Trek landai mengawali perjalanan kali ini, dengan sisi kanan kiri pemandangan ladang warga. Berpindah lebih kedepan lagi kita akan disuguhi pemandangan indah yang begitu menyegarkan mata, Bentangan lembah savana luas menghijau merupakan pemandangan yang begitu mahal ditengah teriknya matahari yang berada tepat diatas kepala kami.
Walaupun bermandikan keringat kami tetap ceria menjalani tapak demi tapak tanah orang Sasak tersebut.

Dari bawak nao menuju pos satu kami membutuhkan waktu sekitar satu jam, pos satu sering disebut juga pos pemantauan, pos ini berada di ketinggian 1300 Mdpl.
Berjalan dari pos satu ke pos selanjutnya, terasa masih sama melelahkan karena panas matahari yang begitu terik membakar kulit. Ada beberapa jembatan yang dapat kita temui disini yang berdasarkan cerita bang Tape adalah jembatan yang dibangun pada saat kedatangan Presiden RI Ke-II bapak Soeharto yang pada akhirnya tidak berhasil menginjakkan kaki di puncak Dewi Anjani.

Kurang lebih berjalan selama satu jam, kami sampai di Pos dua yang biasanya disebut Pos Tengengean yang berada pada ketinggian 1500 Mdpl. Saya, Barqoi, Albert dan Bang Hantoro lebih dulu mencapai lokasi ini karena memang berjalan sedikit ngebut.
Trek awal pendakian melalui jalur Sembalun




Rahel dan Bang Tape di jalur awal, savana Rinjani

Perjalanan ke Pos tiga, kami lanjutkan bersama rekan kami lainnya. Trek yang kami lalui naik turun namun tidak terlalu menguras tenaga karena matahari sudah mulai bersahabat, tidak menusukkan teriknya lagi ke tubuh kami yang sudah mulai kelelahan.
Sebelum mencapai pos tiga, kita kan menemukan sebuah persimpangan jalan antara kedua bukit yang memisahkan bukit penyesalan dan jalur penderitaan (membayangkan namanya membuat sedikit down).
Akhirnya sekitar pukul 17.43 WITA kami sampai ke Pos 3 dan mendirikan tenda kami disana. pos 3 dikenal dengan nama Pos Pada Balong yang berada pada ketinggian sekitar 2000 Mdpl.
Kami mendirikan tenda tepat disamping atas aliran lahar kering gunung Rinjani.


Setelah makan malam seadanya kami beristirahat agar bangun dengan keadaan fresh esok harinya, berjalan menanjaki sembilan bukit lagi menuju Plawangan Sembalun, demi membayangkan sembilan bukit mataku langsung ingin terpejam saja  -___-

Kamis, 2 April 2015

Setelah sarapan pagi dengan menu beef burger ala ala, kami membongkar tenda dan packing bersiap melanjutkan perjalanan ke Plawangan Sembalun melewati Sembilan bukit yang jujur saja saat itu saya agak enggan membayangkan sembilan bukit ditengah terik matahari.
Sebelum memulai perjalanan kami berdoa kepada sang penguasa alam semesta agar perjalanan kami dimudahkan, setelah berpamitan kepada rekan pendaki lainnya kami berdelapan berangkat menuju tanjakan pertama.

Tanjakan demi tanjakan kami lalui, dengan nafas yang terengah-engah, peluh yang membanjiri tubuh dan matahari yang amat sangat terik kami lalui bersama terkadang dalam canda dan lebih sering dalam diam. Dan untuk perjalanan panjang kali ini kami sungguh berterima kasih kepada Nut** Sa** yang membantu kami menyegarkan kembali kerongkongan kering.

Perjalalanan menanjak melewati bukit demi bukit tersebut membutuhkan waktu sekitar 4 - 5 jam, kami terlalu asyik beristirahat di bawah pohon yang sedang memproduksi oksigen yang terasa sekali menyegarkan tubuh lelah kami.


Jalan menuju tanjakan yang entah keberapa






Satu dari sembilan bukit yang menajak

Sesampainya di Plawangan Sembalun kami segera mendirikan tenda, Aku yang kpaling cantiks diantara mereka^^ dan Rahel mendapat tugas mengambil air ke sumber mata air terdekat.
Ternyata, sumber mata air masih cukup jauh dari lokasi kami mendirikan tenda. Kami harus melewati dua bukit  kecil lagi -_-
Sesampainya di sumber mata air, rasanya ingin mandi saja menyegarkan tubuh yang lengket akibat peluh. air yang dingin seperti air es dan begitu menyegarkan membuatku ingin berlama-lama saja bermain disana.

Sekembalinya dari mengambil air, aku dan Rahel menyarankan untuk pindah lokasi saja ke dekat sumber air tersebut, teman -teman lainnya pun setuju namun kami harus menunggu sang kuncen terlebih dahulu. Kami membutuhkan Nasehat dari beliau, yap dia adalah abang TAPE.

Ternyata, abang Tape memang menyarankan untuk mendirikan tenda di lokasi yang dekat dengan air bukan dilokasi tempat kami mendirikan tenda saat itu.
Setelah makan, kami membereskan kembali tenda dan membagikan air yang kami ambil sebelumnya kepada pendaki yang kebetulan camp di daerah tersebut.

Kita kembali berjalan dengan energi yang sudah diperbarui dengan riang gembira selayaknya anak TK yang sedang berdarma wisata.

Sesampainya di lokasi tersebut, kami langsung mendirikan tenda kemudian berbondong menuju mata air untuk sekedar cuci muka, gosok gigi serta keramas^^
dari lokasi camp ini kita bisa menikmati indahnya danau Sagare Anak.

Plawangan sembalun, Barqoi dengan view Segare anak
Setelah  usai tertawa dan mengambil beberapa foto pemandangan segare anak, kami menuju pangkuan ibu pertiwi, tidur untuk menyiapkan fisik sebelum esok pagi summit ke pelukan dewi anjani yang kami rindukan selama ini.

Jum'at, 3 April 2015

Pukul 01.19 WITA setelah selesai sarapan, kami melangkahkan kaki menuju puncak Dewi Anjani. udara terasa begitu dingin, membuatku jadi sedikit malas untuk beranjak namun aku tau aku pasti akan berjalan karena itu tujuanku.

Pada awalnya aku berjalan di depan bersama rombongan cangcorang gengk kami, namun seiring waktu jalanku menjadi melambat. kembali kaki kiri ku kram, seperti yang terjadi saat aku summit di semeru September 2014 lalu.
Saat itu aku bersyukur ada bang Awan dan Om Dedit di belakangku, bang Awan segera membantu memijat dan menarik pergelangan kaki ku yang saat itu begitu ngilu.
Dibantu bang Awan, aku berjalan walau harus tertatih menerima uluran tangannya yang digunakan untuk menarikku.
Sempat terfikirkan untuk kembali turun kebawah, meringkuk dalam balutan sleeping bag saja. namun kemungkinan itu segera ku tepis karena aku tau aku pasti akan sangat menyesal nanti.

Setelah berjalan tidak begitu jauh, ternyata rombongan yang lain masih menunggu kami.
aku mendengar panggilan atas namaku, namun rasanya enggan sekali menjawabnya saat itu sehingga aku menjawab hanya dengan gumaman yang aku yakin tidak terdengar oleh mereka.

Setelah berhasil menuju mereka, kami berjalan bersama namun kali ini aku tetap saja menjadi si keong yang berjalan di belakang, tidak seperti biasanya aku selalu berusaha membuat aku tidak menjadi orang yang berada diposisi paling belakang.
Saat itu aku begitu menerima kodratku sebagai wanita yang seringkali dipandang lemah dan menyusahkan teman-teman  -_-
maafkan daku gengs :D

Berjalan Dua puluh langkah di medan berpasir dan aku berhenti hingga hitungan kesepuluh, begitu seterusnya yang aku lakukan, yang ada di kepala ku adalah move..move..move.. walau hanya sedikit demi sedikit. walau aku jauh tertinggal di belakang rombonganku.

Untuk membuat perjalanan agak sedikit tidak menyeramkan, aku mengikuti rombongan lain yang pada akhirnya aku tau mereka adalah rombongan trip dari "jalan-jalan terus", setelah berbincang sejenak dengan beberapa dari mereka aku berjalan kedepan lagi dengan lebih cepat karena jalanan didepan mataku saat itu adalah "bonus" pasir yang landai.

Ternyata tidak jauh dari sana beberapa dari rombonganku sedang beristrahat, aku tidak tau mereka benar sedang istirahat atau sedang menunggu aku yang lambat, but thanks to Allah segera aku merebahkan tubuh di samping mereka yang sedang duduk.

Hamparan langit dengan pemandangan bulan yang begitu terang dihiasi gemerlap gemintang seluruh bintang, di depanku jauh dibawah sana terbentang hamparan Danau Sagare anak yang elok, sungguh indah perjalanan panjang kali ini.
pemandangan bulan dan bintang terindah yang pernah aku saksikan, jauh menandingi indahnya ketika aku menatap mereka dari atas atap tempat tinggalku.
aku menatap bintang sama-sama dari atap, namun kali ini aku bukan memandang dari atap rumah melainkan dari atap Nusa Tenggara.
Yah aku memang wanita absurd, yang begitu cintanya pada milky ways sehingga rela berlama-lama merebahkan diri diatas genteng rumah demi memandang bintang hingga pernah di teriaki maling.

Setelah istirahat terasa cukup, kami kembali melanjutkan perjalanan namun kali ini aku tidak sendirian lagi.
Aku berjalan di belakang bersama Bojepit, Partner terbaik sepanjang perjalanan pendakian Rinjani kali ini.
Raja terimakasih buanyakkkkkkkkk banget udah nemenin dan bantuin diriku selama perjalanan menuju puncak Dewi Anjani. Udah nungguin walaupun berkali-kali aku suruh jalan duluan. udah nemenin aku lihatin milky ways.
melting like a chocolava dah...
karena baru kali ini diriku diperlakukan selayaknya wanita oleh kalian-kalian semuanya yang selalu nganggep aku proman-__-
*sampe airmata netes setitik waktu ngetik ini

Perjalanan yang kami lalui dengan trek berpasir yang cukup licin dan begitu panjang menguras tenaga, ditambah lagi dingin yang begitu luar biasa menusuk dan jurang di sebelah kanan dan kiri membuat kami berjalan tertatih dan hati-hati sekali namun langkah dan tujuan kami pasti. Puncak Dewi Anjani di atas sana.

Rombongan pertama yang terdiri dari minus Aku, Rahel dan Om Dedit sudah sampai lebih dahulu ke puncak dalam waktu 4 (Empat) jam saja, sementara Kami bertiga sampai dalam waktu sekitar 5 (Lima) jam.

Sesampainya di puncak anjani, seluruh letih dan lapar menghilang tidak tau kemana. Hanya perasaan haru dan bahagia yang membuncah dari dalam hati, mensyukuri hari dan kesempatan yang dihadiahkan Tuhan kepada kami.
Hari ini pada hari Jum'at 3 April 2015 kami telah berhasil mengalahkan ego kami di puncak Gunung berapi tertinggi kedua setelah kerinci di bumi seribu masjid, Lombok.

Saya, di pendakian kali ini yang paling cantikssss diatas ketinggian 3.726 Mdpl


Albert, Yang mengaku pria terganteng Nomor 8 versi On the Spot berada di ketinggian 3.726 Mdpl


Rahel, botak jelek sipit nyengir di ketinggian 3.726 Mdpl
Bang Hantoro, kemanapun dia pergi selalu dengan tulisan "Okezone" dan ID Card nya

Setelah puas dan antri berfoto di plang yang fenomenal itu, kami turun kembali menuju plawangan sembalun.
turunan kali ini tidak semudah dan secepat menuruni Mahameru, turunan kali ini begitu panjang, panas dan licin.
Beberapa dari kami sampai kewalahan dibuatnya.

Setelah berjalan cukup lama, aku tidak tau pasti berapa lama akhirnya kami sampai kembali ke Plawangan Sembalun. Menyiapkan makan siang untuk selanjutnya turun menuju danau indah bernama Segara Anak.

Perjalanan panjang menuju danau Segara anak membuat kami yang sudah kelelahan begitu kesal karena merasa tertipu oleh fatamorgana Segara anak yang terlihat dekat namun sangat jauh,
baru kali itu dalam perjalanan aku melihat abet mengeluh dan melenguh panjang.

Perjalanan turun yang ternyata harus menanjak, Segara Anak yang begitu menipu. Namun semua kelelahan itu terbayar lunas ketika kami sampai di Danau yang dingin itu.
Tanpa memperdulikan yang lainnya Ridwan dan bang awan mengambil joran dan memancing mencari ikan nya segara anak untuk kami santap ketika malam.

Sementara Aku dan Albert, memilih untuk memasak saja. Setelah yang lainnya tiba Teh manis hangat sudah tersedia dan mereka pun siap mendirikan tenda.
Setelah acara memancing selesai, aku pun siap mengolah ikan-ikan tersebut untuk menjadi santap malam kami.


Bang Tape dan ikan yang menjadi korban
Gaya om Dedit mancing di segara anak

Sabtu, 4 April 2015

Setelah sebelumnya mendirikan tenda di segara anak, kami bersiap untuk pulang melanjutkan perjalanan menuju desa Senaru. kami memilih berjalan pulang melewati desa Senaru yang terkenal dengan trek yang sangat panjang.

Sebelum berangkat, kami sarapan bersama dengan cara yang selalu aku suka, yang tidak akan pernah didapatkan di padat dan sibuknya aktivitas kota..

Sarapan pagi dengan nasi goreng buatan om Dedit di pinggir Danau Segara Anak

Sebelum memulai perjalanan pulang kami berfose bersama di pinggir danau Segara anak yang akan segera kami tinggalkan.
We're the champions

view segara anak ketika perjalanan pulang menuju Desa Senaru

Aku satu-satunya wanita dalam pendakian ini, oleh sebab itu aku menyebut diriku yang paling cantiksss bukan karena narsis aku sebut begitu namun memang itu kenyataannya. :D

Sampai jumpa di cerita berikutnya...

Jangan tanyakan berapa jauh lagi perjalananmu,
Jangan tanyakan pula kapan ujung perjalananmu,
Jangan tanyakan berapa lama lagi kamu akan melangkahkan kaki mu,
Abaikan saja letih lelahmu, 
Jangan terlalu larut dalam letihmu,
Jalani saja dengan doa dan harapan hingga akhirnya kau sampai kepada tujuanmu,
Percayalah proses tidak akan pernah mengkhianati hasil.


 ********
Berikut rundown perjalanan menuju puncak anjani kali ini, mungkin akan berguna bagi yang sedang mencari referensi.

1 April 2015
05.00 WIB  flight to Lombok
08.30 WITA sampai di bandara int'lombok praya
13.00 Sampai di bawak nao
14.00 Mulai pendakian
18.00 Sampai di pos 3, mendirikan tenda dan makan

2 April 2015
07.30 Sarapan dan beres-beres
09.00 Berangkat menuju plawangan sembalun
14.00 Sampai di Plawangan Sembalun
15.00 Menirikan tenda, acara bebas

3 April 2015
01.30 Summit attack
06.00 Sampai puncak
07.30 Turun menuju plawangan sembalun
09.00 Sampe basecamp 
15.00 Turun ke segare anak
18.00 Sampai di segara anak, beres-beres dan istirahat

4 April 2015
11.00 Menuju Plawangan Senaru
15.00 Sampai Plawangan Senaru (banyak istirahat)
23.00 Sampai di desa Senaru

*********
BUDGET

Rp. 500.000,- / Orang x 6                                                       = Rp. 3.000.000,-

* Biaya transportasi travel Bandara - Sembalun                 = Rp. 500.000,-
* Logistik + gas + spiritus                                                      = Rp. 500.000,-
* Biaya simaksi 6 x @15.000,-                                              = Rp. 90.000,-
* Makan di nao untuk 8 orang                                              = Rp. 160.000,-
* Makan malam dan sarapan di senaru                              = Rp. 350.000,-
* Transportasi senaru -keliling lombok full day                 = Rp. 750.000,-
* Tiket penyebrangan PP Gili trawangan                             =  Rp. 210.000,-

Search

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter