Now I see the secret of making the best person, its grow in the air and to eat and sleep with the earth -Soe Hok Gie-

Senin, 19 Oktober 2015

Posted by nevayana surbakti in | 22.35 No comments
Sepertinya sudah terlalu lama saya tidak cuap-cuap lagi tentang naik gunung. *yess sudah beberapa bulan saya meninggalkan carrier dan peralatan mendaki saya lainnya.

Namun ada beberapa kegiatan yang paling saya sukai ini dan belum saya tuliskan, kali ini saya hanya kan menulis pengalaman yang mungkin sudah "basi". Biarlah kenangan-kenangan ini menjadi cerita yang kan selalu saya kenang nanti. *lebay

Gunung Slamet, merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah dengan kawah indah bernama Segoro Wedi. Seringkali disebut atap Jawa Tengah. Berdiri kokoh dengan ketinggian 3.428 Mdpl dan terletak diantara lima kabupaten yaitu Brebes, Banyumas, Purbalingga, Tegal dan Pemalang. 

Puncak gunung ini disebut "Puncak Surono" karena terdapat tugu Surono untuk mengabadikan nama bapak Surono yang meninggal di puncak Slamet, Berdasarkan informasi dari seorang relawan yang juga supir yang mengantarkan kami ke basecamp mengatakan jasad bapak Surono hilang tak tau dimana rimbanya.

Meskipun tergolong gunung dengan trek yang sulit, namun gunung ini cukup banyak penggemarnya. Apalagi gunung ini sudah lama sekali ditutup, membuat para pendaki rindu merasakan sejuk dan dingin hutannya.

Untuk menuju gunung Slamet ada beberapa jalur yang bisa ditempuh. Jalur yang paling banyak dilalui adalah jalur Bambangan yang yang terletak di desa Karangreja, Purbalingga. 
Berikut ini merupakan beberapa jalur untuk menuju puncak gunung Slamet. 
  1. Baturaden ( Purwokerto) merupakan jalur resmi
  2. Bambangan (Purbalingga) merupakan jalur resmi
  3. Kaliwadas ( Brebes) merupakan jalur resmi
  4. Dukuhliwung ( Tegal) merupakan jalur tidak resmi
  5. Guci (Tegal) merupakan jalur tidak resmi
  6. Kaligua ( Bumiayu) merupakan jalur tidak resmi
Di gunung dengan Trek yang menurut saya sadis apalagi di musim kemarau ini, terdapat sebuah mitos yang berkembang di masyarakat. Mitos tersebut terkait dengan ramalan ki Jayabaya yang mengatakan suatu saat pulau Jawa akan terbelah dua, hal ini dikaitkan apabila gunung Slamet meletus hebat.

Berbicara mengenai gunung Slamet, mengingatkan saya akan kejadian tragis yang dialami oleh mahasiswa dan mahasiswi UGM pada tahun 2001 silam. 
Tidak perlu saya ceritakan mengenai cerita memilukan yang disebabkan alam yang saat itu tidak bersahabat. Disini seleksi alam terjadi, dua dari tujuh orang pendaki dapat turun dengan selamat. Ya, takdir memang kadang begitu..

Di puncak gunung Slamet sebelum mencapai puncak Surono terdapat sebuah prasasti yang berisi nama korban meninggal pada saat itu.
Jangan lupa untuk mendoakan mereka ya jika kamu punya kesempatan menyambangi gunung gagah dengan trek aduhai ini.

***
Perjalanan saya bercengkrama dengan gunung yang kental akan aroma mistis ini dimulai dari jalur Bambangan. 

gunung slamet via bambangan
Trek awal Pendakian setelah melewati ladang warga

Trek awal yang dilalui untuk menuju pos pertama adalah ladang warga. Musim kemarau panjang membuat jalanan ini sangat sesak untuk dilalui karena debu yang tebal dan mengebul.

Perjalanan dari base camp menuju pos 1 kami lalui dalam waktu sekitar 1.5 jam, Di pos satu ini terdapat sebuah pondok yang dapat digunakan untuk beristirahat. Selain itu ada penjual minuman juga buah segar seperti semangka dan nanas.

Tidak terlalu lama kami beristirahat di pos ini karena perjalanan kami masih panjang, Target  yang harus kami capai adalah membuat camp minimal di pos lima.

Pos demi pos kami lalui dengan rasa letih yang amat sangat, dingin dan lapar melanda kami. Berbekal nasi bungkus yang sudah dingin (kami beli pada awal pendakian di basecamp) kami pun makan dan istirahat di pos tiga sambil melaksanakan ibadah sholat maghrib.

Tidak lama beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos selanjutnya. Letih sekali rasanya namun kami tidak ada yang berniat untuk membuat camp di pos empat. Bukan karena fisik kami masih kuat tetapi karena pos ini dikenal dengan pos yang cukup seram, seseram namanya "pos Samaranthu", belum lagi banyak cerita mistis yang dialami pendaki maupun para rangers di pos ini.

Perjalanan dari pos empat ke pos lima cukup panjang, kami berjalan cukup ngebut dengan istirahat seminimal mungkin ketika melewati pos empat ini. Setelah berjalan sekitar 1,5 jam perjalanan sampailah kami di pos lima yang saat itu sudah sangat ramai, tidak ada tempat bagi kami untuk membangun tenda lagi.

kami pun berjalan lebih naik keatas lagi, sekitar 20 menit berjalan kami menemukan tempat dengan keadaan miring yang sebenarnya kurang bagus untuk dijadikan basecamp. Namun tidak ada tempat lagi selain disitu, Sehingga kami harus tidur dengan badan yang seringkali merosot ke bawah.

Pukul empat pagi (sebenarnya sudah terlalu siang), kami mulai summit menuju puncak Slamet yang berdiri gagah dengan debu dan batu-batunya itu.
Berdasarkan peta rute dan estimasi waktu yang kami dapatkan ketika di basecamp, jarak tempuh dari pos lima ke puncak adalah kurang lebih sekitar Enam jam. 

Dari pos lima kami berjalan bersama-sama menuju pos selanjutnya. Pos enam tidak terlalu jauh dari pos lima, begitu juga pos tujuh tidak terlalu jauh dari pos enam.

Dimulai dari pos tujuh hingga puncak aku berjalan sendirian, teman-teman meninggalkanku sendirian dibawah. Hanya bermodal cahaya lampu senter ukuran mini yang cahaya mulai redup. Untungnya saat itu meskipun masih malu-malu, cahaya matahari tetap membantuku. aku berjalan dengan malas-malasan sambil hati bersedih "kenapa tidak ada teman yang menganggapku teman saat ini?".
Hingga akhirnya kaki ku terperosok masuk ke dalam lubang yang untungnya tidak terlalu dalam, aku berteriak memanggil nama mereka namun mereka sudah terlalu jauh.

Sedihnya lagi, tidak satupun ada pendaki yang lewat saat itu sehingga aku memang harus mengandalkan diriku sendiri. Berbekal minyak kayu putih, aku pun menggosok kaki ku yang terperosok. Kaki ku tidak terlalu sakit saat itu, hatiku saja yang terlalu sakit karena aku sudah kehilangan teman baikku, ah ntah dimana salahku.

Aku terus memberdayakan kekuatan yang kupunya hingga akhirnya aku sampai di Plawangan, batas vegetasi. Dari pos Delapan aku sudah melihat trek berbatu dan pasir tanpa ada pohon maupun akar untuk pegangan menuju ke puncak. Semakin santai aku berjalan mengumpulkan kekuatan, menikmati matahari pagi yang terbit serta menikmati empuknya awan dimata melupakan kesedihanku.

Setelah itu aku bertemu dengan beberapa teman yang sedang berfoto dan kami pun bergantian saling mengabadikan cerita.

Dijalur pendakian yang kering, berbatu, berpasir, berdebu dan sangat mengebul itu aku berjalan dengan santai sambil mengabadikan momen pagi itu.

gunung slamet via bambangan

gunung slamet via bambangan
Trek yang harus dilalui untuk menuju puncak
Terseok, berjalan membungkuk untuk menyeimbangkan tubuh dan berhati-hati mencari pijakan batu. Sesekali berbicara dengan pendaki lain yang sedang turun, sambil mengulum lollipop kesukaanku.

Aku terus berjalan, sesekali melihat teman yang aku tinggalkan dibelakangku. Mereka baik-baik saja dan berada di jarak tidak terlalu jauh satu sama lain.

Terkadang aku heran dengan diriku sendiri, di trek yang berbahaya dan membuat kesal seperti ini rasa lelahku hilang hingga aku bisa terus melangkah.
Mungkin rasa lelah yang kualami kalah oleh rasa ingin selamat yang kumiliki, sehingga aku tidak fokus pada rasa letih namun fokus pada keselamatanku.

gunung slamet via bambangan
View Kawah Segoro Wedi dilihat dari puncak Surono


Sekitar pukul setengah tujuh pagi, akhirnya aku sampai di puncak gunung Slamet. Perjalanan yang kulalui dari pos lima hingga puncak membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam dengan banyak beristirahat di pos-pos lain.

Di puncak sudah ada satu teman yang menunggu kami, setelah menunggu beberapa saat akhirnya satu per satu teman jalan kali ini sampai di puncak.


gunung slamet via bambangan
Tanah tertinggi Jawa Tengah with mba Tarie

gunung slamet via bambangan
Bunga kesukaan yang bikin hati miris karena tidak ada air

Setelah puas mengabadikan momen, kami turun kembali melewati jalan yang semakin berdebu. Perjalanan turun terlihat lebih berbahaya daripada perjalanan naik hingga harus lebih hati-hati dan waspada.

Diperjalanan turun kuperhatikan perdu-perdu edelweiss yang terbakar sinar matahari, hanya sedikit air yang kupunya saat itu. Seperti bocah kecil, kuberikan air itu pada salah satu perdu edelweiss yang sudah hampir mati berharap dia indah lagi dengan air itu. Tidak perduli keringnya kerongkongan saat itu, yang kutau hanya hal sia-sia itu saja yang bisa kulakukan.

***

Cukup sampai disini cerita menggapai atap Jawa Tengah kali ini. Aku rindu gunung dan gegunungan :'(


***

Perjalanan kami dimulai dari kota Jakarta menggunakan Bus

Kurang lebih begini Rundownnya,

Jumat,

20.00     Berkumpul di titik yang sudah ditentukan yaitu di Terminal Pulo Gadung
22.00     Perjalanan menuju Purwokerto (Bus ekonomi ETA 10 - 12 Jam)

Sabtu,

10.30    Prepare, bersih-bersih, beli sarapan
11.00    Perjalanan menuju basecamp Bambangan/ melengkapi logistik (carter mobil)
12.30    Sampai di basecamp, Ishoma dan prepare
13.30    Mulai pendakian
15.00    Tiba di pos 1, Pondok Gembirung
16.00    Tiba di pos 2, Pondok Walang
17.30    Tiba di pos 3, Pondok Cemara (makan dan sholat)
18.20    Melanjutkan pendakian
19.40    Tiba di pos 4, Samaranthu
21.30    Tiba  di pos 5, Samyang Rangkah
23.00    Istirahat

Minggu,

04.10    Summit
04.25    Tiba di pos 6, Samyang Jampang
04.45    Tiba di pos 7, Samyang Kendil (Menikmati Sunrise)
05.30    Tiba di pos 8, batas vegetasi
05.40    Tiba di Plawangan (Istirahat, foto dan ngopi g**d day yang bikin mood good lagi)
05.55     Perjalananan menuju puncak
06.35    Tiba di puncak
08.00    Turun menuju camp
09.30    Sampai di camp istirahat dan beres-beres
12.30    Makan kemudian turun
16.00    Sampai di basecamp awal
15.00    Perjalanan menuju terminal Purwokerto dan pulang ke Jakarta

****
Budget
  • Bus pulo gadung - purwokerto @90.000 (Ekonomi)
  • Travel purwokerto - Basecamp bambangan @40.000 
  • Travel bambangan - Terminal PWT @80.000
  • Bus Purwokerto - pulo gadung @70.000 (Ekonomi)
  • logistik kurleb @30.000  ( 5 orang ) tidak termasuk air, makan dijalan dan jajan pribadi
*Ongkos travel menyesuaikan dengan jumlah penumpang, 1 mobil @400.000/jumlah penumpang


God, Me and Nature | Gunung Slamet Via Jalur Bambangan








Minggu, 26 April 2015

Posted by nevayana surbakti in | 21.57 No comments
Aku terlalu asik dengan duniaku hingga aku seringkali lupa jika rambut ayah ibu ku mulai banyak memutihnya..

Tepat hari ini tanggal 27 April,  49 tahun silam ayahku yang aku panggil Bapak berulang tahun, Selamat ulang tahun bapak segala doa aku panjatkan untuk kebaikanmu hari ini pun hari-hari lainnya.

Maaf bapak, untuk kesekian kalinya putri sulungmu selalu saja tidak pernah lagi ada bersamamu sekedar untuk mengecup pipi mu dan menerima suapan sup ayam kampung favoritmu yang selalu dimasakkan ibu ketika hari ulang tahunmu.

Ya ayah, waktu terasa cepat sekali berlalu
kini putri sulungmu bukan lagi putri kecil yang apabila kau ulang tahun selalu ada disampingmu merengek meminta kado.
Putri sulungmu yang kata mu mandiri ini telah tumbuh terlalu mandiri hingga seringkali membuat bapak dan mamak kuatir mengenai masa depanku.
jangan dengarkan kata-kata orang pak, aku mandiri namun aku sadari aku masih membutuhkan sosok lain disampingku untuk aku dampingi nantinya.
Tenang saja bapak, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Saat ini sulungmu yang keras kepala sedang berusaha keras dan fokus untuk membahagiakan dan membuat bangga kalian.
Tidak semenitpun dalam hidupku aku melupakan keinginan untuk membuat wajah kalian tersenyum bangga lagi seperti kemarin saat aku menuai prestasi.
Bukan aku tidak fokus pada kebahagiaanku ayah, tapi kebahagiannku itu kalian...

Ayah, ternyata dunia ketika aku sudah beranjak dewasa tidak seindah saat aku kecil dulu. Saat dimana pergi sekolah kau antarkan aku menggunakan Kuda Cokelat kesayanganmu dengan pelana nya yang aku corat-coret menggunakan balpoin pilot berwarna biru,

Ayah, pernah aku begitu kesal pada temanku, dia mengejekku karena kau antarkan aku dengan menunggang kuda kita yang gagah sekali itu, yang setiap hari rabu dan minggu menghasilkan banyak sekali pundi-pundi  yang membuat aku bisa merengek makan ayam bakar favoritku di pasar kaget, warung teman rika, si Sona SiniSuka.

Bapak, Ketika aku sudah beranjak dewasa kenapa jadi ada jarak diantara kita, aku sudah tidak bisa lagi bermanja-manja denganmu. Semua yang ingin kau sampaikan semua melalui perantara mamak, ahhh, jika kutau menjadi dewasa akan seperti ini aku memilih untuk tetap menjadi anak SD saja, aku iri melihat bapak dengan Ani yang begitu akrab, dulu aku begitu...

Semalam aku terbangun, aku ingat akan hari kelahiran bapak. Aku segera memanjatkan doa untuk kebaikan mu, aku menghubungi bapak namun malah bapak berfikir aku tidak istirahat sehingga membuatmu khawatir lagi.

Bapak selamat ulang tahun, ingin sekali putri sulungmu ini menyisir rambutmu yang sudah banyak rambut putihnya.
Ingin sekali....

Selamat ulang tahun bapakku sayang, semoga panjang umur, sehat selalu, murah rezeky dan allah berkenan menjadikan kami kebahagiaan untuk bapak.

cawir kena metua nande ras bapa sikukelengi rasa lalap..

Terima kasih bapak sudah menjadi bapak yang sangat baik untukku...
selamanya aku akan mencintaimu,
Dari ketinggian 3,726 MDPL Happy Birthday Cinta Pertama




Senin, 13 April 2015

Posted by nevayana surbakti in | 02.47 4 comments
TIGA RIBU TUJUH RATUS DUA PULUH ENAM Meter Diatas Permukaan Laut

Perjalanan panjang bersama para sahabat terkasih akan selalu menyisakan kepingan - kepingan cerita indah,beberapa untuk dibagikan kepada yang lain dan beberapa potongan lagi cukup disimpan di dalam hati saja.

Tidak mengapa aku kehilangan beberapa hal penting dalam hidup, bukan karena egoisku namun karena aku ingin menjalani takdirku, panggilan jiwaku.
Aku hanya ingin menikmati hasil karya Tuhan menggunakan jiwa, raga dan hati secara langsung. Ingin mengenalnya dari karya-karya terbaik yang Ia ciptakan, agar aku dapat mencintainya dengan benar.
itu saja...

Perjalanan kali ini merupakan perjalanan jauh pertama yang aku dan sahabat-sahabat jalani,  akan ada banyak perjalanan panjang lagi setelah ini. Setelah hati ini lega karena tidak lagi harus menutupi kemana kaki ini akan melangkah.

NUSA TENGGARA BARAT, Sebuah provinsi yang berada di bagian tengah Indonesia, mengunjungi pulau itulah tujuan utama kami kali ini.

Lombok, surga kecil nan indah nyaman dan menenangkan. Bukan hanya keindahan gugusan pantai pasir putih yang dapat kita temukan disini, kita juga dapat menemukan hijaunya padi di sawah, tradisi unik masyarakat yang masih menjunjung tinggi adat istiadat kebudayaan setempat serta tujuan utama kami yang membentang indah "GUNUNG RINJANI" yang merupakan gunung berapi tertinggi kedua setelah "GUNUNG KERINCI" di provinsi Jambi.

Jakarta, 31 Maret 2015

Kami memilih penerbangan malam menggunakan salah satu maskapai termurah yang ada di negeri tercinta ini,  maskapai yang hingga saat ini masih menyisakan beberapa masalah.
mungkin taring singa merah sedang copot saat itu sehingga keberangkatan kami harus melenceng dari rundown yang sudah aku persiapakan jauh hari sebelum keberangkatan.

Penerbangan kami di cancel tanpa adanya informasi sebelumnya, sementara penumpang lain sudah sejak jauh hari diinformasikan melalui e-mail (hal ini aku ketahui dari Ayunda Sartika, yang saat itu memiliki plan yang sama namun grup yang berbeda). Dan akhirnya kami pun beramai-ramai tidur di bandara.

Namun ternyata Tuhan selalu punya cara untuk membantu dan membenarkan jadwal yang telah aku susun sedemikian rupa tersebut, Tangannya ikut andil dalam memudahkan kami.
Kami bersyukur, dengan digantinya jadwal keberangkatan tersebut.
Pertama, kami mendapat reimbursment dari pihak maskapai terkait pembatalan sepihak yang tentu saja menambah pundi-pundi budget perjalanan kami.
Kedua, yang paling kami syukuri ternyata dengan perubahan jadwal tersebut perjalanan kami menjadi lebih efektif dan menyenangkan.

Tidak ada hal yang tidak menyenangkan apabila kamu menjalaninya bersama sahabat, karena semua kesedihan dan kekecewaan semua akan menjadi tawa...


Rabu, 1 Maret 2015

Tepat pukul 05.00 WIB pagi singa merah yang kami tumpangi lepas landas menuju bandara Internasional Praya Lombok.

Sekitar pukul 08.30 WITA (terdapat perbedaan waktu 1jam) kami sampai ke bandara int' Praya Lombok, setelah bersiap mengambil bagasi kami menuju mobil yang sudah dipersiapkan untuk mengantarkan kami ke Desa Sembalun, titik awal pendakian Gunung Rinjani.

Retribusi memasuki Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) per-3 hari adalah Rp. 15.000,- / orang dan diberikan Trash bag (kantong sampah) untuk tempat sampah selama kita berada di gunung. Kami hanya meminta beberapa saja karena kami juga membawa trash bag. Kami adalah pendaki-pendaki yang lebih baik memakan sampah daripada harus meninggalkan sampah. Kami bukan jenis pendaki "kekinian" yang naik gunung hanya karena saat ini aktivitas mendaki termasuk salah satu aktivitas "kekinian".
Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang paling kecil :)

Perjalanan dari bandara menuju Desa Sembalun membutuhkan waktu sekitar 3 jam, jalanan yang berkelok dan bukit barisan yang memanjang menjadi pemandangan indah di siang yang panas itu.
Sekitar pukul 12.30 WITA kami sampai ke kaki gunung, tempat kami akan memulai perjalanan panjang yang sangat melelahkan itu.

Kami memulai pendakian dari daerah yang bernama "bawak nao" yang ditandai oleh pohon enau.

Team kami terdiri dari enam orang yang terdiri dari Aku, Rahel, Barqoi, Albert, Brader Hantoro dan Om Dedit. Kami begitu beruntung, karena kami mendapat dua team tambahan penduduk asli Lombok kuncennya gunung Rinjani (tentang kuncen ini becanda, tapi memang mereka biasa open trip pendakian ke gunung indah ini) sebut saja mereka abang Tape' (pake e' bukan E) dan abang Awan.

Buat temen-temen yang butuh informasi atau guide mengunjungi gunung indah ini bisa hubungi mereka yak...
(bisa PM saya untuk kontaknya)

Setelah makan siang di kaki bawak nao dengan menu khas lombok "saur" seperti serundeng yang ternyata pedas sekali, kami memulai perjalanan menapaki keindahan Rinjani.

Trek landai mengawali perjalanan kali ini, dengan sisi kanan kiri pemandangan ladang warga. Berpindah lebih kedepan lagi kita akan disuguhi pemandangan indah yang begitu menyegarkan mata, Bentangan lembah savana luas menghijau merupakan pemandangan yang begitu mahal ditengah teriknya matahari yang berada tepat diatas kepala kami.
Walaupun bermandikan keringat kami tetap ceria menjalani tapak demi tapak tanah orang Sasak tersebut.

Dari bawak nao menuju pos satu kami membutuhkan waktu sekitar satu jam, pos satu sering disebut juga pos pemantauan, pos ini berada di ketinggian 1300 Mdpl.
Berjalan dari pos satu ke pos selanjutnya, terasa masih sama melelahkan karena panas matahari yang begitu terik membakar kulit. Ada beberapa jembatan yang dapat kita temui disini yang berdasarkan cerita bang Tape adalah jembatan yang dibangun pada saat kedatangan Presiden RI Ke-II bapak Soeharto yang pada akhirnya tidak berhasil menginjakkan kaki di puncak Dewi Anjani.

Kurang lebih berjalan selama satu jam, kami sampai di Pos dua yang biasanya disebut Pos Tengengean yang berada pada ketinggian 1500 Mdpl. Saya, Barqoi, Albert dan Bang Hantoro lebih dulu mencapai lokasi ini karena memang berjalan sedikit ngebut.
Trek awal pendakian melalui jalur Sembalun




Rahel dan Bang Tape di jalur awal, savana Rinjani

Perjalanan ke Pos tiga, kami lanjutkan bersama rekan kami lainnya. Trek yang kami lalui naik turun namun tidak terlalu menguras tenaga karena matahari sudah mulai bersahabat, tidak menusukkan teriknya lagi ke tubuh kami yang sudah mulai kelelahan.
Sebelum mencapai pos tiga, kita kan menemukan sebuah persimpangan jalan antara kedua bukit yang memisahkan bukit penyesalan dan jalur penderitaan (membayangkan namanya membuat sedikit down).
Akhirnya sekitar pukul 17.43 WITA kami sampai ke Pos 3 dan mendirikan tenda kami disana. pos 3 dikenal dengan nama Pos Pada Balong yang berada pada ketinggian sekitar 2000 Mdpl.
Kami mendirikan tenda tepat disamping atas aliran lahar kering gunung Rinjani.


Setelah makan malam seadanya kami beristirahat agar bangun dengan keadaan fresh esok harinya, berjalan menanjaki sembilan bukit lagi menuju Plawangan Sembalun, demi membayangkan sembilan bukit mataku langsung ingin terpejam saja  -___-

Kamis, 2 April 2015

Setelah sarapan pagi dengan menu beef burger ala ala, kami membongkar tenda dan packing bersiap melanjutkan perjalanan ke Plawangan Sembalun melewati Sembilan bukit yang jujur saja saat itu saya agak enggan membayangkan sembilan bukit ditengah terik matahari.
Sebelum memulai perjalanan kami berdoa kepada sang penguasa alam semesta agar perjalanan kami dimudahkan, setelah berpamitan kepada rekan pendaki lainnya kami berdelapan berangkat menuju tanjakan pertama.

Tanjakan demi tanjakan kami lalui, dengan nafas yang terengah-engah, peluh yang membanjiri tubuh dan matahari yang amat sangat terik kami lalui bersama terkadang dalam canda dan lebih sering dalam diam. Dan untuk perjalanan panjang kali ini kami sungguh berterima kasih kepada Nut** Sa** yang membantu kami menyegarkan kembali kerongkongan kering.

Perjalalanan menanjak melewati bukit demi bukit tersebut membutuhkan waktu sekitar 4 - 5 jam, kami terlalu asyik beristirahat di bawah pohon yang sedang memproduksi oksigen yang terasa sekali menyegarkan tubuh lelah kami.


Jalan menuju tanjakan yang entah keberapa






Satu dari sembilan bukit yang menajak

Sesampainya di Plawangan Sembalun kami segera mendirikan tenda, Aku yang kpaling cantiks diantara mereka^^ dan Rahel mendapat tugas mengambil air ke sumber mata air terdekat.
Ternyata, sumber mata air masih cukup jauh dari lokasi kami mendirikan tenda. Kami harus melewati dua bukit  kecil lagi -_-
Sesampainya di sumber mata air, rasanya ingin mandi saja menyegarkan tubuh yang lengket akibat peluh. air yang dingin seperti air es dan begitu menyegarkan membuatku ingin berlama-lama saja bermain disana.

Sekembalinya dari mengambil air, aku dan Rahel menyarankan untuk pindah lokasi saja ke dekat sumber air tersebut, teman -teman lainnya pun setuju namun kami harus menunggu sang kuncen terlebih dahulu. Kami membutuhkan Nasehat dari beliau, yap dia adalah abang TAPE.

Ternyata, abang Tape memang menyarankan untuk mendirikan tenda di lokasi yang dekat dengan air bukan dilokasi tempat kami mendirikan tenda saat itu.
Setelah makan, kami membereskan kembali tenda dan membagikan air yang kami ambil sebelumnya kepada pendaki yang kebetulan camp di daerah tersebut.

Kita kembali berjalan dengan energi yang sudah diperbarui dengan riang gembira selayaknya anak TK yang sedang berdarma wisata.

Sesampainya di lokasi tersebut, kami langsung mendirikan tenda kemudian berbondong menuju mata air untuk sekedar cuci muka, gosok gigi serta keramas^^
dari lokasi camp ini kita bisa menikmati indahnya danau Sagare Anak.

Plawangan sembalun, Barqoi dengan view Segare anak
Setelah  usai tertawa dan mengambil beberapa foto pemandangan segare anak, kami menuju pangkuan ibu pertiwi, tidur untuk menyiapkan fisik sebelum esok pagi summit ke pelukan dewi anjani yang kami rindukan selama ini.

Jum'at, 3 April 2015

Pukul 01.19 WITA setelah selesai sarapan, kami melangkahkan kaki menuju puncak Dewi Anjani. udara terasa begitu dingin, membuatku jadi sedikit malas untuk beranjak namun aku tau aku pasti akan berjalan karena itu tujuanku.

Pada awalnya aku berjalan di depan bersama rombongan cangcorang gengk kami, namun seiring waktu jalanku menjadi melambat. kembali kaki kiri ku kram, seperti yang terjadi saat aku summit di semeru September 2014 lalu.
Saat itu aku bersyukur ada bang Awan dan Om Dedit di belakangku, bang Awan segera membantu memijat dan menarik pergelangan kaki ku yang saat itu begitu ngilu.
Dibantu bang Awan, aku berjalan walau harus tertatih menerima uluran tangannya yang digunakan untuk menarikku.
Sempat terfikirkan untuk kembali turun kebawah, meringkuk dalam balutan sleeping bag saja. namun kemungkinan itu segera ku tepis karena aku tau aku pasti akan sangat menyesal nanti.

Setelah berjalan tidak begitu jauh, ternyata rombongan yang lain masih menunggu kami.
aku mendengar panggilan atas namaku, namun rasanya enggan sekali menjawabnya saat itu sehingga aku menjawab hanya dengan gumaman yang aku yakin tidak terdengar oleh mereka.

Setelah berhasil menuju mereka, kami berjalan bersama namun kali ini aku tetap saja menjadi si keong yang berjalan di belakang, tidak seperti biasanya aku selalu berusaha membuat aku tidak menjadi orang yang berada diposisi paling belakang.
Saat itu aku begitu menerima kodratku sebagai wanita yang seringkali dipandang lemah dan menyusahkan teman-teman  -_-
maafkan daku gengs :D

Berjalan Dua puluh langkah di medan berpasir dan aku berhenti hingga hitungan kesepuluh, begitu seterusnya yang aku lakukan, yang ada di kepala ku adalah move..move..move.. walau hanya sedikit demi sedikit. walau aku jauh tertinggal di belakang rombonganku.

Untuk membuat perjalanan agak sedikit tidak menyeramkan, aku mengikuti rombongan lain yang pada akhirnya aku tau mereka adalah rombongan trip dari "jalan-jalan terus", setelah berbincang sejenak dengan beberapa dari mereka aku berjalan kedepan lagi dengan lebih cepat karena jalanan didepan mataku saat itu adalah "bonus" pasir yang landai.

Ternyata tidak jauh dari sana beberapa dari rombonganku sedang beristrahat, aku tidak tau mereka benar sedang istirahat atau sedang menunggu aku yang lambat, but thanks to Allah segera aku merebahkan tubuh di samping mereka yang sedang duduk.

Hamparan langit dengan pemandangan bulan yang begitu terang dihiasi gemerlap gemintang seluruh bintang, di depanku jauh dibawah sana terbentang hamparan Danau Sagare anak yang elok, sungguh indah perjalanan panjang kali ini.
pemandangan bulan dan bintang terindah yang pernah aku saksikan, jauh menandingi indahnya ketika aku menatap mereka dari atas atap tempat tinggalku.
aku menatap bintang sama-sama dari atap, namun kali ini aku bukan memandang dari atap rumah melainkan dari atap Nusa Tenggara.
Yah aku memang wanita absurd, yang begitu cintanya pada milky ways sehingga rela berlama-lama merebahkan diri diatas genteng rumah demi memandang bintang hingga pernah di teriaki maling.

Setelah istirahat terasa cukup, kami kembali melanjutkan perjalanan namun kali ini aku tidak sendirian lagi.
Aku berjalan di belakang bersama Bojepit, Partner terbaik sepanjang perjalanan pendakian Rinjani kali ini.
Raja terimakasih buanyakkkkkkkkk banget udah nemenin dan bantuin diriku selama perjalanan menuju puncak Dewi Anjani. Udah nungguin walaupun berkali-kali aku suruh jalan duluan. udah nemenin aku lihatin milky ways.
melting like a chocolava dah...
karena baru kali ini diriku diperlakukan selayaknya wanita oleh kalian-kalian semuanya yang selalu nganggep aku proman-__-
*sampe airmata netes setitik waktu ngetik ini

Perjalanan yang kami lalui dengan trek berpasir yang cukup licin dan begitu panjang menguras tenaga, ditambah lagi dingin yang begitu luar biasa menusuk dan jurang di sebelah kanan dan kiri membuat kami berjalan tertatih dan hati-hati sekali namun langkah dan tujuan kami pasti. Puncak Dewi Anjani di atas sana.

Rombongan pertama yang terdiri dari minus Aku, Rahel dan Om Dedit sudah sampai lebih dahulu ke puncak dalam waktu 4 (Empat) jam saja, sementara Kami bertiga sampai dalam waktu sekitar 5 (Lima) jam.

Sesampainya di puncak anjani, seluruh letih dan lapar menghilang tidak tau kemana. Hanya perasaan haru dan bahagia yang membuncah dari dalam hati, mensyukuri hari dan kesempatan yang dihadiahkan Tuhan kepada kami.
Hari ini pada hari Jum'at 3 April 2015 kami telah berhasil mengalahkan ego kami di puncak Gunung berapi tertinggi kedua setelah kerinci di bumi seribu masjid, Lombok.

Saya, di pendakian kali ini yang paling cantikssss diatas ketinggian 3.726 Mdpl


Albert, Yang mengaku pria terganteng Nomor 8 versi On the Spot berada di ketinggian 3.726 Mdpl


Rahel, botak jelek sipit nyengir di ketinggian 3.726 Mdpl
Bang Hantoro, kemanapun dia pergi selalu dengan tulisan "Okezone" dan ID Card nya

Setelah puas dan antri berfoto di plang yang fenomenal itu, kami turun kembali menuju plawangan sembalun.
turunan kali ini tidak semudah dan secepat menuruni Mahameru, turunan kali ini begitu panjang, panas dan licin.
Beberapa dari kami sampai kewalahan dibuatnya.

Setelah berjalan cukup lama, aku tidak tau pasti berapa lama akhirnya kami sampai kembali ke Plawangan Sembalun. Menyiapkan makan siang untuk selanjutnya turun menuju danau indah bernama Segara Anak.

Perjalanan panjang menuju danau Segara anak membuat kami yang sudah kelelahan begitu kesal karena merasa tertipu oleh fatamorgana Segara anak yang terlihat dekat namun sangat jauh,
baru kali itu dalam perjalanan aku melihat abet mengeluh dan melenguh panjang.

Perjalanan turun yang ternyata harus menanjak, Segara Anak yang begitu menipu. Namun semua kelelahan itu terbayar lunas ketika kami sampai di Danau yang dingin itu.
Tanpa memperdulikan yang lainnya Ridwan dan bang awan mengambil joran dan memancing mencari ikan nya segara anak untuk kami santap ketika malam.

Sementara Aku dan Albert, memilih untuk memasak saja. Setelah yang lainnya tiba Teh manis hangat sudah tersedia dan mereka pun siap mendirikan tenda.
Setelah acara memancing selesai, aku pun siap mengolah ikan-ikan tersebut untuk menjadi santap malam kami.


Bang Tape dan ikan yang menjadi korban
Gaya om Dedit mancing di segara anak

Sabtu, 4 April 2015

Setelah sebelumnya mendirikan tenda di segara anak, kami bersiap untuk pulang melanjutkan perjalanan menuju desa Senaru. kami memilih berjalan pulang melewati desa Senaru yang terkenal dengan trek yang sangat panjang.

Sebelum berangkat, kami sarapan bersama dengan cara yang selalu aku suka, yang tidak akan pernah didapatkan di padat dan sibuknya aktivitas kota..

Sarapan pagi dengan nasi goreng buatan om Dedit di pinggir Danau Segara Anak

Sebelum memulai perjalanan pulang kami berfose bersama di pinggir danau Segara anak yang akan segera kami tinggalkan.
We're the champions

view segara anak ketika perjalanan pulang menuju Desa Senaru

Aku satu-satunya wanita dalam pendakian ini, oleh sebab itu aku menyebut diriku yang paling cantiksss bukan karena narsis aku sebut begitu namun memang itu kenyataannya. :D

Sampai jumpa di cerita berikutnya...

Jangan tanyakan berapa jauh lagi perjalananmu,
Jangan tanyakan pula kapan ujung perjalananmu,
Jangan tanyakan berapa lama lagi kamu akan melangkahkan kaki mu,
Abaikan saja letih lelahmu, 
Jangan terlalu larut dalam letihmu,
Jalani saja dengan doa dan harapan hingga akhirnya kau sampai kepada tujuanmu,
Percayalah proses tidak akan pernah mengkhianati hasil.


 ********
Berikut rundown perjalanan menuju puncak anjani kali ini, mungkin akan berguna bagi yang sedang mencari referensi.

1 April 2015
05.00 WIB  flight to Lombok
08.30 WITA sampai di bandara int'lombok praya
13.00 Sampai di bawak nao
14.00 Mulai pendakian
18.00 Sampai di pos 3, mendirikan tenda dan makan

2 April 2015
07.30 Sarapan dan beres-beres
09.00 Berangkat menuju plawangan sembalun
14.00 Sampai di Plawangan Sembalun
15.00 Menirikan tenda, acara bebas

3 April 2015
01.30 Summit attack
06.00 Sampai puncak
07.30 Turun menuju plawangan sembalun
09.00 Sampe basecamp 
15.00 Turun ke segare anak
18.00 Sampai di segara anak, beres-beres dan istirahat

4 April 2015
11.00 Menuju Plawangan Senaru
15.00 Sampai Plawangan Senaru (banyak istirahat)
23.00 Sampai di desa Senaru

*********
BUDGET

Rp. 500.000,- / Orang x 6                                                       = Rp. 3.000.000,-

* Biaya transportasi travel Bandara - Sembalun                 = Rp. 500.000,-
* Logistik + gas + spiritus                                                      = Rp. 500.000,-
* Biaya simaksi 6 x @15.000,-                                              = Rp. 90.000,-
* Makan di nao untuk 8 orang                                              = Rp. 160.000,-
* Makan malam dan sarapan di senaru                              = Rp. 350.000,-
* Transportasi senaru -keliling lombok full day                 = Rp. 750.000,-
* Tiket penyebrangan PP Gili trawangan                             =  Rp. 210.000,-

Jumat, 06 Maret 2015

Posted by nevayana surbakti in | 21.16 No comments
Sepertinya aku terlampau mencintai 2.821Mdpl...


Sebelumnya aku sudah pernah bermain bersama hutan, tanah dan hujannya 2.821 Mdpl yang sangat gagah ini, sekitar Desember 2014 lalu aku sudah mengunjunginya sebagai kunjungan teman baru bersama dua Playmates ku Bang Hantoro yang ngakunya sebagai pendaki oriental terganteng nomor wahid dan Asop si kokoh-kohoh sipit yang ngaku dia "kiranti" dan ngatain aku "proman -_-"

pertama kali bermain di ketinggian 2.821 ini kami bertiga melewati jalur Bayongbong yang terkenal panjang dan terjal itu.
Jumat malam kami bertiga disisipkan di truk pak Yudi yang mengangkut pendaki-pendaki lain yang ingin menapaki keindahan dan ketangguhan cikuray via jalur Bayongbong.

aku lupa saat itu pukul berapa, kami sampai di desa yang menjadi tempat bersiap-siap apabila ingin melewati jaliur panjang bayongbong. setelah menyiapkan perbekalan air yang cukup dan nasi bungkus (beli di warung ibu pendaki), kami bersama rombongan lainnya diantarkan menuju kaki gunung menggunakan angkot oleh pak Yudi.

saat itu, aku mulai merasa takut jika kami tidak mendapat tempat untuk mendirikan tenda karena cikuray terkenal dengan keramaiannya, ada 3 jalur apabila anda ingin menuju cikuray dan yang paling banyak diminati adalah Jalur Pemacar. untuk jalur bayongbong dan cikajang sendiri sangat sepi peminat karena memang jalur ini terlalu panjang dan melelahkan.

saat itu aku mulai khawatir berlebihan, karena melihat rombongan yang lainnya seperti rombongan "cangcorang" berkaki panjang, pasti mereka akan berjalan sangat cepat fikirku saat itu.
iseng aku pun menyeletuk " bang, ntar kalo pada sampe puncak ambilin lapak buat kita ya, buat diriin tenda" begitu kataku pada rombongan  lainnya karena takut tidak kebagian tempat untuk camp ( terpengaruh dari omongan bang kirno, yang pernah ga dapet tempat camp).

Namun ternyata, dengan gaya berjalan santai ala kami bertiga, kami masih yang terdepan dan memimpin perjalanan.


28  Februari 2015..

aku kembali mengunjungi "teman" yang sudah kukenal sebelumnya ini namun tidak bersama Duo kokoh sipit playmates sebelumnya tapi  bersama Rara and the gengs, Albert, bang Hadi dan Mba Erika. kali ini melalui Jalur pemancar yang ramainya seperti pasar, tidak seperti bayongbong yang sepi seperti kuburan.

Aku, Abet, Bang hadi, mba Erika dan Ari menjadi tim advance yang ditugaskan berjalan paling depan untuk mencari lokasi Camp. Ya, kami para pejalan yang tidak terbiasa berjalan santai ditugaskan menjadi para pencari lapak.

Pukul 09.17 kami memulai perjalanan via pemancar, trek diawali oleh jalan yang menanjak dan licin melewati perkebunan teh yang hijau menyegarkan mata yang lelah.
aku berjalan dengan santai, menikmti pemandangan yang ditawarkan bumi dan langit pertiwi yang indah.
cukup melelahkan hingga akhirnya kami sampai ke pos pendataan, disini kami harus menunggu rombongan yang lainnya karena kami tidak bisa berangkat sebelum semua anggota kelompok kami berkumpul.
Di pos pendaftaran inilah tempat terakhir kita bisa menemukan mata air, jadi silahkan isi air disini apabila perbekalan air dirasa masih kurang. Berbeda dengan Bayongbong, sumber air terakhir berada di Pos dua yang sering juga dijadikan tempat untuk memasak oleh para pendaki yang kelaparan.

setelah semua anggota lengkap, kami berlima berjalan kembali melewati perkebunan warga. saat itu sangat ramai, mungkin karena dua gunung favorit lainnya di Garut yaitu gunung  Guntur dan papandayan sedang tutup sehingga banyak pendaki yang pergi ke Cikuray.

Setelah berdiskusi sedikit disela istirahat pendek, kami berencana untuk berjalan cepat memotong perjalan pendaki lain yang saat itu sangat ramai karena terasa sangat menghambat tugas kami untuk mencari lapak, yaa kami bertanggungjawab atas tugas yang kami emban.

kami berjalan cepat secepat - cepatnya, karena kami takut tidak mendapat tempat lagi di sekitar puncak untuk mendirikan tenda bagi kelompok kami. saat letih mulai merajai, perut lapar karena sebelumnya tidak diisi oleh nasi tidak menjadi penghalang bagi kami untuk terus melangkahkan kaki.
kami terus berjalan menyusuri hutan yang dingin, tanah yang becek karena memang menurut penuturan warga sudah beberapa hari terakhir Cikuray dilanda hujan lebat.

tidak terkecuali kami, ketika kami sampai di Pos tiga (3) hujan menghampiri cukup lebat, cukup membuat carrier Rahel yang digunakan Abet saat itu kotor, basah dan iuyyyy...
kami berempat, Aku, Abet, bang Hadi dan mba Erika memilih untuk berteduh sejenak menunggu hujan sedikit reda sambil menunggu Ari yang tidak tau ada dimana rimbanya.

ahhh, aku sangat menyukai gunung ini. menyukai treknya yang begitu menantang, licin dan begitu menanjak tanpa ada "BONUS" , bonus sekitar 10 Meter hanya dapat ditemui di Pos Enam (6).

tanjakan demi tanjakan kami lalui mulai dari tanjakan cihuii yang benar-benar cihuii, tanjakan wakwao, tanjakan setan dan ntah tanjakan apalagi. Gunung gagah dan indah  yang penuh dengan turunan yang tertunda!!!!

setelah lebih kurang satu jam berteduh kami memutuskan berjalan lagi, takut tugas yang kami emban tidak diselesaikan dengan baik.

sebelumnya, pada saat kami berteduh, kak Aris menginformasikan bahwa dia menjadi tim advance menggantikan Ari yang katanya saat itu sakit perut.

perjalan dari pos 3 menuju pos 4 kami jalani dengan cepat karena  takut tidak mendapat lapak -_- kami hanya berhenti sesekali untuk  membasahi kerongkongan yang kering kemudian berjalan dan berjalan lagi.

dari pos 4 menuju pos 5 kami jalani tanpa istirahat juga, hanya sekedar berhenti untuk minum saja karena memang saat itu masih hujan. Basah karena hujan, dingin, lapar dan beceknya jalan tidak kami jadikan penghambat  perjalanan kami.

setelah melewati pos 6 kami juga tetap berjalan, dan berhenti istirahat sejenak di tempat yang pernah dijadikan lokasi camp oleh Albert, Rahel, Mba hani dll. sempat terfikirkan untuk mendirikan tenda disana, namun kami tidak jadi mendirikan tenda disana dan memilih untuk tetap berjalan menuju lokasi camp yang paling dekat dengan ketinggian 2,821 Mdpl

akhirnya sekitar pukul 15,19 kami sampai di lokasi camp dan mendirikan tenda disana, Albert, aku dan mba erika lebih dahulu sampai ke lokasi camp. Bang hadi kami tinggalkan di belakang karena dia kelelahan dan ingin kami berjalan duluan mencari lokasi.

tidak lama berselang, saat aku dan albert sedang sibuk mendirikan tenda bang Hadi akhirnya sampai dan langsung bergabung dengan kami mendirikan tenda.

setelah tenda terpancang, dan kami sudah berganti pakaian dengan pakaian yang masih kering, kami kemudian langsung memasak untuk mengisi lambung yang tengah kelaparan dimana para cacing sudah memberontak ingin minta makan.

setelah kami selesai mengisi lambung, kak Aris datang menyusul yang langsung kami sambut dengan segelah teh pahit panas. Setelah kak aris siap mengisi lambungnya, di bantu bang Hadi mereka mendirikan tenda untuk beberapa rombongan yang akan menyusul nantinya.

tidak lama berselang Ari sampai, sekitar pukul 17 lebih saat itu, dan dia menceracau tak jelas..
yah sudahlah, mungkin dia lelah saat itu.

setelah makan, minum kami memutuskan untuk istirahat meluruskan kaki yang letih karena menapaki ciptaan tuhan yang sangat indah ini.
 selepas maghrib Rara dan Nugi menyusul kami, rombongan kami lainnya memilih mendirikan tenda di pos 6.


1 Maret 2015

selamat pagi Indonesia dari ketinggian 2.821 Mdpl, Matahari paginya begitu indah dengan lautan awannya yang seperti marsmellow indah itu..
Maret ku kali ini diawali dengan keindahan paripurna yang menunjukkan kebesaran Tuhan.

Terima kasih Tuhan, Terima kasih sahabat, Terima kasih Cikuray

DAMN !!!!!
I LOVE INDONESIA

Merah Putih di 2.821Mdpl



Marsmellow 


































Jumat, 20 Februari 2015

Posted by nevayana surbakti in | 20.54 No comments
BANDUNG......
tempat ini sungguh indah
sepertinya Tuhan sedang bahagia ketika menciptakan Bandung



19 Februari 2014....

tebing keraton merupakan salah satu tebing yang berada dalam gugusan taman hutan raya, tebing ini berada di desa Ciharegem.
tempat ini begitu sejuk hijau dan indah..

bentangan permadani hijaunya cukup membuat mataku yang letih karena sehari-hari duduk di depan monitor komputer kembali segar.

pada tanggal 19 februari 2015 yang bertepatan pada perayaan imlek aku bersama gengs kacrut Rahel, ridwan, albert dan bang hantoro  mengunjungi tebing yang punya pemandangan hutan pinus yang sangat sejuk ini.

perjalanan dari Kota Jakarta kami mulai pada pukul 05.00 pagi, meleset dari rencana awal lagi-lagi karena abet tidurnya kaya kebo -_-
(sebelumnya kami sudah punya planning ke tebing keraton, tapi karena abet ga bs dibangunin akhirnya batal, well harus batal karena kita pake kendraan abet).

perjalanan terasa begitu lancar tidak ada kemacetan, kebisingan seperti yang sehari-hari aku hadapi di Jakarta yang indah namun sesak ini.

sekitar pukul 08.17 kami sampai ke lokasi, aku lupa nama lokasi itu tapi disana banyak sekaliiii penjual makanan dan darisana lah titik awal perjalanan menuju tebing keraton.
Dan ciee Ridwan, ditaksir sama tante-tante genit yang warungnya kami pilih untuk menyediakan makanan bagi perut-perut lapar kami.


sekitar pukul 08.50 kami beranjak dan bersiap naik menuju tebing keraton, berdasarkan informasi dari warga sekitar, dari tempat kami makan tersebut jarak ke tebing keraton sekitar 3 KM.

bagi yang tidak terbiasa jalan kaki, anda dapat menggunakan OJEK dengan harga yang dipatok sangat murah menurut kami.

ketika kami berjalan, para tukang ojek menyerbu kami menawarkan jasa. Bukan kami tidak ingin membantu mereka mencari nafkah, namun bagi para pejalan seperti kami 3 KM bukan jarak yang jauh, dan lagi kami juga ingin menikmati berjalan diantara pohon-pohon, pemandangan kebun warga dan yang paling penting kami ingin berjalan bersama-sama.
that's it.

setelah berjalan sekitar 30 menit kami pun sampai ke pintu masuk tebing keraton, disini kita harus membayar retribusi sebesar Rp. 11.000,- untuk wisatawan domestik dan Rp. 76.000,- untuk wisatawan mancanegara.

akhirnyaaa, kami bisa memanjakan mata kami yang selalu haus akan keindahan ini di sana, di sela liburan singkat kami..
pemandangan hutan pinus yang hijau cerah dan segar sungguh memanjakan kami.

berdiri diatas jurang-jurang tebing keraton, bercengkrama dengan alam, menikmati pemandangan yang indah bersama sahabat-sahabat terkasih adalah salah satu anugerah terindah dari tuhan yang harus aku syukuri.


pemandangan yang indah, saya juga indah :D

Tuhan ciptaan mu begitu luar biasa indah, 
Terima kasih tuhan atas setiap kesempatan 
Terima kasih tuhan telah mengirimkan sahabat- sahabat yang begituuuu aku kasihi

para pecandu ketinggian




Thanks gengs for this simply crazy trip.
Trip penuh tawa, canda dan gila
C U next trip!!!!!










Search

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter