Now I see the secret of making the best person, its grow in the air and to eat and sleep with the earth -Soe Hok Gie-

Rabu, 29 Oktober 2014

Posted by nevayana surbakti in | 21.04 5 comments
"Bang.... beli bawang
beli bawang ga pake kulit"
*sing...


Itu dia cuplikan lagu yang terus bikin kita semua ketawa ngilangin cape selama perjalanan menuju kandang dini, eh kandang badak dink...

Setelah melakukan perjalanan ke Semeru tempo hari, geng asem ternyata jadi summit addict, semua kecanduan ketinggian -_-.

Singkat cerita, kita buat plan buat "naik" bareng-bareng lagi dan terpilih Gunung Pangrango yang bakalan jadi sasaran kita buat tempat bermalam minggu ria berikutnya. Udah lama sih sebenernya aku pengen ke Pangrango, Pengen nyepi di Mandalawangi nya yang damai dingin dan sepi.

Finally, kami berangkat tanggal 17 malem dari terminal Kampung Rambutan. Selain geng Asem ternyata ada beberapa tambahan personil lain yang juga ikut trip bareng kita, mereka temen-temen bangkir dan Rahel.
Dari geng asem sendiri yang ikut berpartisipasi ada aku, Awal, Dini, Hani, Bangkir, Bang Hantoro, Bangken, Asop, Rahel,Bang Hadi dan Babe Yaseen. sedangkan personil tambahan ada bang Rizal, bang Jefri, bang Ojan, bang Andi dan Ridwan.

Sekitar pukul 02.00 pagi kami sampai di Cibodas, kemudian kami melakukan perjalanan menggunakan angkot ke base camp yang disebut "warung bule". disana kami istirahat dan bersiap-siap melanjutkan perjalanan menuju camp kandang badak (baca : Dini).

Sekitar pukul 05.00 pagi kami mulai melakukan perjalanan ke camp kandang badak via cibodas, udara pagi itu terasa sangat dingin namun begitu segar, sudah lama aku tidak menghirup udara sesegar itu. sejak kepindahanku ke Ibukota aku telah terlalu banyak menghirup udara kotor kota dan memakan makanan yang banyak sekali mengandung racun sehingga membuat ingatanku sedikit melemah. *dihh apaan

Trek yang kami lalui cukup menanjak, namun udara pagi terasa begitu segar sehingga membuat perjalanan menjadi lebih enak.

Disepanjang perjalanan aku dan teman-teman berpapasan dengan para pendaki lain yang memang sangat banyak, tidak mengherankan jika banyak orang berbondong-bondong untuk berakhir pekan di gunung gede pangrango, selain karena memang alamnya yang begitu indah lokasinya juga tidak terlalu jauh dari ibukota sehingga gede pangrango menjadi salah satu sasaran untuk menghilangkan penat.

Aku bersama Awal dan Rahel berjalan bersama saling susul menyusul hingga akhirnya kami terlena di perjalanan, kami pun tertidur tidak jauh dari pos kandang badak tempat yang kami rencanakan untuk istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Mandalawangi, saat itu rencana kami adalah menginap di camp Mandalawangi sambil memandang bintang. ahhh... pasti malam itu akan menjadi malam minggu yang sangat indah jika saja kami jadi camp di lembah kasih tersebut.

Kami bertiga dibangunkan oleh suara jepretan dan lampu blitz dari kamera Bang Hantoro, kami sontak terbangun dari tidur dan bang Hantoro tertawa, dalam hati aku membatin "siap-siap saja akan ada foto memalukan kami yang sedang tidur di posting di grup WA".

Kemudian kami kembali melanjutkan perjalanan menuju kandang Dini, sekitar 15 menit perjalanan dari lokasi tidur kami tadi, disana sudah ada bang Rizal dan Ridwan yang menunggu kami.
"kenapa kalian sangat lama" ujar Ridwan, tadinya kami berjalan tidak jauh dari Ridwan namun ternyata kami terlena dengan segarnya udara yang tengah memproduksi oksigen secara besar-besaran.

Kami istrahat berselonjor di kandang badak *bukan deh kandang dini ini mah..
tidak lama berselang, teman-teman yang lain pun menyusul kami ke camp tersebut sambil menyanyikan jingle xpedisi kali ini "bang...... beli bawang, beli bawang ga pake kulit"

Setelah berembuk kami sepakat untuk camp di kandang badak, bukan di mandalawangi karena saat itu mandalawangi sedang kekeringan air. abang-abang raksasa kami sebut saja mereka mawar hitam, eh bukan tapi bang rizal, bang ojan, bang jefri dan raksasa tapi cilik bangkir mendirikan tenda sementara kami menunggu.

Setelah tenda terpancang dengan gagah, kami main masak-masakan..
seperti kembali ke masa kecil, masa dimana aku pernah dipukul ibu ku ketika bermain masak-masakan dengan temanku karena mengambil, bawang, cabai, telur, minyak tanah dan berasnya dari dapur untuk kujadikan bahan mainan. sebenarnya bukan karena hal itu aku dimarahi olehnya, tetapi karena saat itu aku masih terlalu kecil untuk bermain api (api beneran bukan api-apian) yang akhirnya membuat poni selamat datangku habis separuh terbakar dan hidungku menjadi terluka yang bekasnya kubawa hingga saat ini.

Menu siang itu adalah indomie dan mie goreng ala acakadut, mie gorengnya dibuat olehku, Asop dan Dini (Baca : Badak). aku mengajak Dini hanya karena  aku takut Dini cemburu karena aku masak bersama Asop pujaan hatinya.
*ampun Din....


Edisi bosan hidup di kota

Selesai masak dan istrahat sejenak, Beberapa pria-pria kece di kelompok kami berencana untuk summit ke puncak Gede, Sebagai Wanita kece juga aku sangat ingin ikut tapi pada saat itu tandem ku si Awal tidak bersedia ikut.
Tapi akhirnya aku tetap ikut setelah sedikit membujuk Mb. Hani dan dia mau dongsss....

Akhirnya aku, Mb hani, Bangkir, Rahel, Ridwan, Bang Rizal, Bang Jepri, Bang Hantoro, Bang Hadi dan Bang Ojan melakukan perjalanan menuju gunung gede. Perjalanan sangat melelahkan, terlebih lagi saat itu dingin dan kabut begitu tebal. Namun letih dan dingin itu tidak bisa menghalangi jiwa kami yang haus akan kepuasaan berpijak di atas ketinggian. *mulaiiiii lebay

Setelah berjalan sekitar dua jam lebih kami pun sampai di puncak Gede (belum puncak sih kataku), saat itu bang Rizal menyalami dan mengucapkan kata selamat karena aku sudah berhasil sampai di puncak,tapi setelah di ucapin selamat dia tambahin lagi kata "puncaknya ada disana sih" katanya sambil menunjuk tempat yang masih cukup jauh. *yaelah.. Dan akupun melanjutkan perjalanan sendirian di bawah gerimis ke tempat berkabut tebal yang ditunjuk oleh bang Rizal. Di belakangku menyusul bang Hantoro dan Bang Hadi.
Saat itu cha-cha yang ada di kantong parka ku terasa sangat nikmat sekali, bisa menambah tenaga dan menghangatkan suhu tubuh.

2.958Mdpl, Puncak Gede gengs


Kemudian  kami sampai di puncak gunung gede yang sebenarnya, saat itu Rahel datang menyusul kami karena ada sesuatu hal terjadi pada Mba Hani, belum puas menikmati dinginnya puncak kami kemudian turun menuju tempat Mba Hani yang sedang kedinginan. Ternyata Mba Hani yang punya semangat tinggi itu hampir saja mengalami Hipotermia karena jaket yang ia kenakan cukup basah. Untung saja para abang-abang kami yang banyak sekali itu sangat sigap. Terimakasih banyak buat hiker yang saat itu bersedia memberikan tumpangan tenda untuk saudari kami yang sedang sakit.
setelah Mba Hani merasa lebih baik, kami bersiap-siap turun menuju camp di kandang badak. sekitar satu jam lebih perjalanan akhirnya kami sampai dan Mba Hani langsung di ungsikan ke dalam tenda *dih istilahnya...

Malam minggu kali itu kami habiskan dengan memasak makan malam bersama sambil bersenda gurau di tengah hawa yang dingin dan malam yang pekat.
*what a wonderfull saturday night gengs!!!!


Minggu 06.00

Kami bersiap melakukan summit ke gunung pangrango, tempat yang kami rencanakan sebelumnya untuk di jelajahi bersama. Setelah berdoa kami mulai melangkah kan kaki kami menuju ketinggian 3.019Mdpl tersebut..

Ahhhh, akhirnya aku akan ke Mandalawangi juga...
tempat yang sudah lama sekali aku ingin kunjungi sejak pertama kali aku membaca puisi-puisi Soe Hok Gie...

Dalam pendakian ini Asop ga ikut dengan alasan dia ikut hanya untuk menjaga ketiga gadis gerbong 4 sampe kandang badak. Sedangkan Bang Hadi ga ikut karena sakit, siapa suruh ya tidur pake kemeja basah. Kalo Bangkir, kenapa ya.... coba tayakan saja pada Mba Hani.

Perjalanan terasa cukup melelahkan namun mata ku dimanja oleh pemandangan indah yang tidak akan bisa aku dapatkan di padat dan bising nya Jakarta. Kami terus berjalan melawan ego dan lelahnya tubuh serta dehidrasi yang tengah melanda.

Akhirnya setelah berjalan sekitar 3 jam kami sampai di puncak pangrango, biasa saja puncaknya...
tidak ada yang istimewa menurutku tapi tetap saja aku bahagia karena akhirnya kembali bisa mengalahkan ego ku di puncak Pangrango, tempat yang sejak dulu aku ingin juga datangi selain Mahameru.

3.019Mdpl, Mt. Pangrango Gengs


Setelah berfoto kami melanjutkan perjalanan ke Mandalawangi, tidak jauh dari puncak Pangrango, disanalah kutemukan candu itu, disana pula kutemukan sepercik kedamaian. Hatiku menjadi begitu tenang, begitu damai....
Hamparan padang edelweiss yang anggun..


Disini damai itu bersembunyi


Edelweiss Mandalawangi

Seketika aku jatuh cinta pada Mandalawangi, aku bisa menghirup udaranya yang segar menyatu dengan kabut tipisnya yang dingin. Mencium aroma edelweiss yang malu-malu mengoarkan aroma memikatnya. Aku tidak tahu apa alasan Soe Hok Gie begitu mencintai tempat ini, Namun aku temukan alasan kenapa aku bisa sangat cepat mencintai tempat ini.
Ya, tempat ini penuh kedamaian.....
Aku pasti akan kembali ke tempat ini lagi, pasti akan kembali lagi...

Mandalawangi, Pangrango

Aku pernah membaca sebuah kutipan di novel "Kisah langit merah, Keberanian untuk terus melangkah" kira-kira begini isi kutipannya,

"Petualangan adalah candu, sekali kau mulai, bahkan dirimu sendiri tak bisa menghentikan hasrat bertualangmu. Jika kamu membenci kegelisahan dan menyukai hidup yang tenang, jangan pernah memulai petualanganmu karena petualangan adalah sarang kegelisahan yang sengaja kau cari"


Petualangan bukanlah sekedar pergi dari satu tempat ke tempat lain, mengunjungi tempat-tempat jauh dan menyaksikan hal-hal baru. Petualangan bukan hanya sekedar mengajak derap langkahmu menuju tempat-tempat asing yang kau idamkan. "Petualangan adalah pergi tanpa titik tujuan, membiarkan dirimu tersesat, mencari dan memilih, dan kamu tak tahu kapan harus pulang".


Aku rasa kata-kata itu memang benar...

Terimakasih tuhan, kau takdirkan aku terlahir di surga kecil Heavenesia ini...
Terimakasih tuhan diantara bermilyar manusia, aku kau jadikan salah satu orang yang bisa melihat, menikmati dan merasakan masterpiece mu...
Kau tunjukkan padaku mengenai eksistensimu...


Dan sayangku...

Inilah aku dengan kesenanganku,
Dengan hobbi ku yang  selalu akan membuat mu mengkhawatirkanku,
Yang akan selalu membuatmu marah dan kesal,
Masih kah kau mau menerima apa adanya aku????


Dan sahabat-sahabat ku, terimakasih karena telah menjadi bagian dari hidupku..
Menjadi keluarga baru ku di sini, di Jakarta yang "keras" jika kita "lembek" ini...
Terimakasih....








5 komentar:

  1. Keren mbah....emang bener2 damai Lembah Kasih ny :)

    BalasHapus
  2. Wau seru. Dulu juga sering naik gunung gede pangrango. Mau jalur cibodas pernah putri juga pernah. Semenjak nikah dan pindah ke Amerika Selatan jadi ga pernah naik gunung. Kangen suasananya euy. Indahnya Indonesia. Semoga segera bisa nikmatin lagi. Aamiin.

    BalasHapus

Search

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter